NPC Indonesia Buka Suara soal Pengiriman Atlet Tuli ke Ajang Internasional

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 10:07 WIB
NPC Indonesia menegaskan pengiriman atlet ke kejuaraan internasional harus melalui perencanaan dan review Kemenpora. (ist)
NPC Indonesia menegaskan pengiriman atlet ke kejuaraan internasional harus melalui perencanaan dan review Kemenpora. (ist)

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – National Paralympic Committee (NPC) Indonesia menegaskan bahwa pengiriman atlet penyandang disabilitas ke ajang internasional harus dilakukan melalui perencanaan dan koordinasi yang jelas. Keberangkatan atlet tidak semestinya hanya didasarkan pada keinginan mengikuti kompetisi, tetapi juga mempertimbangkan prestasi dan catatan waktu sebagai dasar evaluasi.

Kepala Departemen Hukum NPC Indonesia, Satriawan Sulaksono, mengatakan mekanisme tersebut selama ini diterapkan dalam pembinaan atlet yang berada di bawah NPC Indonesia. Keikutsertaan dalam kompetisi internasional menjadi bagian dari program pembinaan jangka panjang, termasuk persiapan menuju Paralimpiade.

“Keikutsertaan atlet NPC Indonesia dalam kejuaraan internasional merupakan bagian dari rangkaian tryout pemusatan latihan nasional menuju Paralimpiade yang bertujuan mengumpulkan poin demi memenuhi syarat kualifikasi, melalui proses perencanaan dan review dengan Kemenpora sebelumnya,” kata Satriawan dalam konferensi pers di Kantor NPC Indonesia, Senin (31/8/2026).

Baca Juga: Anak Muda Mulai Gemari Gowes, Ini Alasannya

Menurut Satriawan, proses tersebut membutuhkan konsolidasi antara organisasi pembina dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Evaluasi diperlukan agar kejuaraan yang diikuti atlet sesuai dengan kebutuhan pembinaan serta target prestasi yang telah ditetapkan.

NPC Indonesia Soroti Pengiriman Atlet Tuli

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah munculnya kabar sejumlah atlet tunarungu atau tuli melakukan penggalangan dana untuk mengikuti kompetisi internasional.

NPC Indonesia menilai persoalan tersebut perlu dilihat dari sisi tata kelola organisasi dan jalur pembinaan atlet yang bersangkutan.

Wakil Sekretaris Jenderal NPC Indonesia, Rima Ferdianto, mengatakan Kemenpora sebelumnya telah meminta organisasi yang menangani atlet tunarungu menunjukkan legalitas serta dokumen keanggotaan pada federasi olahraga internasional.

“Kemenpora juga sudah mengundang, siapa organisasi yang berhak menangani atlet tunarungu dengan membawa semua legalitas dan dokumen. Mereka yang menunjukkan bahwa mereka adalah member dari federasi internasional,” ujar Rima.

Baca Juga: Viral Massa Turun dari Truk Serang Driver Ojol di Slipi, Ormas GRIB Jaya Beri Klarifikasi

Dalam konteks olahraga tunarungu, NPC Indonesia menyebut Perkumpulan Atlet Tunarungu Indonesia (PATRIN) sebagai organisasi yang diakui International Committee of Sports for the Deaf (ICSD). Di tingkat internasional, PATRIN dikenal dengan nama Indonesian Association of the Deaf Athlete (IADA).

Karena memiliki jalur organisasi dan federasi internasional yang berbeda, NPC Indonesia menilai pembinaan atlet tuli tidak dapat disamakan dengan atlet yang berada dalam ekosistem Paralimpiade.

“Jadi sebenarnya masalah ini sudah clear bahwa atlet tuna rungu bukan dari NPC Indonesia yang memberangkatkan, namun dari federasi nasional tuna rungu yang bernama PATRIN,” jelas Rima.

Keberangkatan Atlet Harus Berdasarkan Evaluasi

Meski demikian, Rima menekankan perbedaan organisasi tidak berarti pengiriman atlet ke luar negeri dapat dilakukan tanpa proses evaluasi.

Baca Juga: Nggak Cuma Twilight Express, Jepang Punya Cassiopeia yang Dulu Jadi Incaran Banyak Orang

Menurut dia, aspek prestasi dan kelayakan atlet tetap perlu menjadi pertimbangan sebelum sebuah kontingen diberangkatkan mengikuti kompetisi internasional.

“Karena tentu saja setiap ada pengiriman atlet ke luar negeri kan harus ada review, seperti halnya kita dengan Kemenpora. Ada kolaborasi, ada review tentang mana atlet yang pantas dikirimkan ke luar negeri dan mana atlet yang belum bisa diberangkatkan ke luar negeri,” terangnya.

Rima menegaskan keputusan keberangkatan atlet tidak semestinya ditetapkan oleh satu pihak. NPC Indonesia selama ini menerapkan evaluasi bersama Kemenpora dengan mempertimbangkan rekam prestasi maupun catatan waktu atlet.

“Jadi tidak bisa ditetapkan hanya satu pihak saja, karena selama ini antara kami dengan Kemenpora selalu seperti itu. Siapapun yang akan kita berangkatkan selalu ada dasar prestasi atau catatan waktu atlet-atlet tersebut,” imbuhnya.

NPC Indonesia berharap mekanisme tersebut dapat dipahami dalam pembinaan atlet tunarungu maupun olahraga disabilitas secara umum. Koordinasi antara organisasi olahraga, Kemenpora, dan pihak terkait dinilai penting untuk memastikan setiap kontingen yang membawa nama Indonesia memiliki jalur pemberangkatan yang jelas.

Fokus Persiapan Asian Para Games 2026

Sementara itu, NPC Indonesia saat ini juga tengah mempersiapkan atlet menuju Asian Para Games 2026 di Jepang.

Baca Juga: Jennifer Coppen Rayakan Ultah ke-3 Kamari, Bagikan Pesan tentang Perjalanan Jadi Mama

Ajang tersebut dijadwalkan berlangsung di Nagoya pada 18–24 Oktober 2026. Pemerintah melalui Kemenpora sebelumnya memastikan kontingen Indonesia, yang terdiri dari atlet, pelatih, dan ofisial, akan mendapatkan dukungan keberangkatan menggunakan pesawat carter khusus.

NPC Indonesia berharap penguatan koordinasi dapat membuat pembinaan olahraga disabilitas semakin terarah. Dukungan terhadap atlet, menurut mereka, perlu dibarengi dengan perencanaan, dasar prestasi, serta mekanisme keberangkatan yang jelas agar program pembinaan dan penggunaan dukungan pemerintah dapat berjalan secara akuntabel. (hj/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
Asian Games 2026 atlet NPC NPC Indonesia pengiriman atlet NPC Patrin