SOLOBALAPAN.COM – Ketika mendengar nama Kampung Kauman, ingatan kita langsung tertuju pada sentra batik di sisi barat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Maklum, Kampung Batik Kauman di Kecamatan Pasar Kliwon ini kadung kondang sebagai pusat keagamaan sekaligus destinasi wisata.
Tapi, pasti tidak banyak yang tahu bahwa di Solo juga ada Kampung Kauman lainnya.
Kampung Kauman satu ini lokasinya membentang dari depan Pasar Legi Solo hingga ke selatan yang berbatasan dengan Pura Mangkunegaran.
Keberadaan kampung ini menyimpan sejarah yang tak kalah menarik.
Sebab Kampung Kauman Pasar Legi seolah tenggelam di balik popularitas Kampung Bati Kauman.
Bahkan warga Solo sendiri tidak menyadari, ada dua kampung dengan nama Kauman dengan latar belakang sejarah yang berbeda.
Secara historis, Kampung Kauman Pasar Legi berkembang di kawasan yang sejak dahulu menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Kedekatannya dengan Pasar Legi, salah satu pasar tradisional terbesar di Solo, menjadikan kampung ini ramai oleh lalu lalang pedagang dan pembeli. Tak hanya dari Solo, mereka juga datang dari berbagai daerah di Solo Raya.
Selain dikenal sebagai kawasan permukiman, Kampung Kauman juga memiliki keterkaitan dengan kehidupan keagamaan masyarakat di lingkungan Pura Mangkunegaran.
Seperti halnya kampung-kampung bernama Kauman di daerah lain di Jawa, kawasan tersebut dipercaya menjadi tempat bermukim para tokoh agama, penghulu, maupun masyarakat yang memiliki peran dalam syiar agam Islam.
Baca Juga: Jejak Kampung Semanggi Solo, Berawal dari Hamparan Tanaman hingga Bandar Bengawan
Jejak sejarahnya masih dapat ditelusuri melalui cerita para sesepuh, bangunan-bangunan lama, serta kehidupan masyarakat sekitar yang tetap mempertahankan nilai kebersamaan.
Di balik hiruk-pikuk aktivitas perdagangan Pasar Legi, kampung ini menjadi pengingat bahwa di Solo pernah memiliki banyak kawasan bersejarah yang belum banyak dikenal publik.
Keberadaan Kampung Kauman Pasar Legi menjadi bukti, bahwa setiap sudut Kota Solo menyimpan kisah masa lalu yang turut membentuk identitas kota hingga saat ini.
Ketua Komunitas Solo Societeit Dani Saptoni, keberadaan Kampung Kauman Pasar Legi perlahan tenggelam dari ingatan masyarakat, seiring perubahan tata ruang dan perkembangan sejarah Pura Mangkunegaran.
Salah satu faktor yang disebut paling berpengaruh, yakni peristiwa pemindahan Masjid Al Wustho Mangkunegaran.
Dulu, masjid tersebut berdiri di simpang empat sebelah selatan Pasar Legi.
Selanjutnya, masjid dipindah ke sebelah barat Pura Mangkunegaran.
Perubahan tersebut menyebabkan pusat aktivitas keagamaan di Kampung Kauman praktis ikut bergeser menuju sekitar lokasi masjid yang baru.
Selain itu, kebijakan pemerintahan Pura Mangkunegaran pada masa itu lebih banyak diarahkan pada pengembangan sektor ekonomi dan perdagangan.
Beda dengan Keraton Kasunanan yang semua rajanya melekat gelar Sayidin Panatagama. Pemimpin pemerintahan sekaligus pemimpin agama.
Nah, raja Mangkunegaran tidak memiliki tanggung jawab keagamaan yang sama.
Kondisi tersebut membuat perkembangan syiar Islam di lingkungan Mangkunegaran bukan fokus utama.
"Sehingga eksistensi Kampung Kauman Pasar Legi sebagai kawasan yang identik dengan aktivitas keagamaan, perlahan memudar dan tenggelam dibandingkan Kampung Kauman di Pasar Kliwon," jelas Dani.
Baca Juga: Bukan Sekadar Julukan, Kupu-Kupu dan Kura-Kura Jadi Label di Kalangan Mahasiswa
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kestalan dan Pokdarwis Kota Solo Mintorogo menambahkan, Raja Pura Mangkunegaran KGPAA Mangkunegara I alias Raden Mas Said dulu pernah tinggal di Kelurahan Kestalan, Banjarsari Solo.
Kediaman tersebut juga digunakan untuk rumah singgah. Kemudian membangun masjid pertama di sana, yang lokasinya tepat di depan Pasar Legi Solo saat ini.
“Jadi, dulu itu di depan Pasar Legi berdiri masjid yang pertama kali dibangun Eyang Raden Mas Said. Eyang Raden Mas Said itu pendiri Pura Mangkunegaran. Sebelumnya, beliau pernah tinggal di Kestalan," jelas Mintorogo yang juga Wakil Ketua Pokdarwis Jawa Tengah tersebut.
Terkait pemindahan Masjid Al Wustho ke sisi barat Pura Mangkunegaran, Mintorogo mengaku terjadi di era KGPAA Mangkunegara IV.
"Ketika pemindahan masjid itu, dijanjikan akan dibangun kampung baru lagi. Tetapi rencana itu batal karena para ulama terlanjur ikut pindah ke sekitar masjid yang baru. Sedangkan ulama yang lainnya tidak tahu kemana," imbuh Mintorogo.
Setelah masjid digeser ke selatan, Kampung Kauman perlahan berubah menjadi pusat pedagangan.
Seiring waktu, kampung tersebut menjadi permukiman pendatang yang mayoritas dulunya para pedagang Pasar Legi dari berbagai daerah. Ada yang dari Karanganyar, Boyolali, Sragen, bahkan ada juga dari luar pulau Jawa.
"Mereka akhirnya menikah, berkeluarga, dan beranak pinak di sini. Jadi, penduduk aslinya sudah banyak yang meninggal dan pindah. Di sini kebanyakan orang pendatang," beber Mintorogo. (siti putri lestari/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto