SOLOBALAPAN.COM – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, warna merah perlahan mengambil alih sudut-sudut kota.
Lampion-lampion merah bergantungan di klenteng, teras rumah, pusat perbelanjaan, hingga jalanan utama, memancarkan cahaya hangat yang menandai datangnya tahun baru.
Di balik kilaunya, lampion bukan sekadar hiasan, melainkan simbol budaya yang sarat makna bagi masyarakat Tionghoa.
Tradisi menyalakan lampion diyakini telah ada sejak lebih dari dua ribu tahun lalu di Tiongkok, tepatnya pada masa Dinasti Han. Pada awal kemunculannya, lampion berfungsi sebagai alat penerangan di malam hari sekaligus simbol penghormatan kepada dewa dan leluhur.
Seiring berjalannya waktu, cahaya lampion menemukan peran baru—menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan besar, termasuk Festival Musim Semi yang kini dikenal sebagai Tahun Baru Imlek.
Warna merah pada lampion memiliki arti khusus. Dalam tradisi Tionghoa, merah melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, serta perlindungan dari energi buruk. Warna ini dipercaya mampu mengusir kesialan dan membawa harapan baik, sehingga hampir selalu hadir dalam setiap perayaan penting.
Mendekati Imlek, lampion merah kembali menjadi primadona. Penjualannya meningkat pesat, dengan beragam pilihan bentuk dan ukuran.
Dari lampion bulat klasik hingga desain modern yang dihiasi naga, simbol shio tahun berjalan, dan tulisan harapan keberuntungan, semuanya hadir untuk menyemarakkan suasana.
Tak hanya menggantung di rumah-rumah, lampion merah juga menghiasi klenteng dan ruang publik. Kehadirannya menciptakan lanskap visual yang memikat, mengundang warga untuk berhenti sejenak, mengabadikan momen, atau sekadar menikmati nuansa Imlek yang hangat dan meriah.
Secara historis, lampion bukan hanya elemen dekoratif. Sejak ribuan tahun lalu, cahaya lampion digunakan sebagai simbol doa kepada langit, pengharapan akan keselamatan, dan penanda waktu perayaan.
Makna tersebut terus hidup hingga kini, meski bentuk dan desainnya semakin beragam mengikuti perkembangan zaman.
Baca Juga: Ironi Eggi Sudjana Polisikan Roy Suryo, Relawan Jokowi di Solo Tertawa Santai: Jadi Tontonan Hiburan
Di Indonesia, lampion merah tak lagi menjadi milik satu komunitas. Tradisi ini telah menyatu dengan kehidupan masyarakat luas. Banyak warga dari berbagai latar belakang sengaja menghiasi rumah atau tempat usaha mereka dengan lampion sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya, sekaligus menyambut energi positif di awal tahun.
Beberapa keluarga bahkan menyelipkan kertas kecil berisi doa dan harapan di bawah lampion. Sebuah kebiasaan sederhana, namun sarat makna—menggantungkan asa agar tahun yang baru membawa kebahagiaan, kesehatan, dan keberkahan.
Kehadiran lampion merah setiap Imlek pun menjadi simbol persatuan dalam keberagaman. Ia menunjukkan bagaimana tradisi Tionghoa telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia, dirayakan bersama tanpa sekat.
Dengan cahaya hangat yang dipancarkannya, lampion merah tak hanya menerangi malam perayaan Imlek. Ia juga menyalakan harapan—tentang tahun yang lebih baik, penuh kebahagiaan, dan sarat keberkahan. (iz/an)
— Izza Aziza Queen Sophia