SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM — Siang telah meninggi, namun cahaya matahari seolah enggan menyentuh tanah di Kampung Klurahan, Kelurahan Sukoharjo.
Awan kelabu menggantung rendah, menutup langit dan menciptakan suasana yang ganjil—seolah waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.
Di bawah bayang-bayang mendung itu, kompleks Makam Kyai Langsur berdiri sunyi. Angin berembus pelan, membawa aroma bunga setaman yang tersusun rapi di atas pusara tua.
Tak ada suara ramai, hanya desir dedaunan dan bisikan kepercayaan yang telah hidup turun-temurun di tengah masyarakat.
Baca Juga: Mengenal Saint Kitts and Nevis: Calon Lawan Timnas Indonesia yang Ingin 'Rusak Pesta' di GBK!
Warga setempat meyakini, tempat ini bukan sekadar makam. Di sinilah jejak seorang bangsawan keraton berakhir—atau mungkin justru dimulai kembali dalam bentuk yang tak kasatmata.
Makam tersebut dipercaya sebagai peristirahatan terakhir Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Suryobroto, sosok yang lebih dikenal sebagai Kyai Langsur. Nama “Langsur” sendiri bukan tanpa makna. Dalam tutur Jawa, ia diartikan sebagai “nglangsur”—berangsur-angsur meninggalkan dunia gemerlap keraton, menuju kehidupan sunyi bersama rakyat kecil.
Namun, kisahnya tak pernah benar-benar selesai.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukoharjo, Havid Danang Purnomo Widodo, mengungkapkan bahwa sosok Kyai Langsur memiliki keterkaitan erat dengan sejarah panjang Keraton Surakarta pada masa kekuasaan Pakubuwana V.
“Secara historis, beliau diyakini memiliki garis keturunan keraton. Namun karena bukan putra dari permaisuri, posisinya lemah secara politik,” ujarnya.
Dalam berbagai cerita lisan, Kyai Langsur dikenal sebagai Raden Mas Surya Brata—sosok yang tak hanya cerdas dan taat, tetapi juga diyakini memiliki kemampuan batin yang melampaui manusia biasa. Ia hidup di masa penuh gejolak, ketika konflik internal keraton dan tekanan kolonial terus membesar.
Bayang-bayang sejarah seperti Perjanjian Giyanti hingga perlawanan tokoh besar seperti Pangeran Diponegoro menjadi latar dari perjalanan hidupnya.
“Dalam beberapa versi, Kyai Langsur memilih meninggalkan keraton karena tidak tahan melihat penderitaan rakyat akibat penjajahan,” imbuh Havid.
Sejak itu, jejaknya berubah samar.
Ia disebut melarikan diri ke wilayah Klurahan, hidup menyamar sebagai rakyat biasa. Tak lagi mengenakan atribut kebangsawanan, ia bercampur dengan petani, mengajarkan bercocok tanam, hingga ilmu kanuragan. Namun, sebagian warga percaya, penyamarannya bukan sekadar strategi—melainkan awal dari perjalanan spiritual yang lebih dalam.
Aura sakral makam semakin terasa saat tradisi Sadranan digelar setiap tahun. Biasanya berlangsung saat bulan purnama sekitar September, ketika langit malam diyakini lebih “terbuka”.
Ritual dimulai dengan doa bersama di kompleks makam, dilanjutkan kirab budaya keesokan harinya. Warga mengenakan busana adat Jawa, berjalan perlahan diiringi gamelan. Tombak, payung, dan bunga setaman dibawa dalam prosesi—seolah menghidupkan kembali masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.
Namun di balik tradisi itu, tersimpan aturan yang tak tertulis.
Salah satunya adalah ritual bagi pemuda asli Klurahan yang menikahi perempuan dari luar daerah. Mereka diwajibkan mengelilingi makam Kyai Langsur—sebuah prosesi yang diyakini sebagai bentuk permohonan restu kepada leluhur yang tak terlihat.
“Itu simbol penghormatan sekaligus permohonan restu,” jelas Havid.
Tak hanya itu, ada pula pantangan yang masih dijaga hingga kini. Warga dilarang memelihara hewan tertentu seperti sapi, babi, dan kuda. Sebagai gantinya, kerbau menjadi pilihan yang lebih “aman” menurut kepercayaan setempat.
Bagi sebagian orang luar, semua itu mungkin terdengar tak masuk akal. Namun bagi warga Klurahan, keyakinan tersebut adalah bagian dari identitas—warisan yang tak hanya hidup dalam cerita, tetapi juga dalam keseharian.
Dan saat senja mulai turun, kabut perlahan kembali menyelimuti makam itu.
Menyisakan satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab:
apakah Kyai Langsur benar-benar telah pergi… atau masih menjaga dalam diam? (kwl/an)