SOLOBALAPAN.COM – Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, turun tangan langsung untuk melindungi para pemain muda Timnas Indonesia U-23.
Di tengah perjuangan skuad Garuda di Piala AFF U-23 2025, Erick Thohir secara terbuka membela Hokky Caraka dan Jens Raven yang menjadi sasaran kritik dan hujatan di media sosial.
Intervensi ini dilakukan untuk menjaga mental para pemain jelang laga-laga krusial di babak gugur.
Pembelaan untuk Hokky Caraka yang di Bawah Tekanan
Erick Thohir menyoroti tekanan berat yang diterima Hokky Caraka, yang dinilai belum tampil maksimal karena belum mencetak gol.
Tekanan tersebut bahkan membuat pemain berusia 20 tahun itu sampai melayangkan somasi kepada beberapa akun media sosial yang menghina dirinya dan sang pacar.
“Mungkin kayak Hokky kan dapat tekanan di sosial media. Kasihan anak-anak muda. Mereka juga punya kehidupan. Mereka kadang-kadang juga tidak tahan seperti kita semua,” ungkap Erick Thohir dengan nada prihatin, Kamis (24/7).
Pesan Jaga Fokus untuk Jens Raven
Tak hanya itu, Erick juga menelepon langsung Jens Raven. Meskipun telah mencetak 6 gol, Erick memberikan pesan agar sang striker tidak cepat puas dan tetap fokus pada pertandingan berikutnya.
"Sama Jens Raven juga saya telepon, kamu mesti siap tapi please fokus. Jangan gara-gara 6 gol kamu, kamu terus yakin gini. Kamu masih muda,” terang Erick.
Peran sebagai 'Orang Tua' bagi Skuad Garuda
Erick menegaskan bahwa perannya bukan hanya sebagai ketua umum, tetapi juga sebagai figur "orang tua" bagi para pemain, baik di level senior maupun junior.
Ia mencontohkan bagaimana ia selalu berkomunikasi langsung dengan para pemain untuk memberi semangat.
"Kita sebagai PSSI, sebagai ketua umum, kita harus menjadi orang tua pemain juga kadang-kadang. Bukan hanya men-treat mereka sangat profesional. Itu yang kita harus jaga," tandasnya.
Dukungan Moral Jelang Laga Krusial
Intervensi langsung dari Erick Thohir ini datang pada momen yang sangat penting.
Lebih dari sekadar pembelaan, tindakannya menjadi pesan tentang perlunya melindungi kesehatan mental para atlet muda dari kerasnya tekanan publik di era digital.
Ini menunjukkan sebuah gaya kepemimpinan yang merangkul, bertujuan membangun skuad yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga tangguh secara mental untuk menghadapi tantangan besar. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo