Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Bukan Cuma Pendhapa! Ini Deretan 14 Venue Ikonik 24 Jam Menari ISI Surakarta 2026 yang Bikin Penonton Takjub

Laila Zakiya • Senin, 11 Mei 2026 | 16:09 WIB

Opening Ceremonial 24 Jam Menari ISI Surakarta di Pendhapa Ageng GPH. Joyokusumo. (DOK: Instagram @padodo)

Opening Ceremonial 24 Jam Menari ISI Surakarta di Pendhapa Ageng GPH. Joyokusumo. (DOK: Instagram @padodo)

 
SOLOBALAPAN.COM - Perhelatan 24 Jam Menari ISI Surakarta tahun 2026 yang digelar pada 29 April lalu menghadirkan pengalaman menyeluruh bagi penonton melalui pemanfaatan berbagai ruang pertunjukan. Dengan total 14 venue yang tersebar di Kampus I, acara ini menawarkan keberagaman sajian seni.

Dari total 14 venue tersebut terdapat beberapa venue prioritas dan utama dari pergelaran 24 Jam Menari ISI Surakarta 2026. 

Salah satu venue utama adalah Pendhapa Ageng GPH. Joyokusumo yang menjadi pusat pembukaan acara. Di ruang ini, seremoni awal berlangsung dengan nuansa sakral sekaligus meriah.

Selain itu, Teater Besar Gendhon Humardhani digunakan sebagai tempat berlangsungnya Creative Meeting Perguruan Tinggi Seni se-Indonesia. Forum ini menjadi ruang diskusi akademik yang mempertemukan berbagai perspektif.

Teater Kecil Kusuma Kesawa difungsikan sebagai tempat pementasan Masterpiece Pelaku 24 Jam. Di sini, para penari menampilkan karya terbaik mereka dalam format yang lebih intim.

Baca Juga: Siapa Anindya Caroline? Influencer Cantik yang Diam-diam Dinikahi Ridho Illahi di Padang, Ternyata BA E-sports?
 

Closing Ceremonial di Teater Kapal/Teater Terbuka. (DOK: Instagram @padodo)
Closing Ceremonial di Teater Kapal/Teater Terbuka. (DOK: Instagram @padodo)

 
Sementara itu, Teater Kapal atau Teater Terbuka menghadirkan pertunjukan komunitas, khususnya yang melibatkan anak-anak. Panggung terbuka ini memberikan suasana yang lebih santai dan interaktif.

Memasuki malam hari, Pendhapa Ageng kembali menjadi pusat perhatian dengan sajian dari Pura Mangkunegaran. Pertunjukan ini menghadirkan nilai tradisi yang kuat dalam balutan estetika klasik.

Pada waktu yang sama, Teater Besar Gendhon Humardhani menampilkan komunitas-komunitas VIP. Sajian di venue ini cenderung menghadirkan karya dengan skala besar dan konsep matang.

Keragaman program ini menunjukkan adanya pembagian ruang yang terstruktur. Setiap venue memiliki kurasi tersendiri sesuai dengan karakter pertunjukan.

Memasuki dini hari, Pendhapa Ageng kembali dihidupkan oleh komunitas kerakyatan. Pertunjukan yang disajikan membawa nuansa tradisional yang lebih membumi. Di sisi lain, Teater Kapal juga menjadi lokasi penutupan acara. Closing ceremonial digelar di ruang terbuka ini dengan melibatkan berbagai elemen pertunjukan.

Baca Juga: Buron Kasus Cabul Santriwati di Pati Diciduk di Wonogiri, Sempat Berbaur dengan Warga
 

Persembahan Pura Mangkunegaran di Pendhapa Ageng GPH. Joyokusumo. (DOK: Instagram @padodo)
Persembahan Pura Mangkunegaran di Pendhapa Ageng GPH. Joyokusumo. (DOK: Instagram @padodo)

 
Penggunaan banyak venue memungkinkan distribusi penonton yang lebih merata. Hal ini juga memberi kebebasan bagi pengunjung untuk memilih pengalaman yang diinginkan. Setiap ruang tidak hanya berfungsi sebagai tempat, tetapi juga bagian dari konsep artistik. Interaksi antara karya dan ruang menjadi pengalaman tersendiri.

Dengan demikian, penonton tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga merasakan dinamika ruang yang terus berubah sepanjang waktu.

Konsep multi-venue ini menjadi salah satu kekuatan utama acara. Ia menghadirkan keberagaman tanpa kehilangan arah kuratorial.

Melalui pengelolaan ruang yang matang, 24 Jam Menari berhasil menciptakan ekosistem pertunjukan yang hidup. Kehadiran venue-venue ini mempertegas bahwa ruang adalah bagian penting dalam pengalaman tari. (sen/lz)

Artikel ini ditulis oleh Senda, mahasiswi jurusan Seni Tari ISI Surakarta

Editor : Laila Zakiya
#24 jam menari