SOLOBALAPAN.COM - Jauh sebelum kereta listrik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jabodetabek melalui KRL Commuter Line, Indonesia ternyata sudah mengenal kereta api listrik sejak masa Hindia Belanda.
Elektrifikasi perkeretaapian di Indonesia dimulai pada dekade 1920-an dan menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan transportasi modern di tanah air.
Pada awal perkembangan kereta api di Indonesia, sebagian besar perjalanan masih mengandalkan lokomotif uap. Lokomotif jenis ini membutuhkan bahan bakar seperti batu bara atau kayu dan menghasilkan asap dalam jumlah besar.
Baca Juga: Perkembangan Tiket Kereta Api dari Kertas ke Digital
Seiring meningkatnya jumlah perjalanan kereta, terutama di kawasan perkotaan Batavia, muncul kebutuhan terhadap sistem transportasi yang lebih efisien.
Gagasan elektrifikasi kemudian mulai diterapkan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda.
Salah satu jalur yang menjadi proyek awal elektrifikasi adalah lintasan Tanjung Priok–Meester Cornelis atau kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jatinegara.
Pembangunan sistem listrik untuk jalur tersebut dilakukan pada awal 1920-an. Pada 1925, layanan kereta listrik mulai beroperasi di Batavia. Tahun tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah elektrifikasi kereta api Indonesia.
Baca Juga: Mengenal Kereta Luar Biasa (KLB)? Ini Fungsi dan Alasan Kereta Ini Tidak Beroperasi Setiap Hari
Menariknya, elektrifikasi tidak hanya bertujuan mengganti lokomotif uap dengan tenaga listrik. Perubahan ini juga berkaitan dengan perkembangan kota Batavia yang semakin padat.
Kawasan Batavia, Meester Cornelis, dan wilayah sekitarnya mengalami pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi sehingga kebutuhan transportasi massal semakin besar.
Salah satu sumber sejarah perkeretaapian mencatat bahwa pada 1925 jalur listrik Batavia–Buitenzorg atau Batavia–Bogor mulai beroperasi.
Jalur tersebut memiliki panjang sekitar 59 kilometer dan menjadi bagian penting dari jaringan kereta listrik yang kemudian berkembang di wilayah sekitar Batavia.
Elektrifikasi dilakukan dengan memasang jaringan listrik di atas jalur kereta. Sistem tersebut dikenal sebagai overhead catenary, yaitu jaringan kabel listrik yang ditempatkan di atas rel dan dihubungkan dengan perangkat pada kereta.
Kereta kemudian mengambil tenaga listrik dari jaringan tersebut untuk menggerakkan motor listrik.
Baca Juga: Jalur Kereta Api dengan Gradien Tercuram di Indonesia
Sistem seperti ini tentu membutuhkan infrastruktur baru. Selain kabel listrik di atas rel, diperlukan gardu listrik, tiang penyangga, sistem persinyalan, serta rangkaian kereta yang sesuai dengan sistem elektrifikasi.
Dengan demikian, elektrifikasi bukan sekadar memasang kabel di atas rel, tetapi merupakan perubahan besar terhadap keseluruhan sistem perkeretaapian.
Pada masa tersebut, elektrifikasi juga memberikan keuntungan dalam pengoperasian kereta. Kereta listrik dapat memiliki akselerasi yang lebih cepat dibandingkan lokomotif uap karena tenaga langsung disalurkan ke motor listrik.
Hal tersebut sangat berguna untuk perjalanan dengan banyak pemberhentian seperti layanan kereta perkotaan.
Perkembangan elektrifikasi kemudian terus berlangsung. Sejumlah jalur di sekitar Batavia mulai mendapatkan sistem listrik, termasuk jalur menuju Buitenzorg (Bogor).
Kawasan tersebut menjadi salah satu koridor penting karena menghubungkan pusat pemerintahan dan ekonomi di Batavia dengan wilayah selatan.
Kereta listrik pada masa itu juga bukan berarti langsung memiliki bentuk seperti KRL modern yang kita kenal sekarang. Bentuk rangkaian, sistem kelistrikan, dan teknologinya masih berbeda.
Namun, prinsip dasarnya sudah sama: kereta memperoleh tenaga dari jaringan listrik untuk menggerakkan motor penggerak.
Perjalanan elektrifikasi kemudian mengalami perubahan akibat situasi politik dan perang. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, sistem perkeretaapian berada di bawah pengelolaan pemerintahan militer Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, aset dan jaringan perkeretaapian kemudian diambil alih oleh pemerintah Indonesia.
Pada periode setelah kemerdekaan, sistem kereta listrik di wilayah Jakarta tetap mengalami perkembangan. Namun, kondisi infrastruktur yang tidak selalu terawat membuat perjalanan kereta listrik mengalami berbagai kendala.
Memasuki era berikutnya, kebutuhan terhadap transportasi massal di Jakarta semakin meningkat. Elektrifikasi kemudian kembali menjadi bagian penting dalam upaya modernisasi jaringan kereta api perkotaan.
Salah satu perkembangan penting terjadi pada 1970-an, ketika pemerintah mulai melakukan modernisasi sistem angkutan kereta listrik di Jakarta. Rangkaian KRL baru didatangkan dan secara bertahap menggantikan rangkaian kereta listrik lama peninggalan masa kolonial.
Perkembangan tersebut kemudian berlanjut hingga terbentuknya sistem KRL Jabodetabek yang kita kenal sekarang. Jaringan elektrifikasi terus diperluas dan dimodernisasi, sementara armada kereta mengalami beberapa generasi perubahan.
Dengan demikian, KRL yang setiap hari mengangkut jutaan orang di kawasan Jabodetabek sebenarnya memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada yang mungkin dibayangkan.
Akarnya dapat ditelusuri hingga proyek elektrifikasi pada masa Hindia Belanda hampir satu abad lalu.
Yang menarik, salah satu alasan elektrifikasi dahulu dilakukan ternyata memiliki kemiripan dengan kondisi sekarang: kebutuhan transportasi massal yang semakin besar akibat perkembangan kota.
Dari kabel listrik pertama yang dipasang di sekitar Batavia hingga jaringan KRL modern yang membentang di kawasan Jabodetabek, elektrifikasi menjadi salah satu perubahan teknologi paling penting dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Sistem yang awalnya diperkenalkan pada masa kolonial tersebut kemudian terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan transportasi masyarakat Indonesia hingga saat ini. (luthfiana sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber