SOLOBALAPAN, SURAKARTA – Dalam setiap lakon kethoprak, adegan peperangan selalu menjadi puncak ketegangan yang paling dinantikan penonton.
Berbeda dengan konflik global masa kini yang melibatkan senjata api atau nuklir, peperangan dalam kethoprak adalah sebuah perayaan estetika bela diri dan penghormatan terhadap senjata tradisional Jawa.
Melalui buku Tuntunan Seni Kethoprak, terungkap bahwa adegan perang bukan sekadar adu kekuatan, melainkan representasi kekayaan budaya yang mencakup pencak silat, penggunaan senjata pusaka, hingga tata gelar perang Jawa yang penuh filosofi.
Pencak Silat: Harmoni antara Kekuatan dan Keindahan
Widjaja dalam ulasannya menekankan bahwa pencak silat adalah salah satu kekayaan budaya bangsa yang sangat berbobot.
Dalam kethoprak, pencak silat ditampilkan melalui jurus-jurus yang praktis namun indah dipandang.
“Pengertian pencak silat adalah seluruh gerak, keterampilan, dan kegesitan tubuh—terutama kaki dan tangan—yang melahirkan jurus serang, tangkis, hindar, dan mengunci, beserta gerak 'kembangan' yang indah,” tulis Widjaja.
Di atas panggung, bela diri ini dikreasikan menjadi sandiwara berkelahi yang aman namun tetap terlihat meyakinkan berkat latihan intensif para aktor dan penggunaan senjata properti yang telah disiapkan.
Senjata Tradisional dan Mitos Kesaktian
Salah satu unsur yang memberikan aura magis dalam perang kethoprak adalah penyebutan nama-nama senjata pusaka.
Bagi masyarakat Jawa, senjata tradisional seperti keris, tombak, atau panah bukan sekadar alat perang, melainkan entitas yang memiliki "jiwa" dan sejarah panjang.
Beberapa pusaka ikonik yang sering muncul dalam naskah kethoprak antara lain:
-
Kyai Plered: Tombak legendaris milik Wangsa Mataram.
-
Kyai Bicak: Senjata yang sering dikaitkan dengan kekuatan spiritual.
-
Kyai Kumbang Ali-Ali, Kyai Tunggul Wulung, dan lain-lain.
Pusaka-pusaka ini biasanya mendapatkan perlakuan khusus melalui ritual perawatan (jamasan), dan dalam pertunjukan, kehadirannya sering kali menjadi penentu kemenangan sebuah pihak karena dianggap memiliki kesaktian.
Mengajak Penonton Melintasi Ruang dan Waktu
Adegan perang dalam kethoprak berhasil menarik ketegangan penonton tanpa harus menyakiti satu sama lain.
Melalui koreografi yang rapi, penonton seolah diajak kembali ke masa lalu, di mana martabat dan kekuasaan dipertaruhkan melalui ketangkasan fisik dan kemantapan batin, bukan melalui tombol senjata jarak jauh.
Ini adalah bentuk "sandiwara cantik" yang membuktikan bahwa konflik, meskipun pahit dalam kehidupan nyata, dapat ditransformasikan menjadi sebuah karya seni yang meluhurkan nilai-nilai keberanian dan etika kesatria.
(did/riza hidayatulloh)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo