SOLOBALAPAN.COM - Tari Lambangsih dianggap sebagai tarian yang erat kaitannya dengan kasih sayang sepasang kekasih.
Anggapan ini pastinya tidak lepas dari makna kata Lambangsih sendiri.
Secara etimologi, kata Lambangsih merupakan kata bentukan yang berarti percintaan.
Dalam Kamus Bausastra Jawa oleh S. Prawira Atmojo ( 1993) disebutkan bahwa Lambangsih berasal dari kata lambang dan asih.
Lambang berarti: syair, perumpamaan, kata-kata yang bertujuan untuk nasehat.
Kata asih berarti: cinta, kasih, sayang, asmara, birahi.
Dilansir dari Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni Universitas Negeri Semarang.
Tari Lambangsih merupakan sebuah karya seni tari yang berisi nasehat tentang kasih sayang yang ditujukan kepada kedua mempelai pengantin.
Selain itu, tari Lambangsih dalam uoacara adat Jawa adalah makna simbolik kehidupan rumah tangga.
Itu dimulai dari proses manusia muda hingga memasuki gerbang rumah tangga dengan segala permasalahannya.
Tari Lambangsih ini awal mulanya diciptakan oleh seorang empu tari tradisi Surakarta S. Maridi pada tahun 1973.
Koreografi tari Lambngsih ini diciptakan atas anjuran Yasadipura.
Idenya sendiri muncul dari permasalahan rumah tangga.
Tari Lambangsih mengambarkan beberapa suasana.
Contohnya, suasana keceriaan diwujudkan dalam Sekar Macapat dan Dhandanggula, seperti pada rasa cinta kasih pada Ketawang Tumadhah.
Sedangkan, suasana konflik diwujudkan pada pathetan Kemuda, sementara untuk suasana manembah diwujudkan pada gendhing Ketawang Gandamastuti.
Selanjutnya, suasana keceriaan menuju pada keharmonisan diwujudkan dalam gendhing Ketawang ilir-ilir.
Tak hanya itu saja, Gendhing Kodok Ngorek menggambarkan tujuan utama dalam perkawinan, yaitu memiliki anak.
Sementara itu, untuk koreografi Gendhing dan sekaran tari Lambangsih menggambarkan suasana hidup dari masa kanak-kanak hingga masa dewasa.
Di sisi lain, Tari Lambangsih juga berfungsi sebagai hiburan bagi tamu yang diundang dan sebagai hadiah estetik untuk orang-orang tertentu pada resepsi pernikahan.
Selain di pernikahan tari Lambangsih juga dapat disaksikan di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. (mg8/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro