Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Kenapa Imlek Dirayakan 15 Hari? Ini Makna Filosofis dari Tahun Baru hingga Cap Go Meh

Laila Zakiya • Selasa, 10 Februari 2026 | 17:26 WIB
Ilustrasi Chinese New Year atau Imlek 2026.
Ilustrasi Chinese New Year atau Imlek 2026.

SOLOBALAPAN.COM - Siapa disini yang sudah tidak sabar untuk menyambut perayaan Imlek?

Pernah nggak sih kalian bertanya, kenapa Perayaan Imlek dirayakan selama 15 hari? Memang ada cerita apasih di balik itu?

Perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya berlangsung selama satu hari saja.

Dalam tradisi Tionghoa, perayaan Imlek dirayakan selama 15 hari beturut-turut, dimulai pada hari pertama tahun baru hingga hari puncak yang ada pada hari ke-15 yang dikenal dengan sebutan Cap Go Meh.

Rangkaian panjang ini ternyata menyimpan makna historis, spiritual, dan filosofi kehidupan yang diwariskan turun-temurun.

Perayaan Imlek berpatokan pada kalender lunar atau yang kita kenal dengan kalender bulan.

Hari pertama Imlek ditandai dengan munculnya bulan baru sementara hari puncak pada hari ke-15 bertepatan dengan adanya bulan purnama.

Siklus ini dipercaya melambangkan perjalanan hidup manusia, dari permulaan menuju kesempurnaan.

Karena itu, perayaan Imlek tidak hanya dilakukan secara singkat, melainkan mellaui tahapan yang dianggap sacral dan penuh symbol.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, setiap hari selama 15 hari Imlek memiliki makna tersendiri.

Hari-hari awal biasanya difokuskan pada keluarga inti.

Anggota keluarga berkumpul, menyantap hidangan bersama, serta saling mendoakan keberkahan di tahun yang baru.

Tradisi saling berkunjung juga dilakukan sebagai simbol mempererat hubungan kekeluargaan dan sosial.

Selain itu, beberapa hari dalam rangkaian Imlek juga dikhususkan untuk menghormati leluhur.

Hal ini mencerminkan nilai bakti dan rasa syukur atas kehidupan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Dalam budaya Tionghoa, penghormatan kepada leluhur menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Rangkaian perayaan tersebut mencapai puncaknya pada hari ke-15 yang dikenal sebagai Cap Go Meh.

Istilah Cap Go Meh berasal dari bahasa Hokkien, yakni cap yang berarti sepuluh, go berarti lima, dan meh berarti malam.

Secara bahasa, Cap Go Meh berarti malam kelima belas, yang menandai berakhirnya perayaan Imlek.

Cap Go Meh kerap dirayakan dengan berbagai atraksi budaya, seperti festival lampion, pertunjukan barongsai, hingga kirab budaya di sejumlah daerah.

Lampion yang menyala di malam purnama melambangkan harapan, penerangan hidup, serta doa agar perjalanan di tahun yang baru senantiasa diberi keberuntungan.

Lebih dari sekadar tradisi, perayaan Imlek selama 15 hari juga mengandung filosofi keseimbangan dan proses.

Masyarakat Tionghoa memandang kehidupan tidak dijalani secara instan, melainkan melalui tahapan.

Membersihkan diri dari energi negatif masa lalu, membangun kembali relasi sosial, serta menutupnya dengan rasa syukur dan doa menjadi pesan utama dari rangkaian perayaan tersebut.

Di Indonesia, perayaan Imlek selama 15 hari juga mencerminkan keberagaman budaya.

Tak jarang, masyarakat lintas agama dan etnis turut merasakan kemeriahan Imlek, baik melalui kegiatan budaya, kuliner, maupun tradisi saling berkunjung.

Hal ini menunjukkan bahwa Imlek tidak hanya menjadi perayaan etnis, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya nasional.

Dengan demikian, perayaan Imlek yang berlangsung selama 15 hari bukan sekadar tradisi panjang tanpa makna.

Di baliknya tersimpan nilai tentang keluarga, penghormatan terhadap leluhur, keseimbangan hidup, serta harapan akan masa depan yang lebih baik di tahun yang baru. (mg/lz)

Magang/Izza Aziza Queen Sophia

Editor : Laila Zakiya
#sejarah #cap go meh #Imlek 2026 #kalender #Budaya Tionghoa