SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Jagat media sosial di Kabupaten Sragen sempat dihebohkan oleh unggahan video viral di grup Facebook Info Wong Sragen (IWS) yang menarasikan dugaan pemerasan terhadap seorang pria yang kehilangan dompet di area parkir Alfamart Desa Mojopuro, Kecamatan Sumberlawang.
Namun setelah ditelusuri aparat kepolisian, peristiwa yang ramai diperbincangkan warganet tersebut ternyata memiliki sisi kemanusiaan yang lebih kompleks.
Melalui mediasi yang dilakukan Polsek Sumberlawang, persoalan akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan.
Baca Juga: Bayu Skak Garap FOUFO, Film Komedi Sci-Fi Alien Jatuh di Madura
Suasana berbeda terlihat di Mapolsek Sumberlawang, Selasa pagi (9/6). Kapolsek Sumberlawang AKP Sudarmaji bersama jajaran mempertemukan dua pihak yang terlibat dalam polemik tersebut.
Di satu sisi hadir Ahmad Bahru, warga Dukuh Sendang Palang, Desa Ngargotirto, pemilik dompet yang hilang.
Sementara di sisi lain terdapat pasangan suami istri penjual somay, Sukini dan Darmo Sasmoyo Suyat, warga Dukuh Sumber, Desa Cepoko, yang menemukan dompet tersebut.
Kasus bermula pada Minggu (7/6) sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu Ahmad Bahru datang ke Alfamart Mojopuro bersama istri dan anaknya untuk berbelanja.
Namun ketika hendak membayar di kasir, ia menyadari dompet kulit miliknya yang berisi uang tunai sekitar Rp1,3 juta serta sejumlah dokumen penting telah hilang.
Dalam kondisi panik, Ahmad kemudian meminta bantuan untuk memeriksa rekaman CCTV minimarket.
Dari hasil pengecekan, terlihat dompet yang terjatuh di area parkir dipungut oleh pasangan penjual somay.
Berbekal informasi tersebut, Ahmad berusaha mencari keberadaan pasangan tersebut hingga akhirnya bertemu di depan MIN 5 Sragen, Desa Hadiluwih.
Saat proses pengembalian berlangsung, muncul kesalahpahaman yang kemudian memicu polemik.
Baca Juga: Film FOUFO: Komedi Sci-Fi Madura Jadi Debut Utama Tretan Muslim
Sukini sempat meminta uang jasa penemuan sebesar Rp1 juta. Permintaan itu membuat komunikasi berjalan alot karena Ahmad tidak membawa uang tunai dalam jumlah tersebut.
Negosiasi pun berlangsung. Ahmad sempat menawarkan uang Rp400 ribu yang berada di dalam dompet ditambah Rp10 ribu dari kantong pribadinya. Namun saat itu belum tercapai kesepakatan karena pihak penemu meminta Rp500 ribu.
"Melihat kondisi ekonomi dan memahami kondisi mental Ibu Sukini, saya akhirnya memutuskan untuk mengikhlaskan uang yang ada di dalam dompet tersebut," ujar Ahmad Bahru saat mediasi.
Setelah itu, Sukini menyerahkan sejumlah dokumen penting milik Ahmad, di antaranya KTP, kartu BPJS, kartu karyawan PT Adhi Karya, serta Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
Namun nasib kurang beruntung kembali terjadi. Dompet yang masih berisi STNK dan sebagian uang tunai ternyata diletakkan di atas gerobak somay dan diduga terjatuh saat perjalanan pulang menuju rumah. Hingga kini dompet tersebut masih dalam pencarian.
Kapolsek Sumberlawang AKP Sudarmaji menjelaskan pihaknya bergerak cepat setelah mengetahui video tersebut viral di media sosial. Polisi langsung melakukan pengumpulan bahan keterangan serta berkoordinasi dengan perangkat desa dan tokoh lingkungan setempat.
"Kami mengedepankan pendekatan humanis. Setelah kami dalami bersama, persoalan ini dipengaruhi faktor ekonomi dan kondisi psikologis yang bersangkutan. Alhamdulillah, Pak Ahmad dapat memahami situasi tersebut dengan lapang dada," ujar Sudarmaji.
Hasil mediasi akhirnya membawa suasana yang menyejukkan. Ahmad Bahru memilih memaafkan dan mengikhlaskan uang yang hilang.
Ia juga secara sukarela menghapus unggahan video yang sempat viral di media sosial demi menjaga nama baik semua pihak.
Tidak hanya itu, Ahmad bersama anggota Polsek Sumberlawang kini turut berupaya mencari dompet yang diduga jatuh di sepanjang jalur dari MIN 5 Sragen menuju Desa Cepoko.
Baca Juga: Habitat Pulih Pascakebakaran, Populasi Surili Jawa di Gunung Merbabu Tercatat 37
Kapolsek menegaskan bahwa penyelesaian perkara melalui pendekatan kekeluargaan menjadi pilihan terbaik dalam kasus ini.
"Uang bisa dicari, tetapi kerukunan dan rasa saling memahami antarwarga jauh lebih penting. Kasus ini telah selesai secara kekeluargaan," tegas Sudarmaji.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa informasi yang beredar di media sosial tidak selalu menggambarkan keseluruhan fakta.
Di balik viralnya sebuah peristiwa, sering kali terdapat persoalan sosial dan kemanusiaan yang membutuhkan penyelesaian dengan hati nurani serta dialog yang baik. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto