SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tengah mematangkan persiapan pelaksanaan upacara adat malam 1 Suro, tradisi sakral yang menjadi bagian penting dalam penanggalan Jawa. Keraton memastikan seluruh rangkaian ritual akan tetap dilaksanakan sesuai pakem dan tata cara yang diwariskan secara turun-temurun.
Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta, Gusti Kanjeng Ratu Panembahan Timoer Rumbay, mengatakan persiapan menjelang pergantian Tahun Baru Jawa sejauh ini berjalan lancar tanpa perubahan berarti dalam prosesi utama.
“Kalau malam satu Suronya sendiri kan karena ini sudah berjalan bertahun-tahun, pastinya akan kita laksanakan seperti biasa. Tidak ada perubahan dalam tatanan maupun prosesi intinya,” ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Jeblok Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Begini Tanggapan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
Kebo Kyai Slamet Dipastikan Ikut Kirab
Salah satu bagian yang paling dinantikan masyarakat dalam peringatan malam 1 Suro adalah kirab pusaka dan kehadiran Kebo Kyai Slamet sebagai cucuk lampah atau pemimpin iring-iringan kirab.
Menurut Gusti Timoer, kerbau pusaka tersebut dipastikan kembali dilibatkan dalam prosesi tahun ini. Kondisinya dinyatakan sehat setelah tahun lalu sempat mengalami pembatasan akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“Kerbaunya yang akan dikeluarkan juga sudah siap, setelah tahun kemarin sempat dikarantina karena wabah,” jelasnya.
Pusaka yang Dikarak Masih Menunggu Dawuh Sinuhun
Meski keberadaan Kebo Kyai Slamet sudah dipastikan, Keraton belum dapat mengumumkan secara resmi pusaka-pusaka yang akan diarak dalam kirab malam 1 Suro.
Keputusan mengenai jenis dan jumlah pusaka yang akan keluar masih menunggu dawuh atau perintah dari Sinuhun selaku pemimpin Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Baca Juga: Suarakan Perdamaian Global, UMS Gelar Social Gathering English Tutorial Program 2026
“Namun untuk pusakanya sendiri, sampai saat ini belum ada dawuh resmi dari Sinuhun. Biasanya, keputusan mengenai pusaka mana saja yang akan dikeluarkan baru akan diumumkan setelah adanya dawuh resmi dari beliau,” kata Gusti Timoer.
Tradisi Sarat Makna Spiritual
Lebih dari sekadar prosesi budaya, malam 1 Suro memiliki makna spiritual yang mendalam bagi Keraton dan masyarakat Jawa. Salah satu tradisi yang dikenal luas adalah laku bisu, yakni berjalan tanpa berbicara sepanjang rute kirab sebagai bentuk perenungan dan pengendalian diri.
Menurut Gusti Timoer, seluruh rangkaian kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan sarana untuk memanjatkan doa dan harapan di tahun yang baru.
“Inti dari semua prosesi ini adalah doa. Kita memanjatkan doa di tahun yang baru ini untuk keselamatan keraton, keselamatan negara, dan juga keselamatan seluruh lapisan masyarakat,” tuturnya.
Koordinasi Keamanan Terus Dimatangkan
Hingga saat ini, pihak Keraton belum merinci jadwal operasional kirab secara detail kepada publik. Hal tersebut karena pelaksanaan upacara adat masih mengikuti ketentuan dan tata aturan internal yang bersifat sakral.
Meski demikian, koordinasi dengan aparat keamanan dan berbagai pihak terkait terus dilakukan guna memastikan seluruh rangkaian tradisi berjalan aman, tertib, dan lancar.
Tradisi malam 1 Suro sendiri selalu menjadi magnet budaya yang menarik ribuan masyarakat dari berbagai daerah untuk menyaksikan langsung prosesi kirab pusaka dan ritual yang menjadi warisan budaya Keraton Surakarta. (dam/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto