Pembeda Tari Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan Surakarta dengan Gubahan Agus Tasman.

tim solobalapan • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 18:04 WIB
Tari Srimpi Sangupati (DOK: instagram @rakhaaf_)
Tari Srimpi Sangupati.

SOLOBALAPAN.COM- Sebuah karya seni tradisional yang diwariskan oleh para leluhur tentunya harus tetap dijaga dan dilestarikan, namun terkadang kebudayaan itu memang sering dianggap ketinggalan zaman, hal ini diperlukan pengelolaan terhadap gagasan tersebut agar pesan yang ingin disampaikan lebih bisa dipahami serta dapat dilestarikan.

Salah satunya adalah pemadatan karya seni yang berpijak pada karya-karya sebelumnya, tujuan dari pemadatan ini agar sebuah karya dapat lebih menyampaikan inti dari isi tari. Tidak seluruh masalah kehidupan digambarkan dalam sebuah tari, namun mengambil dari inti sebuah masalah agar apa yang ingin disampaikan melalui karya tari tersebut lebih dapat disampaikan dengan baik. 

Baca Juga: Makna Jenang Abang Putih dalam Tradisi Jawa terkait Hari Kelahiran

Perkembangan dan pemadatan pada tari Srimpi atau Bedhaya menghasilkan bentuk tari yang lebih padat, ringkas, dengan tempo yang lebih cepat sehingga dapat disajikan dalam waktu yang relatif singkat. Pemadatan tidak hanya semata untuk mempersingkat durasi sebuah karyatari, namun agar karya tari tersebut tetap dapat dilestarikan.  

Seperti halnya Tari Srimpi Sangupati yang juga mengalami pemadatan serta penyusunan kembali dengan mengurangi pengulangan gerak, memberi variasi pada pola lantai, level gerak, dan arah hadap, juga mengubah tempo menjadi lebih cepat. agar Tari Srimpi Sangupati tetap bisa dilestarikan juga bisa lebih dinikmati. 

Baca Juga: Sekilas Mirip Kue Pukis, Jajanan Rangin Ini Punya Rasa Gurih yang Khas

Pada tahun 1970-an di era PKJT Surakrta dilakukan penggalian tari tradisional Keraton Surakarta, Agus Tasman diberi kepercayaan oleh Gedhon Humardani selaku pelopor dalam lembaga Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT) untuk memadatkan Tari Srimpi Sangupati. 

Alasan Agus Tasman memadatkan Tari Srimpi Sangupati adalah untuk memadatkan waktu, karena Tari Srimpi Sangupati sebelum dipadatkan berdurasi kurang lebih satu jam. Menangkap isi tarian lebih mudah dimengerti mengikuti apresiasi, dalam pemadatan ini merubah bentuk hanya memadatkan komposisinya yaitu gerak atau pola yang berulang. 

Baca Juga: 5 Superfood Indonesia yang Diakui Dunia, Sering Dikonsumsi tapi Jarang Disadari

Sajian Tari Srimpi Sangupati yang dipadatkan oleh Agus Tasman sebagai tonggak munculnya Tari Srimpi di tengah masyarakat luas. Pemadatan dilakukan tidak semata-mata mengubah keseluruhan yang ada di Tari Srimpi Sangupati, namun dilakukan agar sesuai antara bentuk dan isi dari Tari Srimpi Sangupati. 

Berikut perbedaan antara Tari Srimpi Sangupati Keraton Kasunan Surakarta dengan Tari Srimpi Sangupati gubahan Agus Tasman: 

Gerak 

Tari Srimpi Sangupati yang berada di Kasunanan Surakarta disebut dengan Tari Srimpi Sangupati utuh, yang memiliki ciri sekaran dilakukan berulang-ulang dengan menghadap ke arah mata angin. Yang membedakan secara signifikan adalah pada “sekaran pistulan”, Srimpi Sangupati dilakukan secara utuh yaitu diawali dengan gerakan mengambil pistol, perangan pistol, kemudian mengembalikan pistol. Dalam Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan properti pistol yang digunakan adalah pistol sungguhan yang diisi peluru. Setelah mengalami pemadatan di PKJT oleh Agus Tasman, “sekaran pistulan” menggunakan gerakan ambil dan mengembalikan pistol saja dan tidak menggunakan properti pistol. 

Musik 

Nama Tari Bedhaya atau Srimpi di Keraton Surakarta biasanya diambil dari gendhing yang mengiringi nya. Dalam pemadatan diawali dengan merubah gendingnya terlebih dahulu. Perubahan pada musik tari Srimpi Sangupati yang sudah dipadatkan terdapat pada bagian maju beksan, atau yang biasa disebut dengan “pathetan”. “Pathetan” pada Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan lebih panjang daripada yang sudah mengalami pemadatan.

Properti 

Properti Srimpi Sangupati Keraton Kasunanan Surakarta menggunakan properti lengkap yakni meja kecil, kenthi,sloki, dan juga pistol. Sedangkan setelah pemadatan oleh Agus Tasman properti tersebut dihilangkan. Di PKJT dilakukan pemadatan dengan dua gong-an sehingga aplikasi gerakannya dilakukan dengan satu arah. Konsep tersebut diterapkan oleh Agus Tasman pada Srimpi Sangupati untuk kemantapan hayat.

Rasa

Perubahan pada Srimpi Sangupati mengakibatkan perubahan pula pada rasa yang ditimbulkan pada Tari Srimpi Sangupati. Rasa yang ditimbulkan pada Srimpi Sangupati utuh adalah rasa “ngesti” yang memiliki makna ikhlas masuk ke alam lain. Sedangkan pada Srimpi Sangupati yang sudah mengalami pemadatan rasa yang ditimbulkan lebih condong pada rasa antep, kstria dan perwira, hal ini disebabkan karena para penari Srimpi Sangupati dianggap laskar-laskar putri Indonesia yang menjaga keamanan dalam acara perjanjian dengan kolonial Belanda pada jaman dulu.  (adhima aulia)

 

 

 

Editor : Kabun Triyatno
adhima aulia Tari Srimpi tradisional Tari Srimpi Sangupati gending