SOLOBALAPAN.COM – Kabar buruk menghantam para penggawa Timnas Indonesia yang berkarier di Liga Belanda.
Dua bek andalan Skuad Garuda, Nathan Tjoe-A-On (Willem II) dan Dean James (Go Ahead Eagles), kini terjerat skandal administrasi pelik yang dikenal sebagai Paspoortgate.
Masalah ini muncul ke permukaan setelah status kewarganegaraan mereka menjadi polemik pasca-naturalisasi menjadi WNI.
Akibatnya, kedua pemain ini dilarang bermain hingga berlatih bersama klub masing-masing untuk sementara waktu.
Efek Domino Naturalisasi: Kehilangan Paspor Belanda?
Awalnya, banyak pihak mengira para pemain keturunan ini bisa mengantongi kewarganegaraan ganda.
Namun, fakta hukum di Belanda berkata lain. Begitu resmi menjadi WNI, mereka dianggap melepaskan paspor Belanda mereka.
Perubahan status ini membawa konsekuensi fatal di level kompetisi Eropa.
- Status Non-Uni Eropa: Nathan dan Dean kini terdaftar sebagai pemain asing asal luar Uni Eropa.
- Izin Kerja Khusus: Sebagai pemain non-Uni Eropa, mereka wajib memiliki izin kerja (work permit) khusus dengan standar gaji yang lebih tinggi.
- Ilegal Bermain: Selama dokumen izin kerja baru belum terbit, mereka dilarang keras terlibat dalam aktivitas kompetisi resmi.
Baca Juga: Usai FIFA Series, Ini Kalender Lengkap Timnas Indonesia 2026: Ambisi Kawinkan Dua Gelar Juara ASEAN!
Klub-Klub Belanda Melayangkan Protes
Skandal ini kian memanas setelah beberapa klub lawan merasa dirugikan. NAC Breda secara resmi melayangkan protes karena menganggap Go Ahead Eagles memainkan "pemain ilegal" saat menurunkan Dean James.
Tak ketinggalan, TOP Oss juga ikut menggugat hasil pertandingan melawan Willem II karena Nathan Tjoe-A-On sempat tampil sebelum masalah paspor ini terendus.
Untuk menghindari sanksi lebih berat, klub papan atas seperti FC Emmen bahkan memilih memarkir pemain mereka yang berstatus serupa hingga situasi benar-benar klir.
Nasib Nathan Tjoe-A-On di Willem II
Kabar terbaru menyebutkan Nathan hampir pasti absen dalam laga krusial melawan Jong PSV.
Pihak Willem II sendiri mengonfirmasi bahwa proses pengurusan dokumen sedang berjalan, namun birokrasi di Belanda yang ketat membuat waktu penyelesaiannya belum bisa dipastikan.
Jika masalah ini berlarut-larut, dampaknya akan buruk bagi para pemain, dimana mereka bisa kehilangan menit bermain. Pemain kehilangan ritme kompetisi di fase krusial liga.
Kondisi ini juga bisa menjadi hHambatan karier, dimana klub Eropa mungkin akan lebih selektif merekrut pemain Indonesia karena rumitnya aturan non-EU.
Selain itu, hal ini juga bisa menjadi ancaman performa Timnas Indonesia. Jika jarang bermain di klub, kebugaran mereka saat dipanggil Timnas Indonesia akan menurun drastis.
Kini, para pecinta sepak bola tanah air hanya bisa berharap proses birokrasi di KNVB dan otoritas Belanda bisa segera tuntas.
Jangan sampai urusan dokumen menghancurkan mimpi para pemain Garuda untuk terbang tinggi di Eropa. (dam)
Editor : Damianus Bram