BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Malam di Taman Desa Gombang, Kecamatan Sawit, berubah menjadi panggung megah penuh warna dan makna, Sabtu (25/4).
Ratusan seniman tampil dalam pementasan bertajuk “Sedulur Papat Limo Pancer”, menghadirkan kolaborasi lintas seni yang memukau ratusan hingga ribuan penonton.
Pertunjukan yang menggabungkan tari, musik etnik, teater, hingga vokal ini digagas oleh Dwi Priyo Sumarto sebagai upaya menghidupkan kembali falsafah Jawa di tengah generasi muda.
“Ini sebenarnya falsafah Jawa yang mulai jarang dipahami. Kami mencoba mengemasnya dengan cara baru agar bisa diterima anak muda,” ujarnya.
Falsafah Sedulur Papat Limo Pancer sendiri merepresentasikan empat unsur dalam diri manusia—Aluamah, Amarah, Mutmainah, dan Sufiyah—dengan Pancer sebagai pusat pengendali. Konsep filosofis ini kemudian diterjemahkan secara artistik ke dalam gerak tari, komposisi musik, hingga alur dramatik pertunjukan.
Pemilihan Taman Desa Gombang sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Desa ini dikenal sebagai desa seni dan budaya, dengan sejarah panjang dalam dunia karawitan. Selain itu, ruang terbuka taman memberikan nuansa berbeda dibanding panggung konvensional.
“Menarik karena ini bukan panggung biasa. Kita tampil di taman, lebih dekat dengan penonton,” tambah Priyo.
Tak tanggung-tanggung, sekitar 100 orang terlibat dalam pementasan ini, mulai dari penari, pemusik, vokalis, hingga kru. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, seperti sanggar seni lokal, pelajar SMK, hingga mahasiswa seni.
Baca Juga: Detik-Detik Mencekam! Konstruksi Baja Ringan Gedung Sekolah di Sragen Tiba-Tiba Roboh
Pertunjukan dibagi dalam lima bagian utama yang merepresentasikan masing-masing unsur, ditutup dengan satu karya penutup yang menyatukan keseluruhan makna. Persiapan dilakukan intens selama dua bulan dengan latihan bertahap sebelum akhirnya digabung dalam satu panggung besar.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Boyolali. Bahkan, Kepala Bidang Pemuda, Rima Kusuma, turut tampil membacakan puisi dalam pementasan tersebut.
“Animo anak muda luar biasa. Mereka mampu menyalurkan bakat melalui kolaborasi seni yang kreatif dan positif,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan seperti ini penting untuk mengarahkan energi generasi muda ke hal yang produktif, sekaligus memperkuat identitas budaya di era modern.
Antusiasme penonton pun tak kalah luar biasa. Kepala Desa Gombang, Ahmadi Wahyu Wibowo, menyebut jumlah penonton mencapai lebih dari seribu orang.
“Luar biasa, ini baru pertama kali tapi penontonnya membludak,” katanya.
Ia juga menilai kegiatan ini memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar, sekaligus memperkuat identitas Desa Gombang sebagai pusat seni dan budaya.
Ke depan, pemerintah desa berencana menjadikan Taman Desa Gombang sebagai ruang pertunjukan rutin setiap akhir pekan.
Dengan kolaborasi yang apik antara tradisi dan modernitas, pementasan ini bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang edukasi budaya yang membangkitkan kembali nilai-nilai luhur Jawa di tengah generasi muda. (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto