SOLOBALAPAN.COM - Di berbagai daerah di Indonesia, masyarakat masih dapat menemukan bekas jalur kereta api yang telah berubah menjadi jalan raya, permukiman, hingga lahan kosong.
Padahal, lintasan tersebut dahulu menjadi bagian penting dari jaringan perkeretaapian yang menghubungkan kota-kota besar maupun daerah penghasil komoditas.
Lantas, ke mana sebenarnya rel-rel kereta api itu menghilang?
Sebagian besar rel yang kini tidak lagi terlihat berasal dari jalur kereta api nonaktif.
Baca Juga: Mengapa Jalur Kereta Api Dipenuhi Batu Kerikil? Ternyata Punya Peran Penting bagi Keselamatan
Penutupan jalur terjadi karena berbagai faktor, seperti menurunnya jumlah penumpang, berkurangnya angkutan barang, kerusakan infrastruktur, hingga perubahan pola transportasi yang beralih ke jalan raya.
Sejak pertengahan abad ke-20, banyak lintasan kereta di Indonesia berhenti beroperasi sehingga relnya tidak lagi digunakan.
Ketika sebuah jalur dinyatakan tidak aktif, rel tidak selalu langsung dibongkar. Ada jalur yang tetap dipertahankan sebagai aset negara, sementara sebagian lainnya dibongkar setelah melalui proses administrasi dan kajian teknis.
Pembongkaran biasanya dilakukan apabila jalur sudah tidak memiliki fungsi operasional atau diperlukan untuk penataan kawasan.
Status kepemilikan aset juga harus dipastikan, apakah berada di bawah PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau Direktorat Jenderal Perkeretaapian.
Baca Juga: Menikmati Bentang Alam Indonesia, Ini Fasilitas Mewah dan Eksklusif Kereta Panoramic KAI Wisata
Di sejumlah daerah, bekas jalur kereta api berubah fungsi menjadi jalan raya, permukiman, area perdagangan, bahkan ruang terbuka.
Meski relnya telah hilang, jejak jalurnya masih dapat dikenali melalui bekas jembatan kereta, pondasi emplasemen, atau trase yang memanjang lurus di tengah permukiman.
Namun, tidak semua jalur nonaktif akan hilang selamanya. Pemerintah melalui Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas) masih membuka peluang reaktivasi sejumlah jalur yang dinilai memiliki potensi mendukung mobilitas masyarakat, logistik, maupun pariwisata.
Karena itu, beberapa bekas jalur sengaja dipertahankan agar dapat digunakan kembali di masa depan.
Baca Juga: KA Bengawan, Kereta Ekonomi Ikonik Solo–Jakarta yang Bertahan Lebih dari 30 Tahun
Bagi para pecinta sejarah, bekas rel kereta api bukan sekadar potongan besi yang tertinggal.
Jalur-jalur tersebut menjadi saksi perkembangan transportasi Indonesia sejak masa kolonial hingga sekarang. Meski banyak yang telah menghilang, jejaknya masih menyimpan cerita tentang bagaimana kereta api pernah menjadi urat nadi perekonomian di berbagai daerah. (Lut/an)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : Berbagai Sumber