
SOLOBALAPAN.COM - Dulu, bersepeda mungkin identik dengan kegiatan olahraga di akhir pekan atau sekadar kendaraan untuk pergi ke tempat yang tidak terlalu jauh. Namun, di sejumlah kota Indonesia, sepeda kini punya tempat yang berbeda di kalangan anak muda.
Bersepeda tidak lagi selalu soal seberapa jauh seseorang mampu mengayuh atau seberapa cepat ia mencapai tujuan.
Bagi sebagian anak muda, aktivitas ini juga menjadi cara untuk bertemu teman, bergabung dengan komunitas, mengeksplorasi kota, hingga membangun gaya hidup yang lebih aktif.
Fenomena tersebut bahkan mulai mendapat perhatian dalam penelitian. Studi mengenai budaya bersepeda di Indonesia yang diterbitkan pada 2025 menyebut tren bersepeda di kota-kota Indonesia mengalami peningkatan.
Namun, penelitian yang sama juga menemukan adanya kontradiksi: pesepeda dapat merasa santai dan senang ketika bersepeda, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi lingkungan jalan yang dianggap tidak aman dan kurang nyaman.
Kondisi tersebut tidak terlalu mengejutkan jika melihat bagaimana kota-kota di Indonesia berkembang. Kendaraan bermotor, terutama sepeda motor, masih mendominasi mobilitas sehari-hari.
Penelitian mengenai mobilitas Gen Z di Indonesia juga menunjukkan bahwa perjalanan anak muda masih sangat didominasi kendaraan pribadi.
Dalam salah satu penelitian yang mengamati 434 orang berusia 17–24 tahun selama 153 hari, sekitar 63 persen perjalanan dilakukan menggunakan sepeda motor dan 35 persen menggunakan mobil, sedangkan berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum jika digabung hanya sekitar 2 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sepeda memang belum menjadi pilihan utama mobilitas Gen Z secara umum.
Namun, menariknya, di tengah dominasi kendaraan bermotor tersebut, budaya bersepeda justru tetap berkembang sebagai aktivitas olahraga dan gaya hidup.



