Legong Kreasi Mahottama Hadirkan Cahaya dan Harapan di Panggung Triwulan Catha Ambya #11

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 18:45 WIB
Legong Kreasi Mahottama pada Pentas Triwulan Catha Ambya #11
Legong Kreasi Mahottama pada Pentas Triwulan Catha Ambya #11

SOLOBALAPAN.COM-Suasana fajar yang perlahan berubah dari gelap menuju semburat merah dan jingga menjadi inspirasi utama dalam pementasan Legong Kreasi Mahottama oleh Pudak Petak Kreatif. Karya tari tersebut tampil dalam Pergelaran Wayang Orang Triwulan Catha Ambya #11 bertema “Harmoni Tradisi dan Akademisi” di Auditorium Sarsito Mangoenkusumo, RRI Surakarta, Selasa (8/9/2026).

Pementasan ini menjadi salah satu sajian yang mempertemukan kekayaan seni tradisi dengan kreativitas akademik dalam satu panggung. Kehadiran Legong Kreasi Mahottama sekaligus menunjukkan bagaimana idiom tari Bali dapat dikembangkan menjadi karya baru tanpa kehilangan karakter estetika yang menjadi akar tradisinya.

Baca Juga: Makan Bersama di Jawa Ternyata Punya Cara Berbeda, Siapa yang Membawa Makanannya?

Pertunjukan berlangsung di tengah tata panggung yang menghadirkan nuansa Bali. Latar gerbang pura, ornamen tradisional, serta penataan artistik panggung membangun suasana yang mendukung karakter karya. Di atas panggung, para penari tampil dalam balutan kostum bernuansa merah, putih, dan emas yang memperkuat kesan megah sekaligus sakral.

Gerak para penari menjadi unsur utama dalam membangun suasana karya. Karakteristik Legong dikembangkan melalui pengolahan sikap tubuh, permainan tangan, mata, serta perpindahan posisi antarp penari. Formasi kelompok turut membentuk dinamika visual sehingga pertunjukan tidak hanya menonjolkan kemampuan individual penari, tetapi juga kesatuan gerak sebagai sebuah kelompok.

Baca Juga: The King’s Warden, Kisah Raja Muda yang Terbuan

Nama Mahottama sendiri memiliki makna “Maha Utama”. Makna tersebut digunakan untuk merepresentasikan matahari sebagai sumber kehidupan sekaligus menjadi landasan filosofis karya. Melalui gerak dan suasana pertunjukan, karya ini menyampaikan penghormatan terhadap sang pemberi kehidupan serta rasa syukur atas keberlangsungan kehidupan.

Dari sisi musikal, suasana tersebut diperkuat melalui musik karya Pasek Wijaya. Musik tidak hanya menjadi pengiring gerak, tetapi turut membangun perubahan suasana yang mendukung perjalanan visual karya dari kegelapan menuju cahaya.

Sementara itu, rancangan kostum digarap oleh I Nyoman Agus Hari S.G. Kostum dengan dominasi warna merah dan ornamen keemasan memberikan karakter kuat pada penampilan penari. Mahkota dan berbagai aksesori yang dikenakan turut mempertegas identitas visual tari Bali dalam karya tersebut.

Baca Juga: Dulu Mengira Nobita Selalu Gagal, Ternyata Ada Arti Kemajuan di Balik Ceritanya

Legong Kreasi Mahottama dikoreografikan oleh Gita Prabhawita. Karya ini merupakan hasil pengembangan repertoar baru yang berpijak pada estetika tari Legong, tetapi dikemas melalui gagasan koreografis yang lebih kontekstual. Proses penciptaannya melibatkan anggota Pudak Petak dalam eksplorasi gerak dan pengembangan karya.

Keterlibatan kelompok seni tersebut membuat pertunjukan tidak berhenti pada penciptaan karya baru, tetapi juga menjadi proses transfer pengetahuan dan pengalaman artistik. Tradisi ditempatkan sebagai dasar yang dapat terus diolah, bukan sebagai bentuk yang berhenti pada pengulangan.

Pementasan dalam Triwulan Catha Ambya #11 menjadi ruang penting bagi karya ini untuk berhadapan langsung dengan penonton. Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi bersama Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, yang mempertemukan seniman dan akademisi melalui pertunjukan seni.

Tidak hanya disaksikan secara langsung, pergelaran juga disiarkan melalui kanal digital dan YouTube RRI Surakarta. Kehadiran media digital memperluas ruang apresiasi sehingga karya yang dipentaskan di panggung dapat menjangkau penonton di luar ruang pertunjukan.

Di balik pementasan tersebut terdapat dukungan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026 Skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) melalui program “Peningkatan Daya Saing Kelompok Seni Pudak Petak melalui Pengembangan Inovasi Karya dan Produksi Konten Kreatif.” Program tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan karya, termasuk penciptaan repertoar, kostum, dan dokumentasi kreatif.

Pada akhirnya, Legong Kreasi Mahottama tidak sekadar menghadirkan tari Bali di atas panggung. Karya ini memperlihatkan bagaimana tradisi dapat mengalami perjumpaan dengan gagasan baru, ruang pertunjukan, dan teknologi tanpa harus kehilangan identitasnya.

Dari suasana fajar yang menjadi sumber gagasan hingga cahaya matahari sebagai simbol harapan, Mahottama membawa pesan bahwa seni tradisi pun dapat terus tumbuh. Ia tidak hanya menjaga apa yang telah ada, tetapi juga menciptakan ruang bagi sesuatu yang baru untuk lahir. (carrieolis ratu lathiifu)

Editor : Kabun Triyatno
Triwulan Catha Ambya tari bali carrieolis ratu legong wayang orang