Cuaca Panas Bisa Bikin Tanaman Hidroponik Stres, Ini Cara Merawatnya

SOLOBALAPAN.COM - Tanaman hidroponik yang tiba-tiba layu saat siang hari sering kali dianggap kekurangan air. Padahal, penyebabnya belum tentu karena volume air di dalam tandon berkurang.
Saat musim kemarau, suhu air yang meningkat justru menjadi salah satu penyebab tanaman mengalami stres. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan tanaman hingga menyebabkan akar membusuk.
Kondisi itu perlu menjadi perhatian karena suhu udara di Indonesia memang cenderung meningkat selama musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara rata-rata Indonesia pada Juni 2026 mencapai 27,3 derajat Celsius atau lebih tinggi 0,7 derajat Celsius dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991-2020.
Baca Juga: Solo Anggrek Festival 2026 Suguhkan Koleksi Bernilai Fantastis, Harga Jual Tembus Puluhan Juta
Peningkatan suhu tersebut turut memengaruhi budidaya tanaman, termasuk hidroponik yang sangat bergantung pada kualitas air sebagai media tanam.
Pemilik Mantri Hidroponik Agus Sukarno mengatakan, menjaga suhu air di dalam tandon menjadi tantangan terbesar dalam merawat tanaman hidroponik saat musim kemarau.
Menurutnya, suhu air yang terlalu tinggi akan mengurangi kandungan oksigen di dalam air sehingga mengganggu pertumbuhan akar.
"Kalau suhu air semakin tinggi, kandungan oksigen di dalam air juga semakin berkurang," ujar Agus Sukarno, Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan, volume air di dalam tandon harus selalu dipantau. Saat air mulai berkurang, sebaiknya segera ditambahkan agar suhu air tetap stabil.
Jumlah lubang tanam juga perlu disesuaikan dengan kapasitas tandon sehingga kebutuhan air setiap tanaman tetap terpenuhi.
Selain itu, kelembapan lingkungan sekitar tanaman juga perlu dijaga, terutama saat cuaca sedang terik. Menurut Agus, area di sekitar instalasi hidroponik dapat disemprot air untuk membantu menjaga kelembapan sehingga tanaman tidak mudah mengalami stres akibat suhu yang tinggi.



