Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Outing Class Unik, Siswa Belajar Nilai Islam Lewat Wayang di Pengging

Alfida Nurcholisah • Senin, 13 April 2026 | 17:28 WIB
BUDAYA : Ki Pujiono, dalang wayang golek saat menampilkan ketrampilannya di depan anak-anak.
SENI : Ki Pujiono, dalang wayang golek saat menampilkan ketrampilannya di depan anak-anak. (ALFIDA NURCHOLISAH)

 

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah pola pembelajaran yang kerap terjebak pada metode konvensional, SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mencoba menghadirkan pendekatan berbeda.

Puluhan siswa kelas IV diajak belajar konsep Islam berkemajuan melalui media budaya, yakni wayang golek.

Kegiatan outing class tersebut digelar di Masjid Besar Ciptomulyo Pengging, Banyudono, Boyolali, Senin (13/4/2026).

Baca Juga: DPRD Kaget, Persis Solo Nunggak Sewa Stadion Manahan hingga Miliaran

Lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan karena nilai historisnya dalam perkembangan syiar Islam di wilayah Solo dan sekitarnya.

Koordinator Tim Kelas IV, Eka Pratiwi Nugrahini, mengatakan pembelajaran di luar kelas ini dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga merasakan langsung konteksnya.

“Kami ingin menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual. Masjid ini merupakan cagar budaya dengan nilai sejarah kuat, sehingga relevan untuk mengenalkan konsep Islam berkemajuan,” ujarnya.

Materi disampaikan secara interaktif oleh Ki Pujiono, dalang wayang golek sekaligus Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono. Melalui pertunjukan tersebut, siswa diajak memahami pentingnya menuntut ilmu, berakhlak, serta berkontribusi bagi masyarakat.

“Saat ini kalian sedang dalam perjalanan menuntut ilmu. Lakukan dengan sungguh-sungguh dan jadilah generasi yang memberi manfaat,” pesan Ki Pujiono kepada siswa.

Baca Juga: Nasib Gaji ke-13 ASN 2026 di Tengah Gejolak Ekonomi: Tetap Cair Juni atau Ada Penyesuaian?

Pendekatan berbasis budaya ini dinilai lebih efektif dibanding metode ceramah semata. Siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga menangkap pesan melalui visual, cerita, dan tokoh yang ditampilkan.

Eka menilai, model pembelajaran seperti ini menjadi alternatif untuk menghindari kejenuhan sekaligus menanamkan nilai secara lebih mendalam.

“Dengan cara ini, siswa tidak hanya paham teori, tapi juga merasakan nilai yang disampaikan. Ini lebih membekas,” jelasnya.

Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi upaya mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini. Wayang golek diposisikan bukan sekadar hiburan, tetapi sebagai media edukasi yang relevan dengan nilai keislaman.

Salah satu siswa, Muhammad Romy Aditya, mengaku lebih mudah memahami materi melalui metode tersebut.

Baca Juga: Hari Pertama TKA SMP di Solo Lancar, Siswa Akui Soal Matematika Menantang

“Belajarnya jadi lebih seru dan tidak membosankan. Saya jadi lebih paham dari cerita wayangnya,” ujarnya.

Pendekatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa inovasi dalam pendidikan tidak selalu harus berbasis teknologi tinggi. Mengolah kearifan lokal, jika dikemas dengan tepat, justru bisa menjadi jawaban atas tantangan pembelajaran di era modern. (alf/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#SD Muhammadiyah PK Kottabarat #wayang golek #Masjid Besar Ciptomulyo Pengging #outing class #cagar budaya