SOLOBALAPAN.COM – Keceriaan dan keindahan nuansa imlek mulai terlihat dari kejauhan. Lampion-lampion merah perlahan menghiasi koridor Jalan Jenderal Sudirman hingga kawasan Pasar Gedhe Solo.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kota Bengawan kembali bersiap menyambut Tahun Baru Imlek, yang pada 2026 ini jatuh pada Selasa, 17 Februari. Dan seperti tradisi yang tak pernah absen, barongsai kembali menjadi denyut utama kemeriahan.
Di Solo, perayaan Imlek bukan hanya milik satu komunitas. Ia tumbuh menjadi pesta budaya kota—dirayakan di klenteng, pusat perbelanjaan, hingga ruang-ruang publik.
Barongsai dengan gerakannya yang lincah dan penuh energi selalu berhasil mencuri perhatian siapa saja yang menyaksikan, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Lebih dari sekadar hiburan, barongsai menyimpan makna yang dalam. Dalam tradisi Tionghoa, singa dipercaya sebagai simbol keberanian, kekuatan, dan pembawa keberuntungan. Kehadirannya diyakini mampu mengusir roh jahat sekaligus membuka jalan bagi rezeki dan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Sejarah barongsai sendiri telah menempuh perjalanan panjang. Diperkirakan sudah ada sejak Dinasti Han, sekitar dua ribu tahun silam, tarian ini awalnya dipentaskan dalam ritual kerajaan dan upacara keagamaan.
Doa keselamatan, kemakmuran, serta hasil panen yang melimpah menjadi harapan yang menyertai setiap gerakannya. Seiring waktu, barongsai pun turun ke tengah rakyat, menjelma sebagai seni pertunjukan yang dinantikan dalam berbagai perayaan.
Di balik kostum singa yang tampak gagah, terdapat dua penari yang bergerak selaras. Kepala dan badan singa digerakkan mengikuti irama genderang, simbal, dan gong yang menghentak.
Lompatan tinggi, gerakan berguling, hingga aksi memanjat tiang besi menjadi atraksi yang membuat penonton menahan napas sekaligus bertepuk tangan kagum.
Salah satu momen paling ditunggu adalah saat barongsai “memakan” angpao yang digantung tinggi. Adegan ini bukan sekadar atraksi, melainkan simbol pengambilan rezeki dan keberuntungan.
Angpao tersebut kemudian diberikan kembali kepada pemilik tempat sebagai tanda berkah dan doa baik.
Di Indonesia, barongsai telah melampaui batas tradisi etnis. Kini, seni ini menjadi bagian dari khazanah budaya nasional. Banyak sekolah, komunitas, dan sanggar seni mengajarkan barongsai kepada generasi muda dari berbagai latar belakang suku dan agama. Sebuah bukti bahwa budaya dapat menjadi ruang perjumpaan dan pembelajaran bersama.
Baca Juga: Bahagia Berlipat! Fiki Naki Umumkan Tinan Drose Hamil Anak Pertama
Sejak kembali diakui dan bebas dipertunjukkan di ruang publik, barongsai semakin sering hadir dalam festival budaya dan perayaan kota. Di Solo, kehadirannya menjadi simbol toleransi yang hidup—bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan sesuatu yang dirayakan bersama.
Maka, setiap kali genderang barongsai bergema di perayaan Imlek, yang hadir bukan hanya tarian singa. Ada harapan yang disematkan, ada persatuan yang dirayakan, dan ada semangat untuk menyongsong tahun baru dengan kebahagiaan. Dari generasi ke generasi, barongsai terus menari—menjaga tradisi tetap hidup di tengah denyut zaman. (iz/an)
— Izza Aziza Queen Sophia