Yang membuat Hurricane Felix menarik bukan hanya kekuatannya, tetapi perubahan intensitasnya yang berlangsung sangat cepat. Setelah menjadi hurricane pada 1 September, Felix mengalami rapid intensification atau penguatan intensitas secara cepat.
Pada 2 September, kekuatannya meningkat hingga mencapai kategori 5 dalam skala Saffir-Simpson.
Baca Juga: Ada Apa dengan Angka 7? Kenapa Dunia Seolah Terobsesi dengan Angka Ini?
Namun, kekuatan Felix sempat menurun. Pada 3 September, badai tersebut melemah menjadi kategori 3 ketika mengalami eyewall replacement cycle, yaitu proses ketika dinding mata badai mengalami perubahan yang dapat menyebabkan kekuatan badai sementara menurun. Setelah proses tersebut selesai, Felix kembali menguat.
Memasuki 4 September 2007, fenomena penguatan kembali itu terjadi hanya beberapa jam sebelum Felix mencapai daratan. Pagi hari waktu setempat, National Hurricane Center mencatat Felix terus menguat dan telah menjadi hurricane kategori 5 dengan kecepatan angin maksimum sekitar 160 mph atau 260 kilometer per jam ketika berada di lepas pantai timur laut Nikaragua.
Beberapa jam kemudian, Felix benar-benar menerjang daratan di wilayah timur laut Nikaragua. Dalam laporan National Hurricane Center, badai tersebut tercatat melakukan landfall dengan kekuatan kategori 5 di wilayah ekstrem timur laut Nikaragua.
Baca Juga: Dari Mana Asal Nama “Stasiun”, “Depo”, dan “Peron”? Ternyata Berasal dari Bahasa Asing
Kecepatan anginnya berada di sekitar 160 mph, disertai hembusan yang lebih tinggi.
Fenomena yang terjadi pada Hurricane Felix menjadi perhatian karena kekuatannya dapat berubah secara drastis dalam waktu singkat.
Sebelum kembali mencapai kategori 5, Felix sempat melemah ke kategori 3, tetapi kemudian kembali menguat ketika masih berada di atas perairan dan hanya beberapa jam sebelum mencapai pesisir.
Baca Juga: The Dominion, Kereta yang Pernah Menempuh Ribuan Kilometer untuk Menyeberangi Kanada
Kondisi seperti ini menjadi tantangan tersendiri dalam pemantauan dan persiapan menghadapi badai.
Setelah mencapai daratan, Felix memang mengalami pelemahan dengan cepat. Kurang dari 12 jam setelah landfall, kekuatannya sudah turun menjadi badai tropis ketika bergerak melewati wilayah utara Nikaragua.
Meski demikian, dampak yang ditimbulkannya di kawasan tersebut sangat besar, terutama di wilayah pesisir timur laut Nikaragua.
Hurricane Felix kemudian dikenang bukan sekadar sebagai badai kategori 5, tetapi juga sebagai contoh fenomena rapid intensification yang menunjukkan betapa cepatnya sebuah badai tropis dapat berubah menjadi sistem yang sangat kuat.
Peristiwa pada 4 September 2007 tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah badai di kawasan Amerika Tengah. (Luthfiana Sekar)
Editor : Luthfiana SekarSumber : National Hurricane Center and Central Pacific Hurricane Center