SOLOBALAPAN.COM - Adat pernikahan Jawa yang ada di daerah Kota Solo memang ada banyak. Salah satunya yaitu siraman.
Siraman ini berasal dari kata ‘siram’ yang mempunyai arti memandikan calon pengantin supaya calon pengantin bersih, suci lahir dan batin.
Adat siraman ini masih terus dipakai oleh orang-orang yang mau menikah dengan adat Jawa, khususnya di daerah Solo.
Adat siraman ini dibahas dalam penelitian Endang Setyaningsih dan Atiek Zahrulianingdyah dalam Jurnal TeknoBuga.
Dijelaskan, adat siraman ini adat budaya siraman pengantin Jawa berasal dari tradisi nenek moyang kita dan memiliki nilai-nilai kehidupan yang adi luhung.
Siraman memiliki filosofi dan makna tentang membina rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warohmah.
Selain itu, siraman juga terdapat petuah dan petunjuk yang diberikan oleh orang tua kepada calon pengantin sebagai bekal hidup mereka.
Siraman ini dipercaya bisa membersihkan jiwa seseorang dalam menempuh babak baru.
Selain itu, di dalam prosesi siraman ini ada prosesi “dodol cendol”.
Prosesi ini bermakna dari cendol yang berbentuk bulat yang melambangkan kebulatan tekad kedua orang tua untuk menjodohkan anaknya.
Kemudian membeli cendol dengan kereweng (pecahan genting).
Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia berasal dari bumi, ada juga yang melayani pembeli adalah sang ibu, sementara yang menerima uang yaitu ayah.
Hal ini mengajarkan bahwa mencari nafkah harus saling membantu.
Selain itu, dalam prosesi siraman ini juga menggunakan perlengkapan.
Namun, perlu diketahui bahwa setiap perlengkapan ini mempunyai makna masing-masing.
Mari simak bersama makna dari perlengkapan yang ada di siraman.
• Air tujuh sumber (pitu) – air perwitosan (kendi)
Makna dari ini yaitu Orang Jawa sangat mensakralkan angka 7 (pitu) yang berarti pitulungan atau pertolongan.
• Kain batik wahyu temurun
Maknanya yaitu berharap bisa mendapatkan wahyu da dijauhkan dari segala godaan.
• Kain bangun tolak
Yang harapannya bisa terhindar jauh dari halangan, rintangan hidup
• Batik cakar (sebutan kaki ayam)
Ini meurpakan sebutan kaki ayam supaya mempelai dapat ceker-ceker, seperti ayam dalam mencari makan.
• Busana kembengan (setelan)
Hal ini mempunyai makna bersih tata lahir batinnya. Serta keikhlasan akan meninggalkan status gadis dan menjalani hidup berumah tangga.
• Motif yuyu sekandang
Motif ini ada harapan untuk mendapatkan keturunan/kelanjutan generasi berikutnya.
• Gayung dari tempurung kelapa
Yang mempunyai arti kebulatan tekad orang tua untuk melepaskan putera/puterinya untuk hidup berumah tangga.
• Air sekar manca warna dalam jambangan (banyu sekar setaman)
Air siramaan ini mempunyai bau yang harum, karena dengan aneka bunga yang banyak.
• Kloso bongko
Ini merupakan nama klasan tikar baru dari daun pandan.
• Daun tolak-balak
Daun tolak balak : Daun opo-opo, daun koro, daun kluwih, daun dadap srep, daun alang- alang.
• Lawon/kainn blacu
Berasal dari serat kapas, yang berarti sehari-harinya berkecukupan barang.
• Cendol berbentuk bulat
Cendol yang berbentuk bulat merupakan lambang kebulatan kehendak orang tua untuk menjodohkan anak.
• Uang kreweng
Yang berarti bahwa kehidupan manusia berasal dari bumi/tanah.
• Tumpeng lengkap
Ini mempunyai makna bahwa hubungan manusia dengan Tuhan, dan mengahrapkan agar didalam menjalankan sebuah kehidupan berumah tangga hidup rukun dengan ridho Allah.
• Tumpeng robyong
Tumpeng nasi putih berbentuk kerucut yang dihias dengan sayuran mentah. Hal ini bermakna supaya hajatan mantunya banyak tamu yang datang.
• Tumpeng gundul
Tumpeng ini menggambarkan payudara ibu, karena dalam pernikahan itu berhaarap anak-anak hidup pertama kali dengan air susu ibu.
• Jajan pasar
Jajan pasar yang darri olahan hasil bumi, yakni pala kependen(jenis buah dari bumi), pala kesimpar (jenis buah merambat), pala gumantung (jenis buah bergantung).
• Luhur pengantin
Tepung beras manca warna, mangir, pandan wangi, daun kemuning bertujuan membersih-kan kotoran tubuh, dan hasilnya warna kulit yang bersih bersinar.
• Pelepasan pitik urip-uripan
Melepas ayam hidup yang diibaratkan melepas anak untuk menjalani kehidupan yang baru.
• Bubur merah putih
Yang berarti berani dan suci/kejujuran atau tanda kemenangan.
• Bunga
Yang berarti hidup yang selalu berwarna dan penuh harapan.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman di era sekarang ini, adat siraman ini dikemas dengan indah dan menarik.
Selain itu, tradisi ini juga tidak meninggalkan nilai-nilai agama yang menjadi sarana untuk memberikan bekal hidup calon pengantin di kemudian hari. (mg8/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro