SOLOBALAPAN.COM - Di sejumlah depo lokomotif di Indonesia masih terdapat sebuah fasilitas berbentuk lingkaran yang sekilas menyerupai jembatan pendek di atas rel.
Alat tersebut dikenal sebagai turntable atau meja putar lokomotif, yaitu perangkat yang digunakan untuk memutar arah lokomotif agar menghadap ke jalur yang diinginkan.
Turntable mulai digunakan sejak era lokomotif uap pada abad ke-19. Pada masa itu, sebagian besar lokomotif dirancang untuk bekerja lebih optimal ketika berjalan dengan posisi kabin menghadap ke depan.
Baca Juga: Jalur Kereta Api dengan Gradien Tercuram di Indonesia
Karena belum semua depo memiliki jalur melingkar (balloon loop), turntable menjadi solusi praktis untuk membalik arah lokomotif.
Cara kerja turntable cukup sederhana. Sebuah jembatan rel dipasang di atas poros yang berada di tengah meja putar. Lokomotif bergerak perlahan hingga berada tepat di atas jembatan tersebut.
Setelah posisi seimbang, jembatan diputar hingga sejajar dengan rel tujuan. Di beberapa lokasi, turntable masih diputar secara manual oleh petugas, sedangkan di depo yang lebih modern telah menggunakan tenaga motor listrik.
Baca Juga: Bagaimana Kereta Diputar di Depo? Ini Cara Lokomotif Berbalik Arah
Selain memutar arah lokomotif, turntable juga memudahkan proses keluar-masuk lokomotif menuju jalur perawatan atau tempat penyimpanan di depo. Dengan fasilitas ini, kebutuhan lahan dapat dihemat karena satu meja putar dapat terhubung ke banyak jalur rel sekaligus.
Di Indonesia, turntable masih dapat dijumpai di beberapa lokasi, seperti Dipo Lokomotif Cirebon, Dipo Jember, dan Divre III Palembang. Sebagian di antaranya masih aktif digunakan dalam operasional harian, sementara lainnya menjadi bagian dari warisan sejarah perkeretaapian.
Salah satu turntable yang menarik perhatian berada di Stasiun Kejaksan Cirebon. Fasilitas tersebut diperkirakan telah digunakan sejak sekitar tahun 1913 dan hingga kini masih berfungsi.
Berdasarkan pelat pabrik yang masih menempel, turntable tersebut diproduksi di Delft, Belanda, sehingga menjadi salah satu peninggalan teknologi perkeretaapian era kolonial yang masih bertahan.
Di Yogyakarta, jejak penggunaan turntable juga dapat ditemukan di kawasan Los Bunder Stasiun Lempuyangan. Bangunan depo berbentuk setengah lingkaran ini dirancang agar setiap jalur lokomotif terhubung langsung dengan meja putar di bagian depan, menunjukkan bagaimana turntable menjadi bagian penting dari tata letak depo lokomotif pada masa Hindia Belanda.
Meski kini banyak depo menggunakan jalur putar atau konfigurasi rel lain yang lebih modern, turntable tetap memiliki nilai historis dan operasional.
Fasilitas ini menjadi bukti kecerdikan para insinyur perkeretaapian dalam mengatasi keterbatasan ruang sekaligus menjaga efisiensi pergerakan lokomotif.
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber