SOLOBALAPAN.COM - Sekilas melihat bentuknya, Petolo Mayang mungkin membuat orang teringat pada putu mayang. Namun, jajanan tradisional ini memiliki sajian yang lebih beragam karena dalam satu mangkuk terdapat petolo, serabi, dan ketan.
Petolo Mayang masih dapat ditemukan di Solo. Salah satunya di kawasan Jalan Ronggowarsito, Keprabon. Jajanan ini disajikan dalam satu mangkuk bersama beberapa jenis makanan tradisional dan kuah santan dengan gula merah.
Baca Juga: Matahari Pernah Meledak Dahsyat pada 10 September 2017, Apa Dampaknya ke Bumi?
Bagian yang paling mudah dikenali adalah petolo. Bentuknya berupa adonan tepung beras yang dibuat menyerupai untaian kecil dan keriting. Warnanya dapat berupa hijau atau merah muda. Jika hanya melihat bagian ini, wajar apabila Petolo Mayang sekilas dianggap sama dengan putu mayang.
Padahal, penyajiannya memiliki perbedaan. Petolo umumnya berukuran lebih kecil dan lebih rapat. Sementara itu, putu mayang lebih dikenal sebagai untaian adonan yang disusun melebar. Keduanya memang sama-sama berbahan dasar tepung beras, tetapi berkembang dalam tradisi kuliner yang berbeda.
Petolo sendiri dikenal sebagai jajanan yang berasal dari wilayah Jawa Timur, termasuk di Malang. Sementara itu, putu mayang lebih dikenal sebagai salah satu jajanan tradisional Betawi. Meski memiliki kemiripan bentuk, penyebutan dan cara penyajiannya tidak selalu sama.
Keunikan Petolo Mayang justru terlihat ketika seluruh komponennya disatukan. Petolo tidak berdiri sendiri, melainkan ditemani serabi berukuran kecil dan ketan srikaya. Setelah itu, seluruh isian diberi kuah santan dengan gula merah.
Baca Juga: Sering Dianggap Remeh, Efek Rutin Minum Air Chia Seed Ternyata Luar Biasa!
Perpaduan tersebut membuat satu porsi Petolo Mayang memiliki beberapa tekstur sekaligus. Ada petolo yang kenyal, serabi yang lembut, serta ketan yang lebih pulen. Kuah santan dan gula merah kemudian memberikan rasa gurih sekaligus manis pada keseluruhan sajian.
Komposisi seperti ini menjadi salah satu hal yang membuat Petolo Mayang berbeda dibandingkan dengan putu mayang yang hanya dikenal dari bentuk adonan dan kuah pendampingnya.
Keberadaan Petolo Mayang di Solo juga memiliki cerita tersendiri. Berdasarkan sejumlah tulisan mengenai kuliner tersebut, Petolo Mayang yang dikenal di Solo berasal dari Malang, kemudian dibawa dan berkembang di Kota Solo. Kuliner ini selanjutnya menjadi salah satu jajanan tradisional yang masih dipertahankan oleh penjualnya.
Baca Juga: Bukan Buahnya, Bunga Durian Ternyata Bisa Ditumis. Seperti Apa Rasanya?
Keberadaannya memang tidak semudah menemukan jajanan tradisional yang lebih populer. Namun, sejumlah pemberitaan hingga 2025 masih mencatat keberadaan penjual Petolo Mayang di Solo.
Bagi masyarakat yang belum pernah mencicipinya, Petolo Mayang bisa dikenali dari cara penyajiannya yang cukup berbeda. Dalam satu mangkuk, pembeli tidak hanya mendapatkan petolo, tetapi juga serabi dan ketan yang berpadu dengan kuah santan gula merah.
Jadi, jika selama ini putu mayang menjadi jajanan yang lebih dulu dikenal, Petolo Mayang menawarkan pengalaman yang sedikit berbeda. Bentuk petolonya memang sekilas serupa, tetapi isi satu mangkuknya membuat jajanan ini memiliki ciri tersendiri. (hanifatuz zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber