Magma Menyembur dari Lubang Sedalam 1 Km, Fenomena Aneh Gunung Krafla Pada 8 September 1977

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 13:15 WIB
Gunung Krafla di Islandia mengalami erupsi pada 8 September 1977. Lava keluar melalui rekahan sepanjang sekitar 900 meter, disusul pergerakan gempa dan keluarnya magma melalui lubang bor panas bumi. (Volcano.si.edu)
Gunung Krafla di Islandia mengalami erupsi pada 8 September 1977. Lava keluar melalui rekahan sepanjang sekitar 900 meter, disusul pergerakan gempa dan keluarnya magma melalui lubang bor panas bumi. (Volcano.si.edu)

SOLOBALAPAN.COM – Aktivitas sejumlah gunung api kembali menjadi perhatian di Indonesia. Gunung Anak Krakatau, misalnya, masih menjadi salah satu gunung api yang dipantau setelah mengalami rangkaian erupsi pada awal September 2026. Badan Geologi mencatat perkembangan aktivitas erupsi gunung api tersebut dalam laporan pemantauan terbarunya.

Fenomena erupsi seperti ini mengingatkan bahwa aktivitas gunung api tidak selalu berlangsung dengan pola yang sama. Sebelum lava terlihat di permukaan, perubahan di dalam tubuh gunung dapat lebih dulu terjadi, mulai dari gempa, getaran vulkanik hingga perubahan bentuk permukaan.

Baca Juga: BREAKING NEWS! Persebaya Surabaya Resmi Bajak Saddil Ramdani dari Persib Bandung

Fenomena serupa pernah terjadi jauh dari Indonesia, tepatnya di Islandia.

Pada 8 September 1977, Gunung Krafla di bagian timur laut Islandia mengalami salah satu episode aktivitas vulkanik yang menarik perhatian para peneliti. Peristiwa tersebut diawali perubahan di dalam kawasan kaldera, kemudian berkembang menjadi erupsi lava dan pergerakan patahan.

Krafla sendiri saat itu tengah berada dalam rangkaian aktivitas vulkanik yang dikenal sebagai Krafla Fires, yang berlangsung sejak 1975 hingga 1984.

Sebelum peristiwa 8 September, bagian tengah kaldera Krafla mengalami penggelembungan atau inflasi. Namun pada sore 8 September 1977, kondisi tersebut berubah.

Sekitar pukul 15.47 waktu setempat, seismograf mulai merekam getaran vulkanik yang berlangsung terus-menerus. Pada saat yang hampir bersamaan, permukaan kaldera mulai mengalami deflasi atau penurunan.

Kurang lebih dua jam kemudian, sekitar pukul 18.00, lava mulai keluar dari sebuah rekahan di bagian utara kaldera.

Erupsi tersebut bukan berupa letusan dari satu kawah kecil. Lava basaltik yang sangat cair keluar melalui rekahan sepanjang sekitar 900 meter. Dalam waktu sekitar dua jam, aliran lava mencapai wilayah terluasnya dengan cakupan sekitar 0,8 kilometer persegi.

Baca Juga: Mengenal Koaʻe Kea, Burung yang Terekam Terbang di Atas Semburan Lava Kīlauea

Aktivitas erupsi kemudian berhenti sekitar pukul 22.30.

Namun, berhentinya aliran lava bukan berarti aktivitas di bawah permukaan langsung berakhir.

Sekitar pukul 22.40, pergerakan patahan mulai terjadi di kawasan Námafjall, sekitar 14 kilometer dari lokasi keluarnya lava. Aktivitas gempa kemudian bergerak ke arah selatan mengikuti zona patahan Krafla.

Penelitian terhadap peristiwa tersebut menunjukkan aktivitas gempa berpindah dengan kecepatan sekitar 0,5 meter per detik. Menjelang tengah malam, delapan gempa berkekuatan lebih dari magnitudo 3 tercatat di sekitar kawasan panas bumi Námafjall.

Di sinilah salah satu bagian paling tidak biasa dari peristiwa 8 September 1977 terjadi.

Magma yang bergerak di bawah permukaan mencapai kawasan panas bumi tersebut. Di sana terdapat sebuah lubang bor panas bumi dengan kedalaman lebih dari 1 kilometer.

Sekitar setelah rangkaian gempa mencapai kawasan itu, material vulkanik keluar melalui lubang bor tersebut.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature mencatat sekitar tiga ton magma keluar melalui lubang bor sedalam 1.138 meter hanya dalam waktu sekitar 20 menit. Material tersebut kemudian membentuk lapisan kecil berupa skoria.

Baca Juga: One Piece Masih Jadi Anime Favorit, Apa yang Bikin Ceritanya Nggak Bosen Ditonton?

Peristiwa tersebut menjadi bukti menarik tentang bagaimana magma dapat bergerak secara horizontal di bawah permukaan. Magma tidak hanya bergerak dari bawah menuju permukaan di satu titik, tetapi dapat menyusup mengikuti rekahan batuan dan zona patahan.

Para peneliti kemudian menyimpulkan bahwa deflasi Krafla pada September 1977 berkaitan dengan perpindahan magma secara lateral dari kawasan kaldera dan pembentukan retakan berisi magma atau dike di sepanjang zona patahan.

Dengan demikian, erupsi Krafla pada 8 September 1977 bukan sekadar peristiwa ketika lava muncul di permukaan. Ada rangkaian proses yang berlangsung di bawah tanah, dimulai dari perubahan tekanan dan getaran vulkanik, dilanjutkan keluarnya lava, pergerakan gempa ke arah selatan, hingga magma yang akhirnya mencapai lubang bor panas bumi.

Peristiwa tersebut juga menjadi salah satu contoh bagaimana aktivitas gunung api dapat memperlihatkan tanda-tanda yang berbeda sebelum dan selama erupsi.

Saat gunung-gunung api di Indonesia kembali menjadi perhatian pada September 2026, kisah Krafla mengingatkan bahwa setiap erupsi memiliki karakteristiknya sendiri. Aktivitas yang terlihat dari permukaan hanyalah bagian dari proses besar yang berlangsung jauh di bawah kaki gunung.

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
Gunung Krafla 8 September 1977 islandia fenomena