SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Persoalan klasik lapangan Stadion Manahan kembali mencuat. Genangan air saat hujan deras yang mengganggu jalannya pertandingan justru baru direspons serius setelah menuai sorotan publik.
Pemerintah Kota Surakarta memastikan perawatan baru akan dilakukan pada pertengahan tahun 2026, atau setelah kompetisi Super League 2025/2026 berakhir. Artinya, perbaikan tidak dilakukan dalam waktu dekat meski masalah sudah berulang.
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, mengakui kondisi lapangan memang tidak optimal saat diguyur hujan deras, seperti yang terjadi dalam laga Persis Solo kontra Semen Padang, Minggu (12/4).
“Curah hujan lebat membuat air tidak terserap dengan baik. Ini akan kita benahi setelah liga selesai,” ujarnya, Selasa (14/4).
Namun, keputusan menunda perbaikan hingga off season memunculkan pertanyaan. Pasalnya, persoalan genangan bukan hal baru. Masalah ini disebut sudah muncul sejak dua tahun terakhir, bahkan sejak perhelatan Piala Dunia U-17 2023.
Kritik pun datang dari Penasihat Semen Padang FC, Andre Rosiade, yang menyoroti kualitas lapangan. Ia menyebut kondisi stadion seperti sawah, meski sebelumnya telah direnovasi dengan anggaran besar dari pemerintah pusat.
Baca Juga: Naik Kereta Rp4 Ribu di Tengah Kota Solo? Ini Keunikan Batara Kresna
Menanggapi hal tersebut, Pemkot berdalih persoalan bukan pada sistem drainase, melainkan pada lapisan pasir di bawah rumput yang sudah tertutup lumpur dan kehilangan fungsi resap.
“Bukan drainasenya, tapi pasir di bawahnya sudah harus diperbarui,” kata Respati.
Perbaikan yang direncanakan pun tidak bersifat cepat. Pemkot memperkirakan proses pembenahan membutuhkan waktu hingga dua bulan dengan metode perbaikan total. Selama periode itu, Stadion Manahan akan ditutup sementara, termasuk untuk kegiatan non-kompetisi seperti fun match.
Ironisnya, di tengah kebutuhan pembenahan menyeluruh, keterbatasan anggaran justru membuat perbaikan tidak dilakukan secara total. Fokus hanya akan diarahkan pada titik-titik tertentu yang dianggap paling bermasalah.
Kabid Olahraga Dispora Surakarta, Syamsu Rohman, mengungkapkan bahwa perbaikan menyeluruh seperti yang dilakukan di GBK membutuhkan anggaran besar yang belum tentu tersedia.
“Kalau di GBK bisa sampai Rp7 miliar untuk bongkar total. Kita kemungkinan hanya di titik tertentu saja,” jelasnya.
Kondisi ini menimbulkan ironi: stadion berstandar internasional yang pernah menjadi tuan rumah ajang dunia justru masih bergulat dengan persoalan dasar seperti genangan air. Sementara solusi yang diambil terkesan tambal sulam dan menunggu momentum, bukan berbasis urgensi.
Baca Juga: Sehari di Wonogiri: Naik Kereta Rp4 Ribu hingga Menyusuri “Pantai Tanpa Pasir”
Dengan jadwal kompetisi yang padat dan potensi hujan yang masih tinggi, keputusan menunda perbaikan berisiko membuat persoalan serupa kembali terulang sebelum benar-benar terselesaikan.