Sebelum Merah Putih One for All, Indonesia Sudah Punya Si Huma Sejak 1983

SOLOBALAPAN.COM – Sebelum anak-anak Indonesia mengenal animasi 3D dengan gambar serba digital, layar TVRI ternyata sudah pernah menghadirkan serial animasi buatan dalam negeri. Namanya Si Huma.
Serial yang tayang pertama kali pada 30 Maret 1983 ini mungkin terdengar asing bagi generasi sekarang. Padahal, Si Huma tercatat sebagai salah satu tonggak awal animasi Indonesia dan sudah membawa cerita tentang kehidupan anak, lingkungan, hingga persoalan sosial lebih dari 40 tahun lalu.
Menariknya, nama Si Huma kembali diperbincangkan ketika publik pada 2025 ramai membahas film animasi Merah Putih One for All. Film tersebut diketahui mengangkat cerita delapan anak dari berbagai suku yang berusaha menemukan bendera Merah Putih yang hilang.
Baca Juga: 5 Superfood Indonesia yang Diakui Dunia, Sering Dikonsumsi tapi Jarang Disadari
Di tengah perdebatan mengenai film animasi tersebut, Si Huma justru mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki pengalaman membuat animasi untuk anak sejak era 1980-an.
Si Huma Bukan Sekadar Kartun Anak
Si Huma diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN) dengan dukungan UNICEF dan ditayangkan melalui TVRI pada 1983 hingga 1984. Tokoh utamanya adalah Huma, seorang anak yang memiliki teman imajinatif bernama Windi.
Keduanya menjelajahi dunia fantasi dan bertemu dengan berbagai karakter. Namun, petualangan tersebut tidak hanya dibuat untuk menghibur.
Salah satu episode yang tercatat dalam arsip ANRI berjudul “Tamak”. Dalam episode itu, Huma dan Windi bertemu dengan tokoh Si Hidung Panjang yang terlalu rakus ketika menemukan makanan. Ceritanya kemudian berujung pada konsekuensi dari sifat tamak tersebut.
Ada pula episode “Embun” yang mengangkat persoalan kebersihan lingkungan dan pencemaran air. Pesan mengenai kesehatan, kebersihan, serta kepedulian terhadap lingkungan disampaikan melalui petualangan Huma dan Windi.
Jadi, kalau sekarang kita mengenal animasi anak yang menyelipkan pelajaran dari cerita sehari-hari, konsep seperti itu sebenarnya bukan hal baru di Indonesia.
Dibuat Manual, Satu Episode Bisa Berhari-hari
Yang membuat produksi Si Huma semakin menarik adalah teknologi yang tersedia pada masa itu.



