Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Mengenal Sejarah dan Estetika Tari Adaninggar Kelaswara, Mahakarya Seni Gaya Surakarta

Didi Agung Eko Purnomo • Minggu, 19 April 2026 | 13:50 WIB
Tari Adaninggar Kelaswara. (DOK: Wildan)
Tari Adaninggar Kelaswara. (DOK: Wildan)

SOLOBALAPAN, BUDAYA — Seni tari klasik Jawa sering kali dianggap sebagai pertunjukan yang hanya mengutamakan ketenangan.

Namun, jika menelisik lebih dalam pada Tari Adaninggar Kelaswara, penonton akan menemukan sebuah drama cinta segitiga yang panas, isu perselingkuhan, hingga perebutan harga diri yang divisualisasikan dengan sangat gemulai namun penuh tenaga.

Tarian ini merupakan salah satu pusaka seni Gaya Surakarta yang mengangkat narasi kompleks tentang dua perempuan tangguh yang terjebak dalam pusaran konflik perasaan terhadap pria yang sama.

Akar Konflik: Cinta yang Tumbuh di Tengah Penaklukan

Narasi tari ini bermula dari kisah Wong Agung Jayengrana yang berhasil menaklukkan negeri China. Di tengah kekalahan negerinya, Adaninggar—putri Kaisar China—justru jatuh hati kepada sang penakluk.

Baca Juga: Bedah Karakter Rahwana dalam Tari Anoman Rahwana: Simbol Angkara Murka yang Berwibawa

Dorongan cinta yang membara membuat Adaninggar nekat melintasi samudera menuju Pulau Jawa. Namun, impiannya untuk bersanding dengan Jayengrana terbentur tembok besar bernama Kelaswara, sang istri sah. Pertemuan kedua perempuan ini bukan berakhir dengan jabat tangan, melainkan dengan dentingan senjata di medan laga.

Simbolisme Gerak: Perebutan Cinta dan Harga Diri

Peperangan yang ditampilkan di atas panggung bukan sekadar gerakan koreografi teknis, melainkan simbolisasi dari:

Transformasi Estetika: Versi Agus Tasman hingga Gendhon Humardhani

Tari ini memiliki sejarah perkembangan yang menarik dari sisi kepenarian:

  1. Tahun 1975: Pertama kali disusun oleh Agus Tasman, yang terinspirasi dari Tari Wireng Putri Mandrarini milik Pura Mangkunegaran.

  2. Tahun 1977: Digarap ulang secara revolusioner oleh tokoh seni Gendhon Humardhani. Di tangan beliau, tarian ini menjadi lebih hidup dan dramatik.

Dalam versi pengembangan, karakter Adaninggar dibuat lebih kenes (centil/lincah), sigrak (bersemangat), dan gagah. Perubahan ini sangat penting untuk menggambarkan sosok putri China yang aktif, berani, dan gesit dalam mengejar ambisinya.

Intensitas Peperangan: Tegas, Greget, dan Sereng

Bagian klimaks atau peperangan dalam Tari Adaninggar Kelaswara dikenal memiliki aura yang sangat kuat. Pengolahan ruang, pola lantai, hingga dinamika tubuh para penarinya dibuat lebih tegas, greget, dan sereng (tegang/serius).

Intensitas ini sengaja dibangun agar penonton bisa merasakan "panasnya" konflik batin antara sang istri sah dan sang putri yang datang dari jauh.

Melalui tari ini, isu-isu personal manusia yang universal—seperti kecemburuan dan persaingan—disampaikan tanpa satu patah kata pun, melainkan melalui ketajaman tatapan mata dan keanggunan gerak tubuh.

Profil Tari Adaninggar Kelaswara:

(did/senda)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Tari Adaninggar Kelaswara #sejarah #mahakarya #estetika #surakarta