Ada yang hendak pulang ke kampung halaman, berangkat bekerja ke luar kota, hingga memulai perjalanan wisata. Namun, di balik padatnya lalu lintas penumpang, Stasiun Gambir menyimpan sejarah panjang yang telah dimulai sejak lebih dari satu abad lalu.
Sebelum dikenal sebagai stasiun utama seperti sekarang, kawasan Gambir hanya memiliki sebuah halte kecil bernama Halte Gambir.
Baca Juga: 5 Fakta Unik Stasiun Solo Balapan, Ikon Perkeretaapian yang Menyimpan Banyak Cerita
Halte ini dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebagai bagian dari pengembangan jaringan kereta api di Batavia. Seiring berkembangnya kota dan meningkatnya kebutuhan transportasi, halte tersebut kemudian berkembang menjadi stasiun yang lebih besar dan dikenal sebagai Stasiun Weltevreden.
Memasuki abad ke-20, kawasan Gambir tumbuh menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat. Lokasinya yang berada di dekat Lapangan Gambir—kini menjadi kawasan Monumen Nasional (Monas)—membuat stasiun ini memiliki posisi yang strategis sebagai penghubung perjalanan dari ibu kota menuju berbagai daerah di Pulau Jawa.
Perubahan besar terjadi pada akhir 1980-an ketika pemerintah melakukan pembangunan ulang Stasiun Gambir.
Bangunan lama digantikan dengan stasiun bertingkat yang lebih modern untuk menyesuaikan meningkatnya jumlah penumpang.
Baca Juga: Stasiun Solo Jebres, Bangunan Bersejarah yang Terus Menjaga Denyut Perjalanan Kota Solo
Peron kereta dipindahkan ke lantai dua, sementara area pelayanan penumpang ditempatkan di lantai dasar. Hingga kini, konsep tersebut menjadi salah satu ciri khas Stasiun Gambir dan membedakannya dari banyak stasiun lain di Indonesia.
Selain tampil lebih modern, Stasiun Gambir juga terus melengkapi berbagai fasilitas untuk menunjang kenyamanan penumpang.
Mulai dari ruang tunggu yang luas, area komersial, ruang laktasi, musala, layanan kesehatan, hingga fasilitas bagi penyandang disabilitas.
Lokasinya yang berada di pusat Jakarta juga memudahkan penumpang untuk melanjutkan perjalanan menggunakan TransJakarta, MRT Jakarta, LRT Jabodebek, maupun transportasi umum lainnya.
Saat ini, Stasiun Gambir menjadi salah satu gerbang utama perjalanan kereta api jarak jauh di Indonesia. Berbagai kereta unggulan berangkat dari stasiun ini menuju kota-kota seperti Bandung, Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Malang, hingga Jember.
Selama bertahun-tahun, Gambir identik sebagai stasiun keberangkatan kereta api kelas eksekutif, meski kini beberapa perjalanan telah dialihkan ke stasiun lain sebagai bagian dari penataan operasional PT Kereta Api Indonesia (Persero).D
Baca Juga: Stasiun Purwosari, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Perkeretaapian di Kota Solo
Di luar fungsinya sebagai pusat transportasi, Stasiun Gambir juga menjadi salah satu ikon Jakarta. Letaknya yang berdampingan dengan Monas membuat bangunan ini mudah dikenali, baik oleh masyarakat maupun wisatawan.
Tidak sedikit penumpang yang memanfaatkan waktu sebelum keberangkatan untuk menikmati suasana kawasan Monas atau sekadar mengabadikan momen dengan latar bangunan stasiun.
Lebih dari sekadar tempat naik dan turun penumpang, Stasiun Gambir menjadi saksi perkembangan transportasi ibu kota dari masa kolonial hingga era modern.
Dari sebuah halte sederhana, kini Gambir tumbuh menjadi salah satu simpul transportasi terpenting di Indonesia yang terus menghubungkan Jakarta dengan berbagai kota di Pulau Jawa.
Editor : Kabun Triyatno