Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Malas Sahur, Puasanya Tetap Sah? Ini Penjelasan Hukumnya dalam Islam

Andi Aris Widiyanto • Selasa, 3 Februari 2026 | 09:41 WIB

Sahur tidak termasuk rukun puasa, namun sangat dianjurkan untuk bersantap sahur sebelum menjalankan ibadah puasa.
Sahur tidak termasuk rukun puasa, namun sangat dianjurkan untuk bersantap sahur sebelum menjalankan ibadah puasa.

SOLOBALAPAN.COM – Pernah nggak sih merasa berat banget buat bangun sahur? Mata masih lengket, perut terasa kenyang, atau kasur seolah punya daya tarik berlipat. Alhasil, alarm dimatikan dan tahu-tahu sudah masuk waktu Subuh. Lalu muncul pertanyaan: kalau nggak sahur, puasanya tetap sah nggak ya?

Sahur memang jadi “ritual pembuka” yang identik dengan Ramadan. Di banyak daerah, suasananya bahkan terasa hangat dan khas—ada suara kentongan membangunkan warga, musik patrol keliling kampung, hingga tradisi makan bersama keluarga sebelum imsak tiba.

Namun dari sisi fikih, masih banyak yang belum paham: apakah sahur itu wajib atau sekadar anjuran?

Sahur Bukan Rukun, Puasa Tetap Sah

Baca Juga: Pagi Kelabu di Tanon: Sakila Aswaq Fauziah Tutup Usia dalam Kecelakaan Gemolong–Sragen

Dalam ajaran Islam, sahur tidak termasuk rukun puasa. Artinya, seseorang tetap sah berpuasa meskipun tidak makan atau minum saat sahur, selama ia telah berniat puasa pada malam hari dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga magrib.

Meski begitu, sahur berstatus sunnah muakkadah—sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW secara tegas mendorong umatnya untuk tidak meninggalkan sahur. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan, “Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.”

Kalimat singkat itu menyimpan makna dalam: sahur bukan sekadar urusan mengisi perut, melainkan bagian dari ibadah yang bernilai pahala.

Berkah Sahur: Spiritual dan Kesehatan

Keberkahan sahur bisa dirasakan dari dua sisi. Secara spiritual, waktu sahur berada di sepertiga malam terakhir—momen yang sangat istimewa untuk berdoa, berzikir, dan memohon ampun. Bangun sahur sering menjadi langkah awal seseorang lebih dekat dengan Allah selama Ramadan.

Dari sisi kesehatan, sahur membantu tubuh mendapatkan energi dan cairan yang cukup. Asupan yang tepat dapat menjaga gula darah tetap stabil, mengurangi rasa lemas, pusing, hingga risiko dehidrasi saat beraktivitas seharian.

Islam juga menganjurkan agar sahur tidak dilakukan terlalu awal. Waktu terbaik adalah mendekati Subuh, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Semakin dekat dengan fajar—tanpa melewati batas imsak—semakin utama nilai sahurnya.

Bagaimana Jika Terlewat?

Baca Juga: Adik Pertanyakan Sosok Ayah Ressa Rizky Rossano, Denada Kebingungan Sang Anak Selama Ini Malah Panggil 'Mbak'?

Bagi yang ketiduran atau tak sempat sahur karena kondisi tertentu, tak perlu panik. Puasa tetap sah dan tidak ada kewajiban mengganti di hari lain. Namun, melewatkan sahur berarti kehilangan satu kesempatan meraih keberkahan Ramadan.

Pada akhirnya, sahur adalah bekal—bukan sekadar bekal fisik, tapi juga bekal ruhani. Ia menguatkan tubuh sekaligus niat untuk menjalani hari dengan lebih sabar dan khusyuk.

Jadi, saat rasa malas datang menjelang dini hari, ingatlah bahwa sepiring nasi, segelas air, dan sepotong doa di waktu sahur bisa menjadi awal dari hari puasa yang lebih bermakna. (iz/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#sunnah muakkad #sahur #puasa #waktu subuh #berbuka puasa #rukun puasa #hukum sahur