SOLOBALAPAN.COM – Di selatan Kota Solo terdapat sebuah kampung tua yang menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah kota. Kampung Semanggi, yang kini menjadi bagian dari Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, bukan sekadar kawasan permukiman padat penduduk, tetapi juga merekam kisah asal-usul namanya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat.
Nama Semanggi diyakini berasal dari tanaman semanggi (Marsilea crenata) yang pada masa lalu tumbuh sangat melimpah di kawasan tersebut. Kondisi geografis yang berada di tepian Bengawan Solo, dipenuhi persawahan, rawa, dan genangan musiman, menjadikan tanaman air itu berkembang subur.
Tanaman semanggi saat itu bukan hanya menjadi bagian dari bentang alam, tetapi juga dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pangan dan sayuran. Karena keberadaannya yang mendominasi kawasan, masyarakat kemudian menyebut wilayah tersebut sebagai Semanggi, nama yang bertahan hingga sekarang.
Baca Juga: Kampung Notodiningratan Solo, Jejak Kawasan Bangsawan Keraton
Selain menggambarkan kondisi alam, penamaan itu juga mencerminkan tradisi masyarakat Jawa tempo dulu yang lazim memberi nama kampung berdasarkan unsur paling menonjol di wilayahnya, baik berupa tumbuhan, kondisi geografis, mata pencaharian, maupun tokoh yang pernah tinggal di kawasan tersebut.
Pernah Menjadi Bandar Sungai
Secara historis, kawasan Semanggi telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram Islam dan semakin berkembang setelah berdirinya Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 1745.
Letaknya yang berada di tepian Bengawan Solo menjadikan Semanggi memiliki posisi strategis sebagai jalur transportasi sungai sekaligus pintu perdagangan menuju Kota Surakarta. Pada masa itu, kawasan ini dikenal sebagai salah satu bandar sungai yang ramai dilalui pedagang dari berbagai daerah.
Baca Juga: Sejarah dan Asal-usul Nama Kampung Sondakan Solo: Dari Segelas Degan Hijau untuk Pakubuwono II
Seiring berkembangnya pusat pemerintahan Keraton Surakarta, kawasan Semanggi tumbuh menjadi permukiman yang dihuni masyarakat dari beragam latar belakang dan menjadi salah satu kawasan penting di sisi selatan kota.
Cerita Turun-Temurun tentang Pakubuwono IV
Selain dikaitkan dengan keberadaan tanaman semanggi, masyarakat juga mewariskan cerita lisan mengenai asal-usul nama kampung tersebut.
Tokoh masyarakat setempat, Sugiman, menuturkan bahwa cerita yang berkembang menyebut Pakubuwono IV pernah singgah di kawasan Sonosewu ketika mencari lokasi yang akan dikembangkan. Namun karena lahan di wilayah itu dianggap kurang memadai, rombongan melanjutkan perjalanan hingga tiba di kawasan yang kini dikenal sebagai Semanggi.
Saat itu, wilayah tersebut disebut masih berupa hamparan tanah luas yang dipenuhi tanaman semanggi.
"Konon ceritanya dahulu ketika Raja Keraton Pakubuwono IV mau membangun Keraton Surakarta itu singgah dulu ke Sonosewu. Tetapi karena di Sonosewu luas tanahnya tidak memadai, akhirnya kembali lagi dari Kartasura ke sini. Dahulu di sini hanya hamparan tanah yang dipenuhi dengan daun semanggi," ujar Sugiman.
Baca Juga: Asal Usul Kampung Tegalrejo Laweyan: Dari Tanah Tegalan Subur Jadi Kawasan Produksi Batik
Menurut cerita yang diwariskan para sesepuh, ketika melihat hamparan tanaman tersebut, Pakubuwono IV konon berpesan bahwa suatu saat kawasan itu akan dikenal sebagai Kampung Semanggi. Meski lebih banyak hidup sebagai tradisi lisan dan belum didukung bukti sejarah tertulis, kisah tersebut tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.
Berkembang Menjadi Kawasan Perkotaan
Seiring berkembangnya Kota Solo, wajah Kampung Semanggi berubah drastis. Persawahan dan rawa yang dahulu mendominasi kawasan perlahan berganti menjadi permukiman, fasilitas umum, dan pusat aktivitas masyarakat.
Dalam perkembangan administrasi pemerintahan, wilayah ini kemudian ditetapkan sebagai bagian dari Kecamatan Pasar Kliwon. Melalui Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 14 Tahun 2017, Kelurahan Semanggi dimekarkan menjadi dua wilayah, yakni Kelurahan Semanggi dan Kelurahan Mojo, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Meski telah mengalami berbagai perubahan fisik maupun administratif, Kampung Semanggi tetap mempertahankan identitas sejarahnya. Nama yang berasal dari tanaman air yang dahulu tumbuh subur di tepian Bengawan Solo itu menjadi pengingat akan hubungan erat antara alam, masyarakat, dan perkembangan Kota Solo.
Hingga kini, kisah mengenai asal-usul Kampung Semanggi masih terus diwariskan oleh para sesepuh sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat. Cerita tersebut menjadi bukti bahwa nama-nama kampung di Kota Solo bukan sekadar penanda wilayah, tetapi juga menyimpan rekam jejak sejarah, budaya, dan perjalanan panjang terbentuknya kota yang tetap hidup lintas generasi.
Editor : Kabun Triyatno