SURAKARTA, SOLOBALAPAN.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan perannya sebagai rujukan pendidikan internasional.
Kali ini, UMS menerima kunjungan delegasi Angkatan Darat Kerajaan Thailand (Royal Thai Army) yang dipimpin Mayor Jenderal Sorawoot Chaiyabutr bersama sembilan staf, Kamis (8/1).
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Sidang Rektorat, Gedung Induk Siti Walidah UMS, tersebut menjadi ajang penjajakan kerja sama pendidikan bagi keluarga dan personel militer Muslim Thailand, khususnya dari wilayah Thailand Selatan.
Kedatangan delegasi Royal Thai Army bertujuan membuka peluang studi bagi prajurit dan keluarganya untuk melanjutkan pendidikan formal di Indonesia, dengan UMS sebagai salah satu kampus tujuan utama.
Program ini merupakan bagian dari kebijakan Angkatan Darat Kerajaan Thailand dalam meningkatkan kesejahteraan prajurit melalui akses pendidikan jenjang sarjana, magister, hingga pelatihan jangka pendek.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Reputasi, Dampak, Kemitraan, dan Urusan Internasional UMS, Prof. Supriyono, menyambut langsung rombongan tersebut.
Ia memaparkan profil UMS yang saat ini memiliki sekitar 35.000 mahasiswa, termasuk lebih dari 200 mahasiswa internasional, serta telah meraih akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Supriyono menjelaskan, hubungan UMS dengan Thailand sejatinya telah terjalin cukup lama. Sejak 2009, UMS secara konsisten menerima mahasiswa dari Thailand Selatan, terutama dari wilayah Yala, Narathiwat, dan Pattani, baik pada jenjang sarjana maupun magister.
“Bahkan para alumni asal Thailand kini turut berperan aktif membantu proses rekrutmen mahasiswa baru,” ungkapnya.
Sementara itu, Mayor Jenderal Sorawoot Chaiyabutr menyampaikan apresiasi atas kontribusi UMS dalam mendidik mahasiswa Muslim Thailand Selatan. Menurutnya, Royal Thai Army saat ini tengah mengembangkan program fasilitasi pendidikan luar negeri bagi keluarga militer Muslim, dengan mempertimbangkan aspek keamanan, kenyamanan, serta kedekatan budaya.
Ia juga menegaskan komitmen pihaknya untuk memperkuat hubungan kerja sama yang telah terjalin, termasuk dengan jaringan Muhammadiyah serta mitra pendidikan di Thailand Selatan.
Dalam sesi diskusi, UMS menegaskan keterbukaannya menerima mahasiswa dari Royal Thai Army pada berbagai program studi. Pilihan bidang yang ditawarkan cukup luas, mulai dari kesehatan, teknik, hukum, ekonomi, hingga pendidikan, pada jenjang S1, S2, dan S3.
Atase Angkatan Darat Kerajaan Thailand di Jakarta, Kolonel Supakarn Jindawat, mengungkapkan ketertarikan untuk menjajaki skema beasiswa dan kuota khusus bagi kalangan militer Thailand.
Ia juga menanyakan prosedur penerimaan mahasiswa internasional serta jaminan lingkungan akademik yang mendukung secara budaya.
Menanggapi hal tersebut, Kasubdit Hospitalitas Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Urusan Internasional UMS, Wijianto, menjelaskan bahwa mahasiswa internasional pada umumnya harus memenuhi persyaratan administrasi, ijazah, dan kemampuan bahasa.
Baca Juga: Proliga 2026 Resmi Bergulir, Megawati Jadi Tumpuan Jakarta Pertamina Enduro Pertahankan Gelar
Namun, melalui kerja sama institusional, UMS membuka peluang penyusunan nota kesepahaman (MoU) yang lebih spesifik, termasuk pengaturan kuota dan kemungkinan bantuan biaya studi.
Pertemuan berlangsung hangat dan konstruktif. Kedua pihak sepakat menindaklanjuti pembahasan teknis penyusunan MoU sebagai dasar resmi kerja sama. Royal Thai Army berharap kolaborasi ini tidak hanya mempererat hubungan pendidikan, tetapi juga berkontribusi nyata dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Muslim Thailand.
Pada kesempatan tersebut, sejumlah mahasiswa Thailand turut berbagi pengalaman menempuh studi di UMS. Salah satunya Nuro Sabuela, mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMS penerima beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB).
Nuro menjelaskan bahwa beasiswa KNB memberikan dukungan penuh, mulai dari biaya studi, uang saku sekitar Rp5 juta per bulan, asuransi kesehatan, hingga tunjangan buku dan kegiatan akademik.
“Lingkungan belajar di UMS cukup ramah bagi mahasiswa Thailand karena adanya kedekatan budaya,” tuturnya.
Ia juga menilai UMS sebagai kampus yang inklusif meskipun berbasis Islam.
Baca Juga: Masuk Desil Berapa Anda? Inilah Aturan Baru Kemensos 2026 yang Bikin Bansos Banyak Orang Berhenti.
“Mahasiswa non-Muslim tetap dapat berkuliah dengan nyaman tanpa paksaan dalam praktik ibadah,” pungkasnya. (an)
Editor : Andi Aris Widiyanto