Uniknya Sawah Dadakan Waduk Delingan Karanganyar: Pakai Ilmu Titen, Tak Pernah Berebut Lahan!

Rudi Hartono RS • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 12:53 WIB
Sejumlah petani dadakan yang menanam tanaman di dasar waduk Delingan, Karanganyar. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Sejumlah petani dadakan yang menanam tanaman di dasar waduk Delingan, Karanganyar. (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

SOLOBALAPAN.COM  – Permukaan air Waduk Delingan di Kabupaten Karanganyar boleh saja menyusut drastis hingga dasar danau mengering. Namun bagi para warga setempat, hamparan tanah itu justru berubah menjadi 'karpet hijau' penuh harapan baru.

Ketika air bendungan asat, ritme kehidupan bertani dadakan pun resmi dimulai.

Fenomena ini dialami oleh Wagimin (40), petani asal Delingan. Setiap kali air waduk surut di musim kemarau panjang, ia bersama puluhan warga lainnya berbondong-bondong "merambah" dasar bendungan untuk menanam padi hingga kacang-kacangan.

"Ini bukan usaha tiap tahun, Mas. Hitungannya bisa dua tahun sekali, hanya saat ketigo (musim kemarau) benar-benar panjang dan air waduk kering," tutur Wagimin saat ditemui di tengah ladang dadakannya di dasar waduk, Senin (20/7/2026) sore.

Baca Juga: Saat Bermain Menjadi Cara Melepas Penat, Mengenal Fenomena Kidulting

Warisan Lintas Generasi dan Ketaatan 'Ilmo Titen'

Tradisi memanfaatkan lahan pasang-surut ini bukanlah hal baru. Bagi sebagian warga sekitar, menggarap dasar waduk adalah cara mereka melanjutkan jejak yang ditinggalkan generasi terdahulu.

Hariman (36), petani muda setempat, mengaku mengolah petak tanah yang dulunya digarap oleh almarhum ayahnya.

"Lahan yang saya garap ini dulunya punya orang tua. Dari saya kecil, kalau air waduk surut, Bapak selalu turun ke sini. Sekarang saya yang meneruskan," ujar Hariman sembari membersihkan gulma di petak garapannya.

Meski tanah tersebut merupakan area resmi waduk, warga telah memiliki kesepakatan sosial terkait batas kepemilikan garapan berdasarkan riwayat keluarga. Uniknya, tak pernah ada cerita warga saling berebut petak lahan.

Sistem pembagian lahan berpegang teguh pada tradisi lokal yang unik, yakni ilmu titen (daya ingat berbasis kebiasaan) serta batas galengan (pembatas sawah) lama yang tetap dihormati.

"Setiap orang sudah paham bagian masing-masing. 'Oh ini lahan saya, sebelah sana punya Pak Eko, sebelah situ milik Pak Wiryo'. Walau cuma ditandai sedikit, tidak ada yang berani menyerobot," jelas Wagimin sembari tertawa.

Judi Melawan Alam: Panen Syukur, Tenggelam Pasrah

Menanam di dasar waduk pada dasarnya adalah bentuk perjudian melawan cuaca. Siklus tanaman seperti padi atau kacang membutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk dipanen, sementara pergerakan alam tak pernah bisa ditebak.

Sering kali, ketika tanaman kacang sudah subur atau bahkan siap dipetik, hujan deras mendadak mengguyur kawasan hulu. Dalam hitungan jam, air waduk bisa naik drastis dan menenggelamkan seluruh hasil jerih payah mereka.

"Ibaratnya ini usaha spekulasi. Kalau panen ya bersyukur, kalau gagal ya sudah, tidak apa-apa," ungkap Wagimin pasrah.

Risiko finansialnya pun terbilang tinggi. Ketika banjir mendadak datang menenggelamkan tanaman yang bahkan sudah dibeli oleh pembeli borongan (penebas), petani harus menanggung kerugian total tanpa ganti rugi.

"Pernah kejadian, kacang tinggal dipanen dan sudah ada pembeli yang menebas. Eh, besok paginya hujan deras, air langsung penuh. Ya kalah sama air, modal melayang dan rugi sendiri," kenang Wagimin.

Meski dibayangi ancaman gagal panen, ketiadaan lahan di musim kemarau membuat Wagimin, Hariman, dan warga Delingan tak gentar. Selama air waduk belum kembali menggenang, dasar danau yang mengering itu akan terus menjadi panggung ketangguhan para petani lokal. (rud/dam)

Editor : Damianus Bram
Sumber : Solo Balapan
dasar danau sawah dadakan karanganyar kemarau Waduk Delingan