Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tak Punya Pantai, Grobogan Punya Garam dari Bledug Kuwu. Kok Bisa?

t
Penulis: tim solobalapan❯
Garam Bledug Kuwu dibuat dari air asin yang dikeringkan.(Radar Kudus)
Garam Bledug Kuwu dibuat dari air asin yang dikeringkan.

Advertisement

SOLOBALAPAN.COM - Garam biasanya identik dengan wilayah pesisir. Namun, anggapan itu tidak sepenuhnya berlaku di Grobogan, Jawa Tengah. Di daerah yang jauh dari garis pantai ini, masyarakat telah lama mengenal garam yang bahan bakunya berasal dari air asin di kawasan Bledug Kuwu.

Bledug Kuwu berada di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Grobogan. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu fenomena gunung lumpur atau mud volcano. Lumpur dan gas keluar dari dalam bumi melalui letupan yang terjadi secara berkala.

Advertisement

Menariknya, yang keluar dari kawasan tersebut bukan hanya lumpur. Ada pula air yang mengandung mineral dan garam. Air asin inilah yang kemudian dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan baku untuk membuat garam.

Berbeda dengan garam di kawasan pesisir yang umumnya dibuat dari air laut melalui proses penguapan di tambak, masyarakat di sekitar Bledug Kuwu memanfaatkan air asin yang muncul dari kawasan gunung lumpur.

Prosesnya pun cukup sederhana. Air asin ditampung terlebih dahulu, kemudian dikeringkan dengan bantuan panas matahari. Ketika air menguap, kandungan garam yang tertinggal akan membentuk kristal dan selanjutnya dikumpulkan.

Dalam proses tradisional, masyarakat memanfaatkan batang bambu yang dibelah sebagai salah satu wadah pengeringan. Air asin diletakkan di dalamnya dan dibiarkan hingga mengkristal. Lama prosesnya bergantung pada kondisi cuaca dan panas matahari.

Kandungan garam yang dihasilkan juga cukup tinggi, kadar natrium klorida atau NaCl pada garam tersebut berada pada kisaran 99,72 hingga 99,73 persen.

Pembuatan garam di kawasan Bledug Kuwu telah berlangsung sejak lama. Garam dari wilayah ini bahkan telah dikenal sebagai komoditas sejak masa kolonial, sementara aktivitas pembuatannya tercatat masih berlangsung hingga 1973.

Pada masa Hindia Belanda, garam menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian pemerintah. Pengelolaan dan pungutan pajaknya turut diatur, menandakan garam dari kawasan yang jauh dari pesisir tersebut telah memiliki nilai ekonomi sejak dahulu.

Tradisi pembuatan garam itu kemudian terus bertahan. Cara pengolahannya memang dapat mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman, tetapi pemanfaatan air asin dari kawasan Bledug tetap menjadi bagian dari cerita masyarakat setempat.

Advertisement
Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber

Artikel Terkait

Kim Garam Kembali ke Dunia Hiburan, Kini Siapkan Karier sebagai Aktris

Kim Garam Kembali ke Dunia Hiburan, Kini Siapkan Karier sebagai Aktris

Kim Garam kembali menjadi perhatian setelah Management KOO merilis profil terbarunya. Mantan idol tersebut kini tengah mempersiapkan karier baru sebagai aktris.

Sejarah Kereta Api Pengangkut Garam, Ketika Rel Menjadi Jalur Distribusi "Emas Putih"

Sejarah Kereta Api Pengangkut Garam, Ketika Rel Menjadi Jalur Distribusi "Emas Putih"

Sebelum angkutan jalan berkembang, kereta api menjadi salah satu moda utama untuk mengangkut garam. Perannya mendukung distribusi komoditas penting ini menjadikan rel sebagai bagian dari sejarah logistik Indonesia.

Mengintip Proses Pembuatan Batik Abstrak Etnik yang Estetik di Kampung Batik Laweyan Solo

Mengintip Proses Pembuatan Batik Abstrak Etnik yang Estetik di Kampung Batik Laweyan Solo

Di balik indahnya kain batik abstrak bercorak etnik, ada proses panjang dari mencanting hingga nglorod. Intip rahasia pembuatannya di Kampung Batik Laweyan!

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer