Petulo, Jajanan Tradisional Berbentuk Mi yang Manis dan Kenyal

Adi Pras • Dipublikasikan Jumat, 30 Oktober 2026 | 17:29 WIB
Petulo, Jajanan tradisional pasar berbentuk seperti mie(instagram @rondut).
Petulo, Jajanan tradisional pasar berbentuk seperti mie. (IG @rondut)

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah beragam jajanan modern yang terus bermunculan, kuliner tradisional tetap memiliki daya tarik tersendiri.

Salah satunya adalah petulo, jajanan pasar yang memiliki bentuk unik menyerupai mi atau gulungan kecil berwarna-warni.

Teksturnya lembut dan kenyal, dengan cita rasa manis serta gurih yang berasal dari perpaduan santan dan gula merah.

Petulo merupakan salah satu jajanan tradisional yang dikenal di sejumlah daerah di Indonesia, terutama Jawa Timur.

Baca Juga: Tak Hanya Alat Musik, Kecapi Ternyata Juga Nama Buah Tradisional yang Mulai Terlupakan

Kudapan ini kerap dijumpai di pasar tradisional maupun penjual jajanan pasar, berdampingan dengan aneka penganan seperti cenil, lupis, dan klepon.

Keunikan petulo terletak pada bentuknya yang menyerupai mi pendek yang digulung atau ditumpuk.

Adonan petulo umumnya dibuat dari tepung beras atau tepung beras yang dipadukan dengan bahan lain, kemudian diberi pewarna makanan sehingga menghasilkan tampilan menarik. Warna hijau, merah muda, dan putih menjadi kombinasi yang cukup sering dijumpai.

Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan. Adonan yang telah diolah hingga memiliki tekstur sesuai.

Baca Juga: Sate Lalat dari Daging Lalat? Kuliner Khas Madura yang Bikin Penasaran karena Namanya

Kemudian dicetak melalui alat khusus sehingga membentuk untaian menyerupai mi. Setelah itu, adonan dikukus hingga matang dan menghasilkan tekstur yang lembut serta kenyal.

Cara Membuat Petulo, Perlu Teknik Khusus agar Bentuknya Cantik dan Kenyal

Proses pembuatan petulo terbilang unik karena membutuhkan teknik khusus untuk menghasilkan bentuk menyerupai untaian mi.

Bahan utamanya biasanya berupa tepung beras, santan, air, sedikit garam, serta pewarna makanan sesuai selera.

1.       Langkah pertama, tepung beras dicampur dengan santan dan sedikit garam. Adonan kemudian dimasak sambil terus diaduk hingga menggumpal dan kalis. Setelah cukup dingin, adonan diberi pewarna makanan, seperti hijau dari pandan atau suji, merah muda, maupun dibiarkan putih alami.

2.       Selanjutnya, adonan dimasukkan ke dalam cetakan petulo atau alat khusus yang memiliki lubang-lubang kecil. Adonan ditekan hingga keluar dalam bentuk untaian panjang menyerupai mi. Untaian tersebut kemudian dipotong sesuai ukuran dan ditata dengan cara digulung atau ditumpuk.

Baca Juga: Bukan Dikukus atau Direbus! Begini Rahasia Lemang Matang di Dalam Bambu

3.       Petulo yang telah dibentuk selanjutnya dikukus hingga matang. Proses pengukusan ini membuat teksturnya menjadi lembut, kenyal, dan tidak mudah hancur.

4.       Untuk pelengkapnya, santan dimasak bersama daun pandan, sedikit garam, dan gula sesuai selera. Sementara itu, gula merah direbus dengan air hingga larut dan mengental menjadi saus manis atau juruh.

5.       Setelah matang, petulo disajikan dalam mangkuk, kemudian disiram kuah santan dan gula merah. Perpaduan tekstur kenyal, rasa manis, serta gurihnya santan menjadi ciri khas yang membuat jajanan tradisional ini tetap digemari.

Baca Juga: Belum Banyak Dikenal! Feijoa, Jambu Nanas yang Rasanya Perpaduan Nanas dan Mint

Dalam penyajiannya, petulo biasanya disiram kuah santan yang gurih dan gula merah cair atau juruh. Perpaduan rasa manis dari gula merah dengan gurihnya santan menciptakan sensasi rasa yang khas.

Ada pula petulo yang disajikan bersama saus gula merah dan taburan kelapa parut, bergantung pada tradisi serta kebiasaan masyarakat setempat.

Lebih dari sekadar camilan, petulo menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional yang diwariskan antargenerasi.

Kehadirannya di pasar-pasar tradisional menunjukkan bahwa jajanan sederhana berbahan dasar tepung masih memiliki tempat di tengah masyarakat.

Baca Juga: Mengapa Nama Makanan Indonesia Berasal dari Singkatan? Ternyata Ada Cerita Kreatif di Baliknya

Kini, mengenal petulo bukan hanya tentang menikmati rasa manis dan gurihnya, tetapi juga mengenal kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan sederhana menjadi sajian yang menarik.

Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan cerita tentang tradisi kuliner Nusantara yang patut dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. (carrieolis ratu lathiifu)

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
jajanan pasar carrieolis ratu Petulo lembut dan kenyal jawa timur