Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Kirab Malam 1 Suro, Warga Kapurancak Boyolali Hidupkan Kembali Tradisi Ruwat Rawat Rancak Gringsingan

Abdul Khofid Firmanda Putra • Selasa, 16 Juni 2026 | 08:23 WIB
Warga Dukuh Kapurancak, Desa Kopen, Boyolali menghidupkan kembali tradisi Ruwat Rawat Rancak Gringsingan pada Malam 1 Suro. (Abdul Khofid Firnanda Putra/solobalapan.com)
Warga Dukuh Kapurancak, Desa Kopen, Boyolali menghidupkan kembali tradisi Ruwat Rawat Rancak Gringsingan pada Malam 1 Suro. (Abdul Khofid Firnanda Putra/solobalapan.com)

BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Masyarakat Dukuh Kapurancak RT 03, Desa Kopen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, kembali menghidupkan tradisi Ruwat Rawat Rancak Gringsingan pada peringatan Malam 1 Suro, Senin (15/6/2026) malam.

Tradisi yang sempat vakum selama pandemi Covid-19 tersebut digelar kembali sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan warga.

Ketua panitia penyelenggara, Farid Burhanuddin, mengatakan tradisi tersebut memiliki makna filosofis yang erat kaitannya dengan upaya meruwat, merawat lingkungan, serta memohon perlindungan dari berbagai marabahaya.

Baca Juga: Dilema Sekolah Rakyat Sragen: Proyek Sudah 80 Persen Rampung, Peminat Jenjang SD Baru Lima Siswa

Menurutnya, istilah Rancak Gringsingan menggambarkan keteraturan dan harmoni kehidupan. Sementara Gringsingan dimaknai sebagai penawar luka atau penolak berbagai hal buruk yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

“Gringsingan itu adalah penawar dari sebuah luka. Rancak Gringsingan ini dilakukan sebagai cara meruwat dan merawat, sekaligus tolak bala yang dilakukan masyarakat Dukuh Kapurancak,” ujar Farid.

Rangkaian kegiatan diawali dengan gotong royong membersihkan lingkungan kampung dan kawasan Umbul Sumber yang menjadi salah satu sumber mata air tertua di Desa Kopen. Setelah itu, warga mengikuti kirab mengelilingi kampung sambil melantunkan zikir dan selawat.

Dalam kirab tersebut, peserta juga menabuh berbagai alat pertanian sebagai simbol penjagaan terhadap alam, sawah, serta sumber-sumber kehidupan masyarakat.

Perjalanan kirab kemudian menuju Umbul Sumber yang dipercaya sebagai mata air pertama di wilayah Desa Kopen. Di lokasi tersebut, warga melaksanakan ritual sedekah air sebagai bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar sumber mata air tetap terjaga dan mengalir dengan baik.

Baca Juga: Bedah Sastra 'A Farewell to Arms': Surat Cinta Stoik Hemingway dari Puing Perang Dunia I

“Kami menuju salah satu mata air tertua di Desa Kopen yang dipercaya sebagai umbul pertama. Di sana dilakukan sedekah air dengan harapan mata air tetap lestari dan semakin baik,” jelas Farid.

Suasana kirab berlangsung khidmat. Seluruh peserta berjalan tanpa mengenakan alas kaki dan membawa obor sebagai penerangan sepanjang perjalanan.

Farid menjelaskan, berjalan tanpa sandal melambangkan sikap membumi dan menyatu dengan alam. Sedangkan obor menjadi simbol cahaya kehidupan dan petunjuk dalam menjalani perjalanan hidup.

Puncak acara ditandai dengan pemadaman lampu di seluruh area kampung selama kirab berlangsung. Kampung yang gelap hanya diterangi cahaya obor dan lantunan doa, menciptakan suasana yang sakral dan penuh perenungan.

Baca Juga: Rumah Sekaligus Bengkel Motor di Ngemplak Boyolali Terbakar, Diduga Dipicu Rebusan Air yang Ditinggal

Menurut Farid, prosesi tersebut merupakan simbol tapa bisu pati geni, yakni refleksi tentang kehidupan manusia yang pada akhirnya akan kembali ke bumi.

“Maknanya bahwa manusia pada akhirnya akan kembali ke kegelapan dan dibumikan. Selain memiliki nilai filosofis, suasana gelap dengan cahaya obor juga memberikan kesan artistik yang kuat,” katanya.

Sepanjang perjalanan, warga memanjatkan doa berupa selawat, istigfar, serta bacaan Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikman nasir. Sedekah bumi juga dilakukan melalui penyajian berbagai makanan tradisional dan jajanan pasar khas Jawa.

Setelah kirab selesai, seluruh warga berkumpul untuk menikmati tumpeng yang telah disiapkan sebelumnya sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Farid berharap tradisi yang telah diwariskan turun-temurun tersebut dapat kembali menjadi agenda rutin setiap Malam 1 Suro setelah sempat terhenti akibat pandemi.

“Dulu kegiatan ini rutin digelar setiap tahun. Setelah pandemi sempat berhenti, sekarang kami hidupkan kembali. Harapannya bisa terus dilaksanakan setiap malam 1 Suro atau 1 Muharam,” ujarnya.

Baca Juga: Ricky Nelson Resmi Jadi Pelatih Persis Solo, Targetkan Promosi ke Super League

Sementara itu, salah seorang pemuda setempat, Zaky, mengaku bangga tradisi tersebut kembali digelar. Menurutnya, kegiatan budaya seperti ini penting untuk mengenalkan kembali warisan leluhur kepada generasi muda.

“Senang karena sekarang banyak anak muda yang sudah tidak tahu tradisi di desanya sendiri. Kegiatan seperti ini bisa menjadi cara untuk melestarikan kebudayaan,” tuturnya. (fid/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#Kirab suro #ruwat rawat rancak gringsingan #boyolali #malam 1 suro #tradisi