SOLOBALAPAN.COM – Bukannya meredam emosi, unggahan Official Statement dari manajemen PSIS Semarang melalui akun Instagram @psisofficial justru memantik "perang" komentar.
Niat hati ingin meminta dukungan agar tim bertahan di Pegadaian Championship, manajemen Laskar Mahesa Jenar malah dihujani kritik tajam oleh pendukungnya sendiri yang mulai kehilangan kesabaran.
Dalam pernyataan yang disampaikan Sekretaris Tim, Wafa Amri, manajemen menegaskan misi untuk mengangkat tim dari zona degradasi dan meminta pihak luar tidak mengganggu fokus mereka.
Namun, poin-poin tersebut justru dianggap tidak relevan dengan kondisi tim yang belum menunjukkan progres signifikan.
Kritik Pedas: Dari Isu Konten Hingga Teknis Lapangan
Kekecewaan suporter terlihat jelas di kolom komentar. Akun @farid_danangp misalnya, menilai gaya komunikasi manajemen lebih mirip akun keluarga daripada klub profesional.
"Akun sekelas PSIS yang mendunia, malah buat statment tidak bermutu, malah mirip akun family Fariz," tulisnya pedas.
Selain masalah konten, suporter juga mempertanyakan urgensi pernyataan tersebut di saat tim sedang dalam performa buruk.
Akun @extratime120 memberikan saran menohok. ”Urgensine bikin posting-an seperti ini kenapa ya, Mas? Apa yang bisa dilakukan ya silakan buktikan. Masih ada laga sisa dan maksimalkan.”
#AmryOut Mulai Menggema
Tensi semakin memanas ketika beberapa akun mulai menyuarakan ketidakpuasan terhadap jajaran manajemen secara personal.
Tagar #AmryOut mulai bermunculan sebagai bentuk protes atas situasi tim yang masih tertahan di zona playoff degradasi.
Kemenangan Adalah Jawaban Terbaik
Bagi suporter PSIS, jawaban paling logis dari manajemen bukanlah retorika di media sosial, melainkan transformasi permainan di lapangan hijau.
Mengingat posisi PSIS yang belum aman, pendukung mendesak agar seluruh energi difokuskan pada sisa laga putaran ketiga.
Gelombang kritik ini menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan suporter hanya bisa dikembalikan melalui tiga poin.
Manajemen kini ditantang untuk membuktikan komitmen mereka melalui hasil nyata, sebelum tribun Jatidiri benar-benar mendingin. (dam)
Editor : Damianus Bram