Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Stasiun Solo Jebres, Bangunan Bersejarah yang Terus Menjaga Denyut Perjalanan Kota Solo

Luthfiana Sekar • Jumat, 10 Juli 2026 | 19:30 WIB
Bangunan bersejarah Stasiun Solo Jebres masih berdiri kokoh dan aktif melayani perjalanan kereta api hingga saat ini. (Google)
Bangunan bersejarah Stasiun Solo Jebres masih berdiri kokoh dan aktif melayani perjalanan kereta api hingga saat ini. (Google)

 

SOLOBALAPAN.COM - Di sisi timur Kota Solo, berdiri sebuah bangunan bercat merah muda dengan langit-langit tinggi dan deretan jendela bergaya kolonial. 

Setiap hari, suara peluit kereta dan langkah para penumpang memenuhi peronnya. Namun di balik kesibukan itu, Stasiun Solo Jebres menyimpan kisah panjang yang telah menjadi bagian dari sejarah perkembangan Kota Solo.

Bagi sebagian orang, Stasiun Solo Jebres hanyalah tempat untuk naik dan turun kereta. Padahal, bangunan yang kini berstatus sebagai cagar budaya nasional itu merupakan salah satu stasiun tertua di Solo yang masih aktif melayani perjalanan kereta api hingga sekarang.

Baca Juga: Unik! Tersembunyi di Area Parkir Pasar Burung Depok Solo, Ada Petilasan Ki Ageng Pemanahan yang Sarat Sejarah

Stasiun Solo Jebres dibangun pada 1884 oleh perusahaan kereta api pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS). 

Saat itu, pembangunan jalur kereta api bertujuan memperlancar distribusi hasil perkebunan, seperti gula dan tembakau, dari wilayah Solo Raya menuju pelabuhan untuk diperdagangkan. 

Kehadiran stasiun ini kemudian menjadi salah satu simpul penting transportasi di Pulau Jawa.

Baca Juga: Misteri Makam Kyai Langsur Sukoharjo: Jejak Pangeran yang Menghilang dalam Kabut Sejarah

Pada masa lalu, Stasiun Solo Jebres bahkan menjadi salah satu pusat perjalanan kereta api di Kota Solo. 

Berbagai kereta yang melintasi jalur utara, tengah, maupun selatan Pulau Jawa pernah berhenti di stasiun ini. 

Selain melayani masyarakat umum, stasiun ini juga memiliki hubungan erat dengan Keraton Kasunanan Surakarta karena menjadi salah satu akses transportasi penting bagi keluarga keraton pada masanya.

Tak hanya kaya akan sejarah, Stasiun Solo Jebres juga memiliki pesona arsitektur yang memikat. Bangunan utamanya mengusung gaya Indische Empire dengan sentuhan Neoklasik dan Art Nouveau. 

Pilar-pilar kokoh, ventilasi berbentuk lengkung, serta ornamen klasik masih dipertahankan hingga kini, membuat stasiun ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan stasiun lain di Indonesia.

Nilai sejarah dan keindahan arsitekturnya membuat Kompleks Stasiun Jebres ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada 2010. 

Revitalisasi yang dilakukan tetap mempertahankan bentuk asli bangunan sehingga identitas sejarahnya tidak hilang meski terus mengikuti perkembangan layanan perkeretaapian modern.

Kini, Stasiun Solo Jebres tetap menjalankan perannya sebagai salah satu simpul transportasi penting di Kota Solo. 

Berbagai kereta api antarkota hingga Commuter Line masih singgah di stasiun ini, menghubungkan Surakarta dengan berbagai daerah di Pulau Jawa. 

Meski tidak lagi menjadi stasiun utama seperti dahulu, keberadaannya tetap menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat.

Lebih dari sekadar tempat keberangkatan dan kedatangan kereta, Stasiun Solo Jebres adalah pengingat bahwa sejarah tidak hanya tersimpan di museum. Ia hidup di tengah aktivitas masyarakat, menyaksikan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. 

Di setiap peluit kereta yang terdengar dan setiap penumpang yang datang maupun pergi, stasiun ini terus menjaga denyut perjalanan Kota Solo, sebagaimana telah dilakukannya selama lebih dari satu abad.

Editor : Kabun Triyatno
#solo jebres #Stasiun Jebres #solo raya #hindia belanda #cagar budaya