Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Kenapa Jakarta Krisis Ojol Viral di Sosial Media? Penumpang Diduga Susah Dapat Driver, Ternyata Ini Penyebabnya

Didi Agung Eko Purnomo • Rabu, 11 Maret 2026 | 20:14 WIB

Ilustrasi Ojol.
Ilustrasi Ojol.

SOLOBALAPAN, SURAKARTA - Jagat media sosial X (sebelumnya Twitter) tengah ramai dengan perbincangan hangat mengenai fenomena "Krisis Ojol" yang dikeluhkan oleh banyak pengguna jasa transportasi online.

Isu ini mencuat setelah sejumlah warganet membagikan pengalaman pahit mereka, mulai dari sulitnya mendapatkan pengemudi hingga tarif yang dirasa tidak masuk akal bagi para mitra.

Fenomena ini memicu perdebatan luas mengenai kesehatan ekosistem transportasi daring di Indonesia saat ini.

Ketidakseimbangan antara beban kerja pengemudi dengan potongan yang diambil oleh pihak aplikator disinyalir menjadi akar permasalahan yang membuat layanan ini terasa semakin menurun kualitasnya di mata pelanggan setia.

Baca Juga: Viral Driver Ojol Tolak Siswi SMP karena 'Big Size', Tertawa Sambil Rekam Wajah Korban!

Keluhan Potongan Tarif yang Mencekik Driver

Salah satu poin utama yang memicu viralnya isu ini adalah besarnya potongan tarif yang dibebankan kepada para pengemudi.

Dalam sebuah unggahan yang menarik perhatian ribuan netizen, dicontohkan perjalanan layanan GrabCar dari Cileungsi menuju BSD dengan biaya penumpang mencapai Rp158 ribu.

Ironisnya, pengemudi dilaporkan hanya menerima pendapatan bersih sekitar Rp100 ribu hingga Rp106 ribu saja setelah dipotong sistem.

Selisih yang mencapai lebih dari 30 persen tersebut dinilai sangat memberatkan para mitra pengemudi, terutama di tengah kenaikan biaya operasional seperti bahan bakar dan perawatan kendaraan.

Kondisi ini membuat banyak driver mulai bersikap selektif dalam mengambil pesanan, yang pada akhirnya berdampak langsung pada konsumen karena pesanan mereka sering kali diabaikan atau dibatalkan sepihak oleh pengemudi yang merasa tidak diuntungkan.

Sistem Aplikasi yang Dinilai Tidak Efisien

Selain masalah tarif, para pengguna dan pengemudi juga menyoroti kejanggalan pada algoritma sistem aplikasi saat ini.

Banyak laporan yang menyebutkan bahwa koordinasi antara lokasi penjemputan dengan keberadaan driver sering kali tidak akurat.

Sebagai contoh, ada kasus di mana pesanan makanan dengan jarak tempuh hanya 1,5 kilometer, justru dilemparkan ke pengemudi yang posisinya berada lebih dari 5 kilometer dari lokasi resto.

Hal ini tentu saja menciptakan inefisiensi waktu yang luar biasa, baik bagi driver yang harus menempuh jarak jauh tanpa bayaran tambahan, maupun bagi pelanggan yang harus menunggu pesanan lebih lama dari biasanya.

Masalah sistemik ini dianggap sebagai kegagalan aplikasi dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada, sehingga memicu rasa frustrasi di kedua belah pihak yang saling bergantung dalam ekosistem tersebut.

Dampak Nyata Bagi Penumpang dan Pengguna Jasa

Rentetan masalah internal antara aplikator dan pengemudi ini akhirnya bermuara pada buruknya pengalaman pengguna layanan.

Baca Juga: Kabar Gembira! Menaker Yassierli Isyaratkan Bonus Lebaran Alias BHR Ojol Cair Bareng THR Pekerja

Belakangan ini, banyak pelanggan yang mengaku harus menunggu hingga puluhan menit hanya untuk mendapatkan satu driver, atau bahkan mendapati pesanan mereka dibatalkan berkali-kali.

Hilangnya kenyamanan dan kepastian layanan ini membuat istilah "Krisis Ojol" semakin relevan di mata publik.

Warganet berharap ada evaluasi menyeluruh dari perusahaan aplikasi dan campur tangan pemerintah sebagai regulator untuk membenahi struktur tarif dan sistem kerja ojek online.

Jika tidak segera dibenahi, dikhawatirkan ekosistem transportasi online yang selama ini menjadi andalan mobilitas masyarakat akan terus ditinggalkan karena dianggap tidak lagi memberikan solusi yang saling menguntungkan bagi semua pihak. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#viral #driver #penyebab #Jakarta Krisis Ojol #penumpang