Masakan Jawa dikenal memiliki cita rasa yang manis. (Dok. Jawa Pos)SOLOBALAPAN.COM - Kalau berbicara soal masakan Jawa, rasa manis menjadi salah satu cita rasa yang paling mudah dikenali. Di Solo dan Yogyakarta, rasa tersebut dapat ditemukan dalam berbagai hidangan.
Namun, kebiasaan menyukai makanan manis ternyata tidak sesederhana soal selera lidah. Ada perjalanan panjang yang juga membentuk cita rasa tersebut, mulai dari tradisi masyarakat Jawa, kehidupan keraton, pengaruh kuliner Eropa, hingga sejarah gula pada masa kolonial.
Dalam buku antropologi kuliner Nusantara disebutkan bahwa masakan yang berkembang di Solo dan Yogyakarta cenderung memiliki cita rasa yang manis. Bahkan, makanan yang sebenarnya berasal dari Eropa juga mengalami perubahan setelah masuk ke lingkungan keraton Jawa.
Baca Juga: Meski Tim Senior Terdegradasi, Persis Youth Tetap Segel Tiket Kasta Teratas EPA Tier I!
Makanan tersebut tidak begitu saja dibuat sesuai resep aslinya. Cita rasanya disesuaikan dengan kebiasaan makan dan lidah masyarakat Jawa.
Masyarakat Jawa kuno telah mengenal konsep Sad rasa atau enam rasa dalam ajaran Hindu. Konsep ini mengenal 6 jenis rasa, yaitu manis, asin, asam, pedas, pahit, dan sepat.
Makanan dianggap nikmat ketika keenam rasa tersebut dapat berpadu secara seimbang. Artinya, rasa manis memang memiliki tempat penting dalam tradisi kuliner Jawa, tetapi bukan berarti menjadi rasa yang paling utama.
Lalu, bagaimana rasa manis itu kemudian begitu kuat melekat pada masakan Jawa?
Jawabannya salah satunya dapat ditemukan di lingkungan keraton.
Pada masa lalu, menyantap makanan asing bukan hanya berkaitan dengan urusan kuliner. Hidangan dari Eropa juga dapat menjadi simbol gengsi dan modernitas.
Keraton-keraton Jawa, seperti Mangkunegaran, Kasunanan Surakarta, dan Kesultanan Yogyakarta, kerap menjamu tamu Belanda. Dari lingkungan istana tersebut, berbagai makanan Eropa kemudian masuk ke dapur keraton.
Mulai dari bistik, selat, hingga huzarensla, kemudian berkembang dalam lingkungan kuliner Jawa.
Namun, makanan Eropa tersebut tidak diterima begitu saja. Hidangan yang masuk ke keraton disesuaikan agar cocok dengan lidah Jawa.
Selat Solo menjadi salah satu contohnya. Hidangan tersebut memiliki pengaruh dari bistik, tetapi kemudian menggunakan olahan daging bergaya semur karena lebih murah.
Huzarensla ala Mangkunegaran juga disesuaikan. Bagian dressing-nya dibuat dengan rasa yang lebih manis dan tekstur yang lebih encer.
Baca Juga: Anak Muda Mulai Gemari Gowes, Ini Alasannya
Dari sini terlihat bahwa makanan Eropa yang masuk ke keraton tidak sekadar ditiru. Hidangan tersebut diolah kembali hingga menyatu dengan cita rasa Jawa.
Namun, pengaruh keraton bukan satu-satunya bagian dari perjalanan rasa manis di Jawa.
Ada pula sejarah panjang gula yang ikut berperan.
Pada 1830, pemerintah Belanda menerapkan cultuurstelsel atau sistem tanam paksa. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengisi kembali kas kolonial yang terkuras setelah Perang Jawa melawan Pangeran Diponegoro.
Dalam pelaksanaannya, petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dipaksa menanam komoditas, termasuk tebu.
Perkebunan tebu kemudian berkembang dan mendorong pertumbuhan industri gula di Jawa. Di tengah perkembangan tersebut, gula menjadi salah satu komoditas penting dalam sistem ekonomi kolonial.
Ada kondisi yang cukup ironis pada masa itu. Ketika masyarakat menghadapi persoalan ketersediaan bahan pangan akibat perubahan penggunaan lahan, produksi gula justru berkembang.
Pada 1870, sistem tanam paksa kemudian dihapus. Namun, industri gula tidak berhenti.
Bisnis gula selanjutnya berkembang dengan melibatkan pengusaha swasta Belanda, pengusaha Tionghoa, hingga raja-raja Jawa. Bagi lingkungan keraton, perkembangan tersebut juga membuka sumber kemakmuran baru sekaligus membuat akses terhadap gula menjadi lebih mudah dan murah.
Baca Juga: Jennifer Coppen Rayakan Ultah ke-3 Kamari, Bagikan Pesan tentang Perjalanan Jadi Mama
Rasa manis yang sebelumnya hanya menjadi salah satu bagian dari konsep sad rasa kemudian semakin kuat hadir dalam berbagai hidangan. Pengaruh tersebut juga bertemu dengan kebiasaan keraton yang telah mengadaptasi makanan Eropa ke dalam cita rasa Jawa.
Dari sinilah rasa manis semakin lekat dengan kuliner Jawa.
Jadi, kenapa orang Jawa suka makanan manis? (Hanifatuz Zahra)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : Berbagai Sumber