SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah derasnya arus informasi digital dan kemudahan mencari data melalui internet, keberadaan arsip fisik masih menjadi bagian penting dalam menjaga memori kolektif bangsa. Salah satu tempat yang memegang peran tersebut adalah Monumen Pers Nasional di Kota Solo.
Berlokasi di kawasan Mangkunegaran, museum ini bukan sekadar tempat penyimpanan dokumen jurnalistik. Bangunan berusia lebih dari satu abad tersebut juga menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, mulai dari pergerakan pemuda, perkembangan radio nasional, hingga lahirnya organisasi wartawan pertama setelah kemerdekaan.
Baca Juga: Klasemen Rookie Moto3 2026: Veda Ega Pratama Turun ke Posisi 2, Perebutan Gelar Makin Panas
Berdiri Sejak 1918, Lebih Tua dari Republik Indonesia
Monumen Pers Nasional menempati gedung cagar budaya yang dibangun pada tahun 1918 pada masa pemerintahan Mangkunegara VII.
Saat pertama kali didirikan, bangunan tersebut dikenal sebagai Societeit Mangkunegaran atau Societeit Sasana Soeka, sebuah balai pertemuan yang digunakan untuk berbagai kegiatan sosial, budaya, dan intelektual masyarakat pada masa itu.
Staf Pelayanan Informasi Monumen Pers Nasional, Surya, menjelaskan bahwa sejak awal bangunan tersebut memang dirancang sebagai ruang publik yang menjadi pusat berbagai aktivitas penting.
"Tujuan utamanya memang sebagai balai pertemuan dan tempat perkumpulan. Karena itu sepanjang sejarahnya, gedung ini menjadi lokasi berbagai peristiwa penting."
Keberadaan gedung tersebut menjadikannya salah satu bangunan bersejarah yang masih bertahan di Kota Solo hingga saat ini.
Saksi Sejumlah Peristiwa Penting Bangsa
Nilai historis Monumen Pers Nasional tidak hanya terletak pada usia bangunannya, tetapi juga pada berbagai peristiwa yang pernah berlangsung di dalamnya.
Pada tahun 1923, gedung ini menjadi lokasi penyelenggaraan Kongres Jong Java, organisasi kepemudaan yang aktif dalam gerakan pendidikan dan pemberantasan buta huruf pada masa kolonial.
Kemudian pada tahun 1933, gedung ini menjadi tempat lahirnya Solosche Radio Vereeniging, yang dikenal sebagai organisasi radio ketimuran pertama di Indonesia dan menjadi salah satu cikal bakal perkembangan penyiaran nasional.
Peristiwa paling monumental terjadi pada tahun 1946 ketika para wartawan dari berbagai daerah berkumpul dan mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia, organisasi wartawan pertama setelah Indonesia merdeka.
Peristiwa itulah yang kemudian menjadi dasar penetapan gedung ini sebagai Monumen Pers Nasional.
Baca Juga: Lihat Kunci Masih Menancap, Pemuda Pengangguran di Solo Nekat Curi Motor Tetangga
"Karena peristiwa tahun 1946 itulah akhirnya gedung ini ditetapkan sebagai Monumen Pers Nasional dan difungsikan sebagai museum yang berkaitan dengan sejarah pers Indonesia," jelas Surya.
Arsitektur Perpaduan Jawa dan Eropa
Selain nilai sejarahnya, bangunan Monumen Pers Nasional juga menarik dari sisi arsitektur.
Bangunan utama yang berada di bagian tengah masih merupakan struktur asli tahun 1918 dan telah berstatus cagar budaya. Sementara bangunan di sisi kanan, kiri, dan belakang merupakan hasil pengembangan yang dilakukan pada akhir 1970-an.
Keunikan bangunan terlihat dari perpaduan unsur budaya Jawa dan Eropa. Dari luar, bentuk atapnya menyerupai stupa candi khas Nusantara. Namun saat memasuki interior bangunan, pengunjung akan menemukan pintu dan jendela bergaya kolonial Belanda.
Menurut Surya, desain tersebut merupakan gagasan arsitek bumiputra awal Indonesia, Agus Sastromodirono, yang dikenal pula dengan nama Mas Abikusno.
"Mangkunegara VII menginginkan unsur budaya Timur dan Barat bisa berpadu tanpa saling bertentangan."
Baca Juga: Bakal Lapor Prabowo! Arab Saudi Berpotensi Jadi Negara Pertama Sasaran Program Makan Bergizi Gratis
Menyimpan Ratusan Ribu Arsip yang Tak Selalu Ada di Internet
Di balik fungsi museumnya, Monumen Pers Nasional juga menjadi pusat dokumentasi sejarah media massa Indonesia.
Museum ini menyimpan ratusan ribu arsip surat kabar, majalah, tabloid, dan berbagai publikasi dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan dan modern.
Salah satu koleksi tertua yang masih tersimpan adalah Java Government Gazette yang terbit pada tahun 1816.
Koleksi tersebut dapat diakses masyarakat melalui ruang baca yang tersedia di kompleks museum.
"Kami memiliki ratusan ribu eksemplar surat kabar dan majalah yang bisa diakses oleh masyarakat."
Baca Juga: SPMB Jateng 2026 Dimulai, Kuota Negeri Hanya Tampung 8.000 dari 20.500 Lulusan SMP
Arsip-arsip tersebut menjadi sumber penting bagi peneliti, mahasiswa, jurnalis, hingga masyarakat umum yang ingin memahami kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya pada berbagai periode sejarah Indonesia.
Ketika Arsip Fisik Menjadi Penyelamat Sejarah
Di era digital, banyak orang menganggap seluruh informasi masa lalu telah tersedia di internet. Namun kenyataannya tidak demikian.
Menurut Surya, banyak dokumen dan berita lama yang hanya tersedia dalam bentuk arsip fisik. Bahkan sejumlah media besar masih bergantung pada koleksi Monumen Pers Nasional untuk melengkapi dokumentasi mereka.
Salah satu contohnya adalah media Pikiran Rakyat yang pernah kehilangan sebagian arsip akibat kebakaran dan kemudian memanfaatkan koleksi yang tersimpan di Monumen Pers Nasional untuk melengkapi kembali dokumentasinya.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa arsip media tidak hanya berfungsi sebagai kumpulan berita lama, tetapi juga menjadi rekaman perjalanan masyarakat dan bangsa.
"Arsip media bukan hanya soal berita, tetapi juga rekaman kehidupan masyarakat pada suatu masa. Karena itu pelestariannya menjadi sangat penting."
Baca Juga: Gerah Terus Disudutkan, Sarwendah Ancam Bongkar Rahasia Penyebab Cerai dengan Ruben Onsu
Di tengah ancaman hilangnya dokumen sejarah akibat kerusakan fisik maupun perubahan teknologi, keberadaan Monumen Pers Nasional menjadi pengingat bahwa menjaga arsip berarti menjaga ingatan bangsa. (Lutfiana Sekar/AN)
Editor : Andi Aris Widiyanto