Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Serabi Solo: Jajanan Legendaris dari Zaman Kerajaan hingga Melegenda di Notosuman

Andi Aris Widiyanto • Rabu, 8 April 2026 | 12:12 WIB
Ilustrasi Serabi Solo yang memiki cita rasa manis gurih lezat
Ilustrasi Serabi Solo yang memiki cita rasa manis gurih lezat

 

SOLOBALAPAN.COM — Bicara kuliner khas Solo, serabi adalah salah satu ikon yang tidak boleh dilewatkan. Lembut, gurih, dan beraroma khas, Serabi Solo bukan sekadar camilan sederhana namun bagian dari perjalanan panjang budaya Jawa. Jejaknya bahkan terekam dalam naskah klasik yang ditulis ratusan tahun silam.

Jejak Kuliner Serabi dalam Sejarah Jawa

Serabi Solo, yang berbahan dasar tepung beras dan santan, telah hadir sejak masa Kerajaan Mataram. Keberadaannya tercatat dalam Serat Centhini, ensiklopedia budaya Jawa yang ditulis oleh para pujangga Keraton Surakarta pada tahun 1814–1823 atas perintah Pakubuwana V.

Baca Juga: Emas Antam Makin “Sultan”: Naik Rp 50 Ribu, Kini Nyaris Rp 3 Juta per Gram

Dalam kitab klasik tersebut, serabi disebut sebagai hidangan dalam berbagai prosesi adat—mulai dari ijab pernikahan, acara ruwahan, hingga camilan yang dijajakan di halaman rumah ketika pertunjukan wayang kulit pada malam hari.

Bahkan pada pupuh ke-157, disebutkan ada sembilan jenis serabi yang menjadi bagian dari sajian saat ruwatan maupun pagelaran wayang. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dulu, serabi sudah menjadi kuliner yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa.

Serabi Notosuman: Cita Rasa yang Bertahan Sejak 1923

Ketika berbicara tentang serabi di Solo, nama Serabi Notosuman selalu menjadi yang pertama terlintas. Berdiri sejak 1923, kuliner legendaris ini dirintis oleh pasangan suami-istri Hoo Geng Hok dan Tan Giok Lan di kawasan Jalan Notosuman—yang kini dikenal sebagai Jalan Mohammad Yamin.

Mulanya, mereka hanya membuat kue apem untuk pesanan tetangga. Namun ramuan resep turun-temurun dan ketekunan menjaga kualitas membuat usaha tersebut berkembang hingga kini bertahan di generasi keempat.

Salah satu rahasia kelezatan Serabi Notosuman terletak pada:

Tidak heran jika para perantau hingga wisatawan rela mengantre untuk menikmati keaslian rasanya.

Baca Juga: Kabel Semrawut, PAD Seret: DPRD Sragen Sentil Keras Bisnis Wi-Fi yang Cuma Numpang Lewat

Varian Rasa dan Harga yang Tetap Bersahabat

Hingga saat ini, Serabi Notosuman tetap mempertahankan kesederhanaan sekaligus kualitasnya. Harga serabi mulai dari Rp3.000 per buah, dengan pilihan:

Cita rasanya yang autentik dan teknik masaknya yang tetap tradisional menjadikan serabi bukan hanya kudapan, tetapi bagian dari identitas kuliner Kota Solo.

Warisan Kuliner yang Tak Lekang Zaman

Lebih dari sekadar jajanan, Serabi Solo adalah napas sejarah. Dari catatan Serat Centhini hingga ketenaran Serabi Notosuman, serabi menjadi simbol bagaimana kuliner mampu merawat ingatan budaya.

Tak lengkap rasanya berkunjung ke Surakarta tanpa mencicipi serabi hangat yang masih dimasak di atas tungku—sebuah rasa yang menautkan masa lalu dan masa kini dalam satu gigitan. (Luthfiana Sekar A.R/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#serat centhini #Kerajaan Mataram #serabi solo #kuliner khas solo #serabi notosuman