Siomay, Jajanan Favorit Orang Indonesia yang Ternyata Berasal dari Bahasa Tionghoa

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 15:27 WIB
Siomay Indonesia berakar dari dimsum Tionghoa (shumai/siu maai).
Siomay Indonesia berakar dari dimsum Tionghoa (shumai/siu maai).

SOLOBALAPAN.COM – Siapa yang tidak kenal siomay? Jajanan yang biasanya disajikan dengan tahu, kentang, kol, telur, pare, dan siraman saus kacang ini begitu mudah ditemukan di berbagai kota di Indonesia.

Siomay bahkan sudah lekat dengan identitas kuliner Indonesia. Di Bandung, misalnya, siomay menjadi salah satu jajanan yang sangat populer dan kerap disebut sebagai siomay Bandung.

Namun, ada satu hal yang mungkin belum banyak diketahui. Nama dan bentuk awal siomay ternyata memiliki hubungan dengan kuliner Tionghoa.

Baca Juga: Salah Satu Tradisi Unik di India, Peserta Saling Bertumpuk untuk Pecahkan Pot Gantung

Jauh sebelum dikenal sebagai jajanan dengan saus kacang seperti sekarang, makanan yang menjadi asal-usul siomay Indonesia dikenal dengan nama shumai atau siu maai.

Siomay Berasal dari Mana?

Siomay Indonesia merupakan hasil adaptasi dari makanan Tionghoa yang termasuk dalam kelompok dim sum. Dalam bahasa Mandarin, makanan tersebut dikenal sebagai shaomai, sedangkan dalam bahasa Kanton dikenal sebagai siu maai. Istilah “siomay” yang digunakan di Indonesia berkaitan dengan pelafalan tersebut.

Makanan aslinya berbentuk pangsit yang dikukus dengan bagian atas terbuka. Isinya dapat berupa daging cincang, termasuk daging babi, udang, atau bahan lainnya.

Di Indonesia, bentuk dan bahan siomay kemudian mengalami perubahan. Salah satu adaptasi yang paling mencolok adalah penggunaan ikan sebagai bahan utama.

Baca Juga: Pickle Lagi Menguasai Internet, Kenapa Makanan Rasa Asam Ini Mendadak Jadi Tren?

Siomay yang banyak dijumpai di Indonesia umumnya menggunakan ikan tenggiri yang dicampur dengan tepung. Ada pula yang menggunakan ayam atau udang. Perubahan tersebut membuat siomay lebih sesuai dengan selera dan kondisi masyarakat Indonesia.

Dari Dim Sum Menjadi Jajanan dengan Saus Kacang

Perubahan siomay tidak berhenti pada isiannya.

Kalau melihat siomay yang dijual pedagang kaki lima di Indonesia, makanan ini biasanya hadir dalam satu porsi bersama tahu, kentang, kol, pare, dan telur. Semuanya kemudian dipotong-potong dan disiram dengan saus kacang, kecap manis, serta sambal.

Penyajian seperti ini tentu berbeda dengan shumai yang menjadi asal-usulnya.

Siomay Tionghoa sendiri merupakan bagian dari tradisi dim sum dan umumnya disajikan sebagai kudapan kukus. Sementara di Indonesia, siomay berkembang menjadi makanan yang dapat disantap sebagai jajanan atau makanan ringan dengan cita rasa yang sudah sangat dipengaruhi selera lokal.

Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah makanan dapat mengalami proses akulturasi. Nama dan gagasan dasarnya berasal dari luar, tetapi bahan, rasa, dan cara penyajiannya kemudian berkembang mengikuti lingkungan tempat makanan itu diterima.

Kenapa Siomay Indonesia Pakai Ikan?

Penggunaan ikan tenggiri pada siomay Indonesia menjadi salah satu ciri yang membuatnya berbeda dari versi Tionghoa.

Makanan sejenis shumai pada awalnya banyak menggunakan daging babi sebagai isian. Ketika berkembang di Indonesia, bahan tersebut kemudian banyak digantikan dengan ikan, ayam, atau udang.

Adaptasi bahan ini membuat siomay lebih mudah diterima oleh masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang budaya dan keyakinan yang beragam. Dalam perkembangannya, ikan tenggiri justru menjadi salah satu bahan yang sangat identik dengan siomay Indonesia.

Dari Bahasa Tionghoa, Kini Jadi Jajanan Indonesia

Perjalanan siomay menunjukkan bahwa pengaruh bahasa dan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali.

Kita mungkin tidak lagi menganggap siomay sebagai makanan asing. Jajanan ini dapat ditemukan di depan sekolah, kampus, perkantoran, pasar, hingga pusat kuliner. Bahkan, siomay sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia.

Namun, nama “siomay” masih menyimpan jejak dari makanan Tionghoa yang dikenal dengan nama shumai atau siu maai. Pelafalan dan bentuk makanannya kemudian mengalami penyesuaian ketika masuk dan berkembang di Indonesia.

Hal tersebut menjadi contoh bagaimana bahasa dapat berjalan beriringan dengan perpindahan budaya. Ketika sebuah makanan berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, bukan hanya resepnya yang dapat berubah. Namanya pun bisa mengalami penyesuaian mengikuti lidah masyarakat setempat.

Jadi, lain kali ketika menikmati seporsi siomay dengan saus kacang, tahu, kentang, dan kol, ada cerita panjang di balik jajanan tersebut. Siomay yang kini begitu akrab dengan lidah orang Indonesia ternyata menyimpan jejak bahasa dan kuliner Tionghoa di dalam namanya. (ina)

Editor : Inayah Choirunisa
siomay makanan indonesia bahan