SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Pagi itu berjalan dengan ritme yang tenang. Di antara gang-gang sempit kawasan Baluwarti, langkah kaki sekelompok anak muda terdengar pelan, seolah menyelaraskan diri dengan suasana sekitar.
Kain batik yang mereka kenakan menambah nuansa hangat—sederhana, namun sarat makna.
Minggu pagi (19/4/2026), mereka tidak sekadar berjalan. Ada upaya kecil namun berarti: mengenal, merasakan, sekaligus merawat ingatan tentang kota.
Baca Juga: Pengusaha Kopi Solo Kritik Sidak DPRD: Dinilai Tak Objektif, Ancam Sikap Politik di Pemilu
Perjalanan dimulai dari Baluwarti Barat, menyusuri jejak-jejak sejarah yang tersembunyi di balik dinding-dinding tua.
Rute membawa peserta melewati sejumlah ndalem seperti Sasono Mulyo dan Suryohamijayan, berlanjut ke kawasan Kraton Kilen, singgah di Museum Wayang Beber Atmo Supomo, hingga berakhir di kedai kopi Titi Laras.
Kegiatan ini digagas oleh komunitas Bareng-Bareng Jalan, yang menghadirkan cara berbeda dalam mengenalkan sejarah. Tidak kaku seperti tur pada umumnya, mereka memilih pendekatan yang lebih santai: berjalan kaki, berkain, dan berbagi cerita di sepanjang perjalanan.
Founder Bareng-Bareng Jalan, Inggit Adab, melihat bahwa tantangan utama bukan pada kurangnya cerita sejarah, melainkan bagaimana cerita itu disampaikan. Bagi banyak anak muda, Baluwarti mungkin hanya sekadar nama, tanpa kedekatan emosional yang nyata.
Baca Juga: Piala Asia U-17 2026: Intip Kekuatan Garuda Muda di Grup Neraka Bersama Jepang dan China
“Yang kami lakukan sebenarnya sederhana, membuat anak muda merasa dekat terlebih dahulu. Dari situ, rasa ingin tahu biasanya akan tumbuh,” ujarnya.
Konsep berkain yang diusung pun tidak berhenti pada tampilan visual. Ada pesan yang ingin disampaikan—bahwa budaya bisa hadir dalam keseharian, terasa ringan, dan tidak berjarak.
Dengan mengenakan batik, peserta tidak hanya menjadi pengunjung, tetapi juga bagian dari ruang budaya itu sendiri. Interaksi yang terbangun pun terasa lebih personal, seolah sejarah tidak lagi jauh, melainkan hadir di langkah yang sedang dijalani.
Pendekatan seperti ini dinilai lebih mudah diterima generasi muda, terutama mereka yang menyukai pengalaman langsung dibanding sekadar penjelasan satu arah. Dari pengalaman itu, muncul kesan yang lebih membekas.
Bareng-Bareng Jalan juga ingin membuka ruang yang lebih inklusif. Kawasan Baluwarti dihadirkan bukan sebagai tempat yang eksklusif, melainkan ruang yang bisa dipahami dan dinikmati bersama.
“Kami ingin Baluwarti terasa dekat dan hidup. Bukan hanya tempat untuk dilihat, tetapi ruang yang dipahami dan dirasakan,” kata Inggit.
Lebih dari sekadar kegiatan sesaat, gerakan ini diharapkan terus bergulir. Setiap peserta membawa pulang cerita, lalu membaginya kembali, menciptakan rantai kecil yang memperluas kesadaran akan pentingnya sejarah.
Baca Juga: Festival Rasa di Jantung Budaya, Mangkunegaran Makan-Makan Jadi Magnet Warga Solo
Di tengah kehidupan yang serba cepat, langkah-langkah pelan ini justru menjadi cara lain untuk menjaga ingatan kota. Bahwa budaya tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar, tetapi bisa tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan bersama.
Dan dari Baluwarti, cerita itu terus berjalan. (hj/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto