Masih Ingat Dideh? Dulu Mudah Dijumpai di Warung dan Angkringan, Kini Makin Sulit Ditemui

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 19:00 WIB
Dideh, olahan darah yang kini mulai jarang ditemui di warung dan angkringan.(Nusantara Food)
Dideh, olahan darah yang kini mulai jarang ditemui di warung dan angkringan. (Nusantara Food)

SOLOBALAPN.COM - Dideh pernah menjadi bagian dari ragam kuliner tradisional Jawa. Olahan berbahan darah ini memiliki tampilan yang cukup khas, berupa potongan padat berwarna merah gelap hingga kehitaman yang biasa disantap sebagai lauk.

Bahan utamanya berupa darah hewan, seperti ayam, sapi, atau kerbau. Darah tersebut dimasak hingga menggumpal dan mengeras, kemudian dipotong sebelum diolah kembali.

Baca Juga: Tak Punya Pantai, Grobogan Punya Garam dari Bledug Kuwu. Kok Bisa?

Teksturnya berbeda dengan olahan daging pada umumnya. Setelah matang, dideh menjadi padat dan cukup kenyal. Potongan tersebut dapat digoreng atau dimasak kembali dengan bumbu sebelum disajikan bersama makanan lain.

Di kalangan masyarakat Jawa, dideh juga dikenal dengan sebutan saren atau marus. Penyebutan tersebut dapat berbeda di sejumlah daerah, tetapi merujuk pada olahan darah yang telah dipadatkan.

Keberadaan dideh memiliki jejak yang cukup panjang. Dalam Serat Centhini, kuliner ini disebut dengan istilah sarèn dhidhih, menunjukkan bahwa olahan darah telah dikenal dalam khazanah makanan Jawa sejak masa lampau.

Dideh menjadi gambaran dari kebiasaan mengolah bahan pangan secara menyeluruh. Pada masa lalu, berbagai bagian dari hewan dapat dimanfaatkan menjadi hidangan, termasuk bagian yang kini sudah jarang masuk dalam menu sehari-hari.

Baca Juga: Kok Makan di Pinggir Jalan Jarang Keracunan? Ternyata Ini yang Bikin MBG Berbeda

Di Solo dan Yogyakarta, dideh atau saren juga pernah dikenal sebagai bagian dari kuliner tradisional. Kehadirannya dapat ditemui di sejumlah warung makan bersama beragam pilihan lauk lainnya.

Namun, makanan ini kini tidak mudah ditemukan. Dideh masih ada di beberapa tempat, tetapi keberadaannya semakin terbatas dibandingkan makanan tradisional Jawa lain yang lebih umum dijajakan.

Salah satu alasan yang membuat dideh berbeda adalah bahan dasarnya. Bagi masyarakat Muslim, darah termasuk bahan yang tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi. Kondisi tersebut turut membuat dideh tidak menjadi pilihan makanan bagi sebagian masyarakat.

Meski begitu, dideh tetap memiliki cerita dalam perjalanan kuliner Jawa. Makanan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat pada masa lalu mengolah bahan yang tersedia menjadi hidangan dengan cara yang sederhana.

Baca Juga: Singkong Tawar Bisa Jadi Manis dan Beraroma Alkohol Setelah Jadi Tape, Kok Bisa?

Kini, keberadaan dideh lebih sering ditemukan sebagai bagian dari kuliner lama yang mulai tersisih. Tidak banyak warung yang masih menyediakannya, sehingga generasi yang lebih muda pun semakin jarang menjumpai makanan tersebut secara langsung.

Padahal, dideh bukan sekadar olahan darah yang memiliki bentuk khas. Di baliknya terdapat gambaran mengenai kebiasaan makan masyarakat Jawa dan cara mereka memanfaatkan berbagai bahan pangan pada zamannya.

Semakin jarangnya dideh ditemukan membuat makanan ini menjadi salah satu bagian dari kuliner tradisional yang menarik untuk dikenali kembali. Bukan untuk mengembalikan kebiasaan lama, tetapi untuk melihat bagaimana makanan pernah berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
kuliner jawa dideh olahan darah ayam sapi