SOLOBALAPAN, OLAHRAGA — Kekecewaan mendalam merundung para pendukung setia Persis Solo usai tim kebanggaan mereka dipastikan terdegradasi ke Liga 2.
Kekecewaan ini tak hanya memicu aksi vandalisme di sejumlah fasilitas klub, tetapi juga memperuncing ketegangan karena hingga kini belum ada komunikasi resmi yang terjalin antara manajemen dan pihak suporter.
Merespons situasi yang kian memanas, kelompok suporter Persis Solo mendesak adanya ruang dialog terbuka untuk membahas masa depan dan pertanggungjawaban dari jajaran owner Laskar Sambernyawa.
Menanti Turun Tangan Wali Kota Solo
Presiden DPP Pasoepati, Jodi, mengungkapkan bahwa hingga Senin (25/5/2026) siang, belum ada kepastian terkait agenda pertemuan dengan pihak owner.
Ia menegaskan bahwa pihak suporter enggan berkomunikasi langsung dengan manajemen, termasuk dengan petinggi klub, Ginda Ferachtriawan.
Sebagai langkah mediasi, Pasoepati kini menggantungkan harapan kepada Wali Kota Solo, Respati Ardi, untuk menjembatani komunikasi antara suporter dan jajaran pemilik klub.
“Belum ada konfirmasi dari Mas Wali, Mas. Kami berharap Mas Wali bisa menjembatani pertemuan antara suporter dengan owner. Kami berharap dari Wali Kota bisa menjembatani selaku pemangku kekuasaan tertinggi di Pemkot Solo," tegas Jodi.
Meski demikian, hingga siang hari, ajudan Wali Kota Solo belum dapat memastikan jadwal ataupun kemungkinan terselenggaranya pertemuan krusial tersebut.
"Bom Waktu Tidak Pernah Berisik"
Situasi yang menggantung ini membuat sejumlah pihak mengkhawatirkan adanya aksi demonstrasi atau mobilisasi massa lanjutan dari kelompok suporter dalam waktu dekat.
Namun, Jodi memastikan bahwa untuk sementara waktu, Pasoepati belum memiliki agenda aksi jalanan.
Ia menilai pengerahan massa akan sia-sia apabila pihak pemilik klub tetap menutup diri.
Meski tidak ada aksi terbuka, Jodi memberikan peringatan keras bahwa sikap tenang suporter saat ini bukanlah bentuk pembiaran terhadap nasib buruk Persis Solo.
“Tidak ada (aksi), Mas. Percuma aksi kalau owner sendiri tidak mau bertemu dengan kami. Tapi jangan anggap diam kami sebagai pembiaran. Bom waktu tidak pernah berisik,” tandasnya melempar sindiran tajam.
Jejak Pahit Degradasi Persis Solo
Kegagalan Persis Solo mempertahankan posisinya di kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim ini menjadi pukulan telak bagi publik Kota Bengawan.
Laskar Sambernyawa harus menutup kompetisi dengan finis di peringkat ke-16 klasemen akhir.
Berikut adalah catatan statistik dan fakta di balik terdegradasinya Persis Solo musim ini:
-
Rekor Pertandingan: Dari total 34 laga yang dijalani, Persis hanya mencatatkan 8 kemenangan, 10 hasil imbang, dan 16 kekalahan.
-
Kalah Head to Head: Persis sebenarnya berhasil mengoleksi 39 poin, jumlah yang sama persis dengan PSM Makassar yang aman di peringkat ke-15. Ironisnya, Persis harus turun kasta karena kalah dalam perhitungan head to head serta produktivitas gol dibandingkan skuad Juku Eja.
-
Kawan Turun Kasta: Persis Solo terdegradasi bersama dua tim papan bawah lainnya, yakni Semen Padang (20 poin) dan PSBS Biak (18 poin).
Kini, tugas berat menanti Persis Solo. Evaluasi menyeluruh dan perombakan total menjadi harga mati jika Laskar Sambernyawa ingin bangkit dan kembali ke habitat aslinya di level tertinggi sepak bola nasional.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo