Tak banyak yang mengetahui bahwa gablok memiliki proses pembuatan yang berbeda dari olahan beras pada umumnya.
Berbeda dengan lontong yang direbus setelah dibungkus daun pisang, gablok diolah melalui tahapan khusus yang membuat teksturnya lebih padat dan kenyal.
Suwarni, penjual gablok di Sumberlawang, mengatakan proses pembuatannya diawali dengan memasak beras sebelum dicampur dengan obat puli.
"Lontong berasnya langsung dibungkus daun pisang lalu direbus. Kalau gablok, berasnya dimasak dulu, diberi obat puli lebih banyak, baru dibungkus dan dikukus," jelasnya.
Baca Juga: Cuaca Panas Bisa Bikin Tanaman Hidroponik Stres, Ini Cara Merawatnya
Setelah dibungkus, gablok dikukus selama kurang lebih satu jam hingga matang. Menurut Suwarni, penggunaan obat puli dalam jumlah yang lebih banyak menjadi pembeda utama karena membuat butiran beras menyatu lebih rapat sehingga menghasilkan tekstur yang lebih pulen.
Gablok semakin lengkap saat disajikan bersama sayur tumpang, sayuran pecel, dan sambal kacang. Ketiganya menjadi pelengkap yang tak terpisahkan.
Sehingga menghadirkan cita rasa gurih dengan sentuhan bumbu rempah yang khas. Tak sedikit warga memilih gablok sebagai menu sarapan karena mengenyangkan.
Baca Juga: Tak Sekadar Cantik, Ini Pertimbangan Pembeli Memilih Tanaman Hias
Di tengah gempuran kuliner yang terus bermunculan, gablok tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Selain mengenyangkan, makanan tradisional ini juga dikenal ramah di kantong.
"Satu bungkus harganya Rp 2.500," ujar Suwarni.
Meski dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, gablok tetap menawarkan cita rasa yang khas. Perpaduan rasa dan harganya yang bersahabat membuat kuliner tradisional ini masih menjadi menu sarapan favorit masyarakat.
Baca Juga: 5 Stasiun di Indonesia yang Dikenal Memiliki Kisah Mistis
Gablok membuktikan bahwa kekayaan kuliner tidak selalu hadir dalam sajian yang mewah. Dari proses pembuatannya hingga cita rasanya yang tetap terjaga, gablok terus menjadi salah satu ikon kuliner khas Bumi Sukowati.
Editor : Adi Pras