SOLOBALAPAN.COM – Di balik padatnya kawasan permukiman di Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, terdapat sebuah kampung yang menyimpan jejak sejarah cukup unik.
Namanya Kampung Kandangdoro.
Bagi sebagian warga Solo, mungkin sudah bisa menebak asal usul penamaan kampung ini dari namanya.
Penamaan kampung ini disusun dari dua suku kata, yakni kandang atau sangkar, dan doro dalam bahasa Indonesia artinya merpati.
Baca Juga: Asa Usul Kampung Ngebrusan Solo: Permukiman Kolonel-Kolonel Belanda
Ya, Kampung Kandangdoro menyimpan kisah yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat di masa penjajahan Hindia Belanda.
Berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat dan dituturkan secara turun-temurun, kawasan tersebut dulunya banyak terdapat sangkar burung merpati.
Di masa itu, merpati banyak dipelihara untuk mengirim surat atau pesan khusus.
Selain itu, dulu merpati juga dipelihara untuk hobi hingga perlombaan.
”Konon ceritanya, Kampung Kandangdoro diambil dari kata merpati. Karena orang-orang zaman dulu masih mengirim surat atau sebuah pesan menggunakan merpati,” ungkap tokoh masyarakat Kelurahan Kestalan Mintorogo.
Seiring berjalannya waktu, nama Kandangdoro terus melekat meskipun kondisi wilayah sekitar mengalami banyak perubahan.
Kawasan yang dulunya didominasi lahan terbuka dan permukiman sederhana, kini berkembang menjadi lingkungan padat penduduk yang tidak jauh dari Stasiun Solo Balapan.
Perkembangan infrastruktur, pertumbuhan permukiman, serta meningkatnya aktivitas ekonomi di sekitar kawasan tersebut tidak menghapus identitas sejarah yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Hingga kini, nama Kandangdoro masih digunakan sebagai penanda wilayah dan menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.
Secara geografis, Kampung Kandangdoro berada di RW 06 Kelurahan Kestalan.
Letaknya berbatasan langsung dengan rel kereta api (KA) dan aliran Kali Pepe.
Sebagian besar lahan di sana diketahui merupakan aset milik PT Kereta Api Indonesia (Persero), yang telah lama dihuni masyarakat melalui sistem magersari atau perjanjian pemanfaatan lahan.
Kondisi tersebut membentuk karakter sosial Kampung Kandangdoro, yang berhubungan erat dengan sejarah perkembangan jalur perkeretaapian di Kota Bengawan.
”Di era KGPAA Mangkunegara I atau Gusti Pangeran Raden Mas Said, dulu itu Kampung Kandangdoro berupa tanah lapang besar. Di sana juga ada sebuah pemakaman kecil," beber Mintorogo.
Tanah lapang yang dimaksud Mitorogo, tak lain adalah arena pacuan kuda. Nah, kandang-kandang merpati itu dulunya bersebelahan dengan arena pacuan kuda tersebut.
Di era KGPAA Mangkunegara IV, arena pacuan kuda digeser ke kawasan Manahan, Banjarsari Solo.
Kawasan itu lalu disulap menjadi stasiun kereta api, yang kini bertransformasi menjadi Stasiun Balapan Solo.
"Waktu itu kan mau ada kunjungan Ratu Belanda ke Solo. Jadi, dibangun lah jalur kereta api untuk tamu kenegaraan. Stasiunnya ya di bekas arena pacuan kuda itu. Sekarang jadi Stasiun Balapan," ujar Mintorogo.
Meski cerita mengenai asal-usul Kampung Kandangdoro hingga kini lebih banyak bersumber dari tradisi lisan masyarakat, kisah tetap menjadi bagian penting dari warisan sejarah lokal yang patut dijaga.
Di tengah pesatnya pembangunan Kota Solo, ada kampung-kampung kecil yang memiliki jejak bersejarah masa penjajahan Hindia Belanda.
Maka upaya mendokumentasikan sejarah kampung melalui penuturan warga, literatur, maupun penelitian khususu, menjadi langkah penting agar identitas dan nilai budaya perkampung ini tetap lestari. Terus dikenang sebagai warisan sejaran bagi generasi mendatang. (siti putri lestari/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto