Tak Punya Pantai, Grobogan Punya Garam dari Bledug Kuwu. Kok Bisa?

SOLOBALAPAN.COM - Garam biasanya identik dengan wilayah pesisir. Namun, anggapan itu tidak sepenuhnya berlaku di Grobogan, Jawa Tengah. Di daerah yang jauh dari garis pantai ini, masyarakat telah lama mengenal garam yang bahan bakunya berasal dari air asin di kawasan Bledug Kuwu.
Bledug Kuwu berada di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Grobogan. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu fenomena gunung lumpur atau mud volcano. Lumpur dan gas keluar dari dalam bumi melalui letupan yang terjadi secara berkala.
Baca Juga: ALLDAY PROJECT Segera Comeback, Setelah FAMOUS Bikin Heboh, Mampukah CRASH Ulangi Hype-nya?
Menariknya, yang keluar dari kawasan tersebut bukan hanya lumpur. Ada pula air yang mengandung mineral dan garam. Air asin inilah yang kemudian dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan baku untuk membuat garam.
Berbeda dengan garam di kawasan pesisir yang umumnya dibuat dari air laut melalui proses penguapan di tambak, masyarakat di sekitar Bledug Kuwu memanfaatkan air asin yang muncul dari kawasan gunung lumpur.
Prosesnya pun cukup sederhana. Air asin ditampung terlebih dahulu, kemudian dikeringkan dengan bantuan panas matahari. Ketika air menguap, kandungan garam yang tertinggal akan membentuk kristal dan selanjutnya dikumpulkan.
Baca Juga: Memasuki Hari Ketujuh Pencarian 5 Jurnalis! Tim SAR Sisir 7 Sektor di Selat Sunda
Dalam proses tradisional, masyarakat memanfaatkan batang bambu yang dibelah sebagai salah satu wadah pengeringan. Air asin diletakkan di dalamnya dan dibiarkan hingga mengkristal. Lama prosesnya bergantung pada kondisi cuaca dan panas matahari.
Kandungan garam yang dihasilkan juga cukup tinggi, kadar natrium klorida atau NaCl pada garam tersebut berada pada kisaran 99,72 hingga 99,73 persen.
Pembuatan garam di kawasan Bledug Kuwu telah berlangsung sejak lama. Garam dari wilayah ini bahkan telah dikenal sebagai komoditas sejak masa kolonial, sementara aktivitas pembuatannya tercatat masih berlangsung hingga 1973.
Pada masa Hindia Belanda, garam menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian pemerintah. Pengelolaan dan pungutan pajaknya turut diatur, menandakan garam dari kawasan yang jauh dari pesisir tersebut telah memiliki nilai ekonomi sejak dahulu.
Tradisi pembuatan garam itu kemudian terus bertahan. Cara pengolahannya memang dapat mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman, tetapi pemanfaatan air asin dari kawasan Bledug tetap menjadi bagian dari cerita masyarakat setempat.



