SOLOBALAPAN.COM - Teater sebagai karya seni pertunjukan, merupakan sebuah ekspresi pengkarya yang tidak jauh dari keresahan atau bahkan ketertarikannya dalam memandang sebuah aspek kehidupan.
Ada berbagai macam bentuk dan gaya dalam dunia teater, diantaranya adalah tragedi, komedi, tragedi-komedi, absurd, realis, hingga post realis.
Namun, ada juga teater tradisi yang sudah lebih dulu menjadi hiburan masyarakat Jawa, khususnya Surakarta, yang dikenal sebagai Kethoprak.
Berbagai kisah sejarah dari babad Tanah Jawa, Kerajaan-Kerajaan, hingga kisah Panji Asmarabangun yang menurunkan kisah rakyat seperti keong Mas, Panji Semirang, hingga Ande-Ande Lumut.
Dewasa ini, mahasiswa Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, melihat Kethoprak bukan hanya sebagai pertunjukan tradisi, melainkan sebagai tools dalam menyampaikan keresahan yang mereka rasakan.
Antika Fitriyani, Mahasiswi Teater semester 6 melihat isu orang tua yang Strict Parents, yaitu kondisi dimana orang tua memiliki pola asuh yang otoriter dengan aturan yang ketat.
“Orang tua Raden Panji Asmarabangun atau Inu Kertapati seakan-akan mengharuskan anak mereka menikah dengan Candrakirana sebagai satu-satunya jalan dalam menyatukan dua kerajaan. Sehingga saat Raden Panji menolak untuk dijodohkan, orang tuanya bertitah untuk membunuh kekasih Raden Panji, Dewi Angreni,” kata Antika.
Kejadian yang sama terkait pembunuhan Dewi Angreni, juga berkaitan dengan membawa isu marriage is scary, kejadian dimana anak muda sekarang memiliki ketakutan untuk menikah karena keresahan pribadi seperti KDRT, kondisi ekonomi, hingga trauma akan hubungan yang toxic.
Baca Juga: Tragedi SMPN 2 Sumberlawang Jadi Alarm: Disiplin Guru Disidak, CCTV Sekolah Diwacanakan
Isu terkenal lainnya adalah Childfree, kondisi dimana pasangan muda zaman sekarang yang mmiliki komitmen untuk tidak memiliki keturunan, dengan berbagai alasan seperti fokus karir, lebih memilih menghidupi anak yatim, hingga trauma akan kesehatan mental. Isu ini dikaitkan dengan keadaan Panji setelah menikahi Candrakirana.
Kethoprak dalam hal ini akan tetap relevan dengan kehidupan masyarakat modern, khususnya masyarakat Jawa, selama sang pengkarya/sutradara teliti dan cekatan dalam melihat kondisi sosial yang kemudian disampaikan melalui sebuah pertunjukan. (riz/lz)
Editor : Laila Zakiya